Rabu, 14 November 2018

Kamu(Flase) Untukku


Kamuflase terbaik dari sebuah luka adalah bahagia. Tangis menjadi tawa. Cemas menjadi tenang tak berbatas. Rindu, menjadi temu yang berbalas. Dan Cinta mengudara menebar aroma bahagia.
Cinta berperan penting disana. Dalam kehidupan kita. Tergantung kita pula bagaimana memaknai itu semua. Menjadikannya obat, atau bius yang membawa penyakit semakin tak terlihat. Hingga kala tersadar, kita malah menyaksi luka semakin lebar menganga. Bukan menyembuhkan, tapi malah memperparah keadaan.
 Cinta berperan penting disana. Mengubah segala hal menjadi tidak lagi biasa. Sama seperti  aku yang hari ini memaknainya sebagai semangat dalam diriku. Semangat untuk tetap menjalani hari dan menghabiskan sisa waktu, meski apapun yang terjadi nantinya. Aku yakin akan baik-baik saja. Sebab cinta telah merubah aku yang dahulu dan aku yang sekarang.
Kini bukan lagi persoalan siapa aku dan kamu. Tapi tentang aku yang sudah yakin memilih, namun sering kali berkecil hati. Sering sekali. Pilihanku berujung diam dan tak lagi banyak bercerita tentang tiap-tiap hujan yang datang di penghujung malam. Sama seperti ketika kutulis ini semua, aku sedang menangis tepat di 12.30 menuju awal pagi. Menangisi aku dan kamu di masa depan. Sendiri berteman malam pekat yang dingin, di tengah lelapnya orang-orang shalihin. Siapapun kamu. Kamu begitu penting bagiku.

Tak mengapa semua mengundang tanya, aku hanya ingin kamu mengerti. Meski banyak sekali orang-orang yang kemudian anti. Tak lagi menaruh simpati. Banyak sekali orang-orang yang anti padaku, menjauhiku, dan menganggap hina aku yang memang sudah kecil jiwanya. Tak mengapa pula bila pada akhirnya aku akan di asingkan tersebab ini semua. Kekeliruan yang tak aku antisipasi dahulu sebelum semua ini terjadi padaku.Tak mengapa. Sebab pada Allah aku telah mengikhlaskan segala hal yang terjadi dalam hidup ini. Pesantren yang berbeda, Ruh yang selalu ingin belajar, mata yang tak pernah berhenti melukis nanar. Sebab aku yang dulu memang sudah berbeda dengan yang sekarang. Mengertilah.
Cinta mengubah segalanya. Mengubah segala hal dalam hidupku. Mengubah lelaki dalam diriku. Mengubah segala ketakutan menjadi segudang harapan dalam keyakinan. Mengubah putus asa menjadi jiwa penuh gelora. Mengubah segala tandus, menjadi subur sejuk bersahaja. Bahkan amat menggugah bahagia, kala semua yang terencana berbuah sama tanpa ada satu halpun yang mengandung beda. Tapi ini khayal, belum nyata. Meski kian hari aku terus mendoa perihal kita yang jauh berbeda. Dengarkan, dan maafkan aku yang seperti ini.
Tidak ada hal yang paling berharga, selain berkamuflase menjadi lebih baik dari hari kemarin. Bukankah kita akan masuk kedalam golongan orang-orang yang kemudian berntung, tersebab telah mampu mengubah diri untuk lebih baik. Mengerti atau tidak, tapi kamuflase ini memang penting dalam setiap sisi hidup kita.
Ada satu hal yang sederhana, lucu, namun sebenarnya sedang aku damba. Kembali pada keadaan dimana tubuhku tidak segemuk ini. Hehe. Ah, kamuflase memang penting. Tapi tidak sesadis ini juga, mengubah aku yang kecil, menjadi subur mendadak. Entah apa sebabnya. Katanya tanda bahagia. Memang bahagia, tapi jangan begini juga. Hehe.
Padamu tuan masa depan, lagi-lagi aku harus mengingatkan diri untuk tidak lupa kembali pada proses memperbaiki. Untuk menjamu episode paling istimewa saat kamu ada disana. Sebelum semangat merenta, sebelum gagahku melemah untuk menggelorakan kebaikan. Sebelum terlambat untuk mengukir prestasi di langit peradaban. Sebelum aku mati tanpa hal-hal yang berarti. Jangan lelah, aku berjuang, kamupun berjuang. Hanya berbeda pada keadaan. Aku berjuang memperbudak fisik, kamu berjuang menjaga hati. Demikian kan? Sederhana, tapi berjuta makna.
Nanti, mungkin kita akan tersandung pada hal-hal yang kontradiksi, pada perbedaan-perbedaan yang penuh dengan negosiasi. Pada debar degub yang memenuhi sesak didada. Pada segala asumsi yang berujung antisipasi. Namun tak mengapa, justru disana pula kita akan belajar memahami beda. Menyatukan segala persepsi menjadi gagasan yang terealisasi. Menyatukan pandangan, pada segala hal yang mengundang tanya. Pada apa saja yang membawa kita menjadi seorang pembelajar.

Dengarlah. Soal pertemuan kita nanti, ini hanya soal waktu. Hanya soal jarak yang membatasi kita, menjadikan semua seolah tiada. Meski pertemuan kita kelak niscaya atau tidak. Kita hanya punya satu kunci membuka taabir itu semua. Yaitu percaya. Kita hanya perlu percaya. Bahwa Allah sesuai prasangka hambaNya. Bahwa Allah Maha mengabulkan segala pinta dan keyakinan. Maka sekali lagi percayalah.


Aku telah memilih menujumu, meski akan tiba saatnya. Kamu akan megujiku dengan pilihan yang berbeda. Berbeda dari aku yang tulus memilihmu.
Bagi lelaki yang berkecil hati sepertiku, tak ada cita paling besar. Selain menuju tua dengan ibadah yang sempurna. Bisa jadi bersamamu. Maka biarkan kita Berkamuflase. Kamu(flase) Untukku. Untuk Segenap CINTA.


Rabu, 07 November 2018

Pemuda Yang Hilang



            Setiap orang punya tempat dan saat-saat istimewa yang menenangkan, termasuk pula aku yang payah ini. Tidak ada yang paling berkesan dalam hidup, selain di hadapkan pada satu episode paling menenangkan oleh-Nya. Dan hal istimewa yang menenangkan itu kutemui saat aku ada bersamamu. Bukan, bukan saat kita sedang berdua dalam sepi penuh maksiat dan terjerat oleh godaan iblis terlaknat. Namun saat ku temui kamu masih dalam keadaan baik, di tempat yang baik, dan di sisa waktu yang baik pula. Hal itu meyakinkanku bahwa sampai detik ini aku masih layak berjuang menujumu, sebab di sana kamu masih baik-baik saja. Dan inilah hal istimewa yang berharga bagiku. Menujumu, dan bertemu pada satu waktu. Saat kamu ada disini nanti, menemaniku dan aku memastikan kamu terjaga.
            Aku memang tak istimewa, sebab kitapun saling kenal tanpa sengaja. Dan hari ini aku tak tau kamu dimana. Aku tak tau siapa dirimu. Dan kamupun tak tau seperti apa celakanya aku. Tapi meski demikian, ada satu hal penting tentang aku yang payah ini. Bahwa bagiku, bersamamu aku merasakan satu hal yang berbeda. Amarahku mereda, egoku perlahan sirna, dan peduli selalu terasa berlebih untukmu yang bukan siapa-siapa. Meski mungkin suatu waktu akan jadi apa-apa. Aku mungkin akan merasa lebih baik saat kamu ada disini bersamaku. Mengerti tentang aku yang seperti anak kecil. Tentang aku yang selalu bertingkah bodoh. Tentang aku yang seperti tak tau apapun tentang makna dan arti kehidupan ini.
            Mungkin sesekali kita memang perlu adil pada diri sendiri. Tidak berbohong, dan mengiyakan bahwa kita sedang rindu, sedang tidak baik-baik saja. Rindu pada satu pertemuan dimasa depan. Tapi disisi lain memang benar, banyak bercerita bukanlah solusi untuk satu permasalahan inti pada hati yang gelisah. Pada diri yang cemas tak berarah. Insyafilah bahwa dengan mendekat kepada-Nya, adalah jawaban paling menjamin untuk kemudian kita tidak kecewa dengan apapun yang terjadi nantinya. Apapun keadaannya. Apapun ketetapan dari-Nya. Ah, ini perihal apa? Siapapun kamu pasti bertanya-tanyakan. Apa yang ku maksudkan sebagai seorang penulis disini. Terus terang ini perihal aku yang penuh khawatir tentang sesuatu pada kita yang bukan siapa-siapa dan tak saling kenal pula. Berulang kali kuingatkan diri untuk sabar dalam menuju, jangan tergesa. Berulang kalipula masadepan memanggilku untuk segera datang menemuimu. Iblis. Terlaknatlah engkau atas semua panah beracunmu ini. Terlaknatlah engkau. Ah. Naif sekali aku yang lemah ini.
            Untukmu yang saat ini jauh dari kehidupanku, yang sosoknya masih Allah rahasiakan di oase kehidupan mendatang. Ketahuilah tentang aku yang sedang tidak baik-baik saja disini. Meski dalam prosesnya, aku terus berusaha menjadi baik. Tapi tak pernah benar-benar merasa baik atas apapun atau sesuatu yang ada saat ini. Maafkan aku yang tak memaksimalkan diri. Ah, bukan, bukan begitu. Mungkin aku sedang lelah berjuang saat menulis ini semua. Mungkin aku sedang luka kala bercerita kepadamu saat kamu baca ini semua. Tapi aku tetap berjuang, aku tetap mempersiapkan yang terbaik  untukmu apapun yang terjadi nanti. Percayalah padaku. Percayalah untuk semua janji Allah bahwa kita akan bertemu, asal kita ikhlas menerima segala skenario yang –Dia buat.

            Lelaki dalam diriku selalu cemas, bukan mencemaskan kita yang tidak bertemu nantinya. Namun mencemaskan satu hal yang pasti datang tanpa permisi, kematian. Ya kematian. Takkah kamu pun cemas seperti halnya aku. Khawatir, saat semua kesiapan terbaik menujumu sudah kususun rapi untuk terwujud, malah aku lupa mempersiapkan satu hal penting untuk kematianku nantinya. Lagi-lagi aku perlu banyak belajar hal penting dalam hidup ini. Di ingatkan orang-orang shalih tanpa jeda setiap waktu. 
Aku yang labil dan penuh lupa ini selalu butuh penguat, selalu butuh teman untuk bercerita seputar penat, dan mengobati segala keluh yang kurasa. Maukah kamu menemaniku lebih lama? Siapapun kamu?
            Mungkin ada saatnya aku di sini ragu tentang kamu yang apakah juga menujuku, sama halnya denganmu yang juga sedang bertanya di belahan bumi lainnya. Sedang apa aku, atau masihkah aku berjuang mempersiapkan sesuatu yang istimewa untukmu. Tenanglah, semoga semua baik-baik saja. Tak perlu tergesa, sampai Allah mengatakan tiba waktunya. Allah janjikan kala aku terjaga, kamupun akan sama terjaga pula. Kala kamu berjuang memperbaiki diri, maka akupun sama berjuang memperbaiki diri. Maknanya kita hanya perlu totalitas menuju Allah dulu, segalanya hanya untuk Allah saja. Maka saat di tengah perjalanan Allah sudah menetapkan kita butuh teman berjuang menuju-Nya, melihat kita yang mulai kian butuh penguatan dari-Nya, maka temu kita adalah wujud nyata dari penguatan yang Allah berikan untuk semasing kita. Tenanglah. Semua pasti baik-baik saja.
            Hidup di lingkungan baik, dengan orang-orang baik, dan menjalankan kebiasaan-kebiasaan baik, tentu menjadi salah satu ikhtiar yang kita lakukan untuk memperbaiki diri. Memaksimalkan proses yang kita miliki.
            Saat tak banyak interaksi dengan lawan jenis, saat tak banyak waktu yang sia-sia terbuang tanpa kegiatan yang bermakna, saat menemui raga yang lelah di dalam keadaan yang masih bersyukur dapat berjuang, saat tersenyum kala ujian menderai hebat datang menghampiri, saat sabar pada pilihan yang berat untuk di pilih, dan saat mencoba tak bersentuhan dengan lawan jenis. Ah semua itu perjuangan. Menuju kamuflase pribadi yang lebih baik dari hari kemari.
            Dan satu makna tentang setia ada disana, bahwa tak menyentuh siapapun yang bukan mahramnya adalah wujud realisasi dari setia. Terjaga. Kamu tau bukan, tuan putri dimana saja, sulit sekali untuk kita dapat menemuinya dengan mudah. Jangankan untuk menyentuh, melihatnya saja mata kita amatlah sulit. Sebab ia terjaga dalam kastil istana yang megah. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menemui dan bertatap langsung dengannya. Hanya suaminya, orang tua nya, anak-anaknya, atau bahkan sebagian mereka juga kesulitan saat meminta untuk menemui sang tuan putri. Memang begitu bukan?
            Dan bagiku, kamu lebih berharga dari seorang tuan putri. Maka terjagalah. Begitupun halnya aku, yang mencoba tak banyak berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahramku. Semaksimal mungkin. Tak akan ada celah, demi kamu yang tidak akan kecewa kala kita bertemu nanti menyaksikan aku yang masih terjaga untuk-Nya dan untukmu. Karena memaknai setia bagiku hanya ada cukup satu nama dihati, cukup hanya satu saja yang bersandar di bahu ini, cukup hanya satu saja yang segala kekurangannya akan aku lengkapi, dan cukup hanya satu saja yang dengan setia menemani perjalanan panjang yang kuhabiskan bersamanya nanti. Semoga, Aku selalu berusaha setia menujumu saja.

            Lalu seandainya semua akan berbeda dari yang kita harap, bukan aku temanmu, bukan kamu takdirku, dan kita berakhir tidak dengan temu. Apa yang bbisa kita lakukan selanjutnya bila bukan saling mengikhlaskan. Karena lagi-lagi Allah pula yang maha mengatur dan menetapkan segalanya, segala sesuatu yang menjadi takdir kita. Tak akan mustahil bila pada akhirnya akupula yang menjadi seorang yang ada dalam judul ini. Seorang yang membawa lelaki lusuh dalam dirinya untuk ikhlas menerima segala takdir dan ketentuan dari-Nya. Lalu perlahan hilang tanpa kabar atas kematian.

            Tapi tenanglah, aku tidak berhenti disini. Tidak putus asa pada segala kemungkinan yang masih bisa terjadi. Atas sebuah keniscayaan pada pertemuan kita. Aku masih percaya pada kekuatan doa dan ikhtiar. Merekalah caraku menyampaikan pesan pada Allah agar kita bisa hidup bersama. Agar kamulah rumah untukku mengistirahatkan segala lelah yang ada. Aku percaya pada doa dan ikhtiar. Sebab kamu pun samakan? Sedang berdoa dan berikhtiar untuk satu pertemuan tentang kita.
Aku sudah berjanji pada diri, tak akan menjadi “Pemuda Yang Hilang” sebelum waktunya pulang tiba. 

Pulang kehadapan-Nya.



Dibawah langit cerah, 

-Mbul

Selasa, 12 Juni 2018

Dengarkan Aku..




“Persoalan Cinta, wajah bukan lagi alasan untuk siapapun mulai memiliki”

Ah, naif memang kala lidahku keluh mengatakannya lewat tulisan. Bagaimana bisa, sementara wajahmu sering kali hadir dalam sujudku. Terdetak lewat do’a, mengurai tanya tanpa jawaban. Kamu ini sebenarnya siapa?
Berulangkali kita dipapasi waktu, meski aku selalu tau caranya menjaraki diri denganmu.  Tapi, adakalanya akupun lupa. Tercuri celah oleh iblis. Cedera, ah. Aku atau kamu. Kitalah yang pada akhirnya mulai cedera. Maka pada tiap kesempatan, meski akupun terjebak sendiri. Selalu kucoba menenangkan keadaan tanpa sepatah katapun. Begitulah aku ini. Kamu boleh kebingungan, menaruh sejuta prasangka, dan menjatuhi benci dalam hati. Tapi aku tetap takkan luluh. Sampai kapanpun, akulah yang tak akan mudah tertebak. Tak akan terdeteksi oleh radar siapa saja. Terlebih oleh kaummu itu. Oleh orang-orang sepertimu. Meski akulah yang paling kehabisan emosi.
Kepadamu yang baik hatinya, kala kamu baca tulisan ini mungkin akan terasa asing. Tapi meski bagaimanapun bentuknya, dan sesulit apapun kamu paham tentangnya. Aku lebih dulu mengatakan terima kasih atasmu, telah sudi menyempatkan waktu untuk membuka. Ada waktunya kamu akan mengerti akanku yang payah ini.
Dimulai dari mana saja. Kamu akan tetap menjadi berarti untukku. Seorang adik, kakak, atau teman berjuang sekalipun kamu mampu memposisikan diri. Istimewa sekali. Bahkan yang paling aku tidak mengerti, semangatmu tak pernah padam, pedulimu kadang keterlaluan, seringkali menjelma candu pada  diriku. Dan aku jadi cemburu, kala ternyata hatiku menyadari bukan padaku saja pedulimu bersemayam mewah. Ah, kamu keterlaluan. Aku jadi malu sendiri. Tak mampu mengimbangi sosokmu. Seorang yang kamu bawa dalam dirimu.
Tapi, adakalanya aku akan menjadi berbeda dalam beberapa waktu. Meski seperti apapun kamu perduli. Meski sedalam apapun kamu memahami. Tetap kembali aku tegaskan kepadamu. Akulah seorang yang akan selalu tak mudah untuk di tebak. Meski setinggi apapun mengawang-awang di janjikan bahagia.
Aku tau, sakit sekali kecewa. Sulit sekali tersenyum sembari menahan luka. Memang begitu, kita tak mampu melakukan dua hal dalam waktu yang bersamaan. Apalagi harus menyembunyikan perih dalam senyuman. Sekelas raja sekalipun, akan sukar melakukannya. Apalagi bagi seorang yang rentan sekali sepertimu. Seperti kita. Tapi tidak mustahil jikalau kita mampu kebal pada apapun yang terjadi. Mampu bertahan pada komitmen diri sendiri. Atau tidak jatuh pada duri-duri milik orang lain. Kita akan baik-baik saja.

 Dengarlah. Aku memerhatimu. Aku mendengar meski suaramu lirih sekali mengadu. Aku tak akan pernah jauh, meski seringkali kamu merasa demikian. Aku tetap disini saja. Seperti sebelumnya yang pernah aku janjikan. Aku takkan pergi sebelum waktu. Karena kita sudah teman sejak saat itukan? Kita pernah sepakat disini. Dan aku tidak akan mengingkari. Cermatilah mulai detik ini juga. Selepas kamu dengar aku yang payah ini.


Selama kita hidup dan berjalan di muka bumi. Kita tak akan mampu mengingkari berbagai hal akan terjadi. Kita tak akan sanggup membatasi diri dari luka atau bahagia. Meski keduanya adalah pilihan. Tapi bagiku keduanya juga tak bisa kita tetapkan sesuka hati. Cermatilah. Kita tak akan mampu membuat orang lain senantiasa suka dengan kita,  sepakat atas pendapat kita, setuju dengan ingin kita, atau searah dengan pikiran kita. Tak akan bisa. Sekalipun nantinya kita menebar sejuta pesona, atau diam menahan jiwa dari celaka. Semua orang akan tetap sama. Ada yang suka dan adapula yang pro-kontra. Selalu begitu bukan? Akan ada golongan kanan dan kiri. Golongan orang-orang patah hati, kecewa dan luka. Dan golongan orang-orang yang tegas, istiqomah, sabar, dan bersahaja. Lalu kita ada dimana?
Kita pernah komitmen untuk berjalan, tidak peduli di sapu badai atau hujan, di jamu pelangi atau luka tanpa tepi. Kita akan tetap berjalan. Meski menuai terjal atau jalan mendatar. Karena kita sama mengerti. Bagi seorang da’i, para pejuang kebaikan. Pujian dan hinaan buahnya sama saja. Ia menyimpan ujian. Itu sebabnya nasihat ini terus terngiang. Tidak membumbung kala di puji, dan tidak hina kala di caci. Ah, lemahnya diri kala akupun tak mampu menyanggupi sendiri. Kadang termakan keduanya berapi-api. Sebab memang rentan sekali untuk kita yang tak mampu sempurna menterhijabi diri.
Kita pernah komitmen disini, apapun situasinya maka kita akan tetap sama. Menasehati, peduli, saling terjaga, dan di akhir adalah konsisten untuk saling mengingatkan. Pada point akhirlah yang membuat aku bertahan hingga detik ini. Di ingatkan olehmu. Selalu. Baik kala jatuh atau di bumbung bahagia. Selalu ada kamu disana. Tersenyum dengan segenggam harapan, dan aku yakin semua akan baik-baik saja. Cermatilah sekali lagi. Bahwa kamu selalu berhasil membuatku terjaga, kala yang lain hanya mampu melemahkan. Bahkan kala kurasa sekarat sudah ada di pelupuk mata. Kamu tak pernah absen menanyai kabarku yang payah ini. Menguatkan jiwa yang kerontang dari harapan. Menenangkan hati yang cemas atas iman yang mengerdil.  Ah, naif sekali untuk kamu peduli aku yang bukan apa-apa.
Tapi, sekarang akulah yang di lempar tanda tanya yang amat besar. Kala pergimu tanpa permisi, kabarmu sebatas senyum tanpa arti. Dan sebisanya aku tak banyak menaruh prasangka. Meski kini aku harus menguatkan diri sendiri. Tak mengapa. Karena-Nya aku yakin semua baik-baik saja. Kamupun mengatakan demikiankan?
Kamu pernah bertanya, kenapa aku ingin kamu membenciku? Atau kenapa aku menjadi dingin padamu dalam beberapa waktu lalu. Maka ku tegaskan di sini. Aku tak punya maksud apa-apa. Aku tak mampu menebar jawaban dalam tanya-tanyamu. Aku hanya sedang menentukan pilihan. Dan aku sudah memilih yang terbaik untukku. Terlebih juga untukmu. Kita adalah sekumpulan prasangka milik orang lain. Apapun yang kita lakukan. Oranglain lah yang mengomentarinya. Untuk itu aku paham. Segala kata yang mengudarai kita adalah aku penyebabnya. Adalah aku pemicunya di antara kita. Memupuk banyak benih-benih dosa. Kamupun jadi terlibat di dalamnya. Cedera. Kita tak boleh lebih jauh di dera. Dan, aku selalu tau caranya menghukumi diri sendiri. Inilah yang ku maksudkan. Aku tak akan membuka diri untuk siapapun. Kecuali kamu mau memahamiku dari sini saja.

Aku tau caranya menghukumi diri sendiri. Termasuk perlahan membuatmu jauh dariku, membenci aku yang payah ini. Meski jauh di sini, aku ragu untuk memalingkan diri. Ah, demi kebaikan. Apapun konsekuensinya akan ku tembus. Kala meyakinkanmu sulit sekali. Maka ku yakinkan diriku bahwa kamu benar sudah tak lagi berdamai denganku. Maka pada orang-orang terdekatmu ku ulas kembali. Bahwa aku sudah jenuh berurusan denganmu. Bahwa aku sudah jera denganmu. 

Orang-orang terdekatmu pula adalah caraku meyakinkan bahwa aku benar-benar ingin kamu jauh dengan caraku. Meski kamu sulit sekali mengerti, aku ingin kita baik-baik saja. Aku ingin kita terjaga semasingnya. Siapapun kamu. Siapapun namamu. Cermatilah. Beginilah caraku menjaga orang-orang di sekitarku dalam kebaikan. Meski aku akan salah di mengerti. Meski aku harus kehilangan puji. Meski aku akan menuai sejuta caci. Tak mengapa. Asal mampu menebus kesalahanku atas tersesatnya dirimu. Atas tersesatnya siapapun olehku. Karena memang duriku lebih banyak melukai. Dan sekali lagi ku katakan, seperti inilah caraku menghukumi diri. Dan membuatmu terjaga dari aku yang payah ini. Membencilah untukku. Mungkin juga inilah caraku mendewasakanmu sebagai seorang teman. Teman yang aku cintai karena-Nya. Dik.
Pada iman yang terombang-ambing berbelantara, pada amal-amal yang terluka, pada serpih-serpih harapan tanpa sisa. Pelik sekali, kala sendiri lebih menyadarkan hati bahwa naif ini telah membumbung tinggi. Maka bagiku, menghinakan diri di hadapan manusia adalah salah satu cara agar tidak terpancing fitnah dunia. Dan angkuh pada sesuatu yang kita punya. Ah, naifnya diri ini. Kerdil sekali aku ini kan?
            Kepadamu yang memutuskan pergi sendiri, maafkan aku yang tak selalu menyedia bahu untukmu. Karena sesempurna apapun kamu menuntut pribadiku. Aku tak akan mampu terjaga seperti yang kamu inginkan. Inilah aku, dan kamu akan tetap sama bagiku.
Ketahuilah sekali lagi. Cermatilah. Di jalan kebaikan, ada banyak luka yang akan kita terima, akan banyak duri yang siap kita jejaki, tak terhitung dalamnya terjal yang akan kita lalui. Terlebih tak akan ada habisnya itu semua. Belum lagi badai cacian, terpaan fitnah, dan peliknya salah paham akan kita hadapi. Ada masanya. Dan kita sedang di hadapkan pada itu semua. Mengertilah. Kembalilah pada niatan kita. Karena-Nya kita bertemu dan berjuang di sini. Apapun deritanya kita akan tetap ada. Tidak peduli di awal atau akhir, cerita kita akan tetap sama. Meski kamu telah memutuskan berhenti lebih dulu. Tapi tak mengapa, sebisaku akan menyeimbangkan langkahku sendiri. Dengan atau tanpa kita sekalipun, jalan ini akan tetap berlanjut. Itu yang aku yakini. Dan aku tidak berhenti meski seperti apapun ujiannya. Karena, disinilah prosesku berjalan. Disinilah jiwaku bersemayam. Dan disini sajalah dulu aku belajar. Kamu, maukah kamu tetap disini saja menemaniku lebih lama? Membina rumah hati bersama.
Betapapun kita kecewa, di hujani luka, di saji murka dan caci, bahkan di jauhi tanpa alasan pasti. Sakit memang, bak tertelan bumi seketika. Tapi sebagai seorang pembelajar, kita pula adalah orang yang layak untuk tetap berbaik sangka pada siapa saja. Bahkan pada yang melukai kita sekalipun. Tidak mustahil, selagi kita mampu bertahan dan berbesar hati. Kamu tau, tapi masih saja lupa. Sekali lagi, hinaan dan pujian itu sama saja. Dan selagi niatan kita Lillah, maka penilaian manusia tak layak jadi tolak ukur baik buruknya kita. Bukan alasan logis untuk kita memilih berhenti dari jalan kebaikan. Ah, duhai diri.
Kala kritik dan nasihat terasa pedih menderai kita, bisa jadi hati kitalah sedang dalam masalah. Bahkan kalimat lembut dan apikpun serasa bagai luka. Bisa saja demikian. Sebab iman yang melemah rentan sekali memberi celah pada iblis untuk menguasai kita. Lalu terjauhlah kita dari kebaikan-kebaikan yang sebelumnya ada. Duh, kepadamu yang baik hatinya. Maafkan bila nasihatku kadang masih terasa bagai duri.

Tapi disini kembali aku ingin kamu cermati baik-baik, dengarlah, perhatikan apa yang aku kata. Bahwa di sekitar kita banyak sekali cinta bersemayam dan tertuju pada diri kita. Meski kita tak sadar akan itu semua. Dengarlah. Betapa banyak orang yang memiliki Cinta dan kasih sayang. Namun sulit sekali mereka mengutarakannya.
Ada yang mampu dengan komplitnya menyampaikan cinta lewat nasihat dan perilaku. Ada pula yang hanya sempurna tersampai lewat kata kala menasehati, namun tak mampu mewujudkan cinta dalam perilaku. Ada pula yang kata-katanya pedas tanpa tepi, namun begitu lembut kala menyampaikan cinta lewat perilaku. Adapula lagi yang begitu tak mampu akan keduanya dalam menyampaikan perasaan cinta dalam diri. Cacat sekali. Ucapannya kasar, dan perilakunya berantakan. Namun jauh di hati, cinta membuncah untuk di nyatakan dalam nasihat dan laku yang sempurna. Itulah manusia. Kita tak utuh sama. Semuanya berbeda. Dan tergantung kita bagaimana menyikapi kondisi pada setiap hati. Inilah yang kumaksudkan juga, sebagai kekuatan baik sangka. Mengubah benci jadi baik hati. Mengubah yang luka jadi baik-baik saja.
Ah, terberkahilah pribadi-pribadi kita ini. Bila sedetik saja kita mau menurunkan ego dalam diri. Bila saja kita mau menginsyafi, bahwa terdapat cinta dalam nasihat. Maka terbangun kokohlah menara kebaikan pada hati-hati kita. Tiap-tiap ruang diri kita.
Maka mendengarlah lebih luas, lebih banyak lagi. Biarkan hatimu bicara dan menerima orang lain. Maka mendengarlah lagi.


Dengarkan aku.
Si Pena Kecil.

Kamis, 29 Maret 2018

Move On



Tanpa modal yang baik, kita tak akan mampu menghasilkan sesuatu yang berarti. Begitu pula halnya hati, perilaku, dan mental yang ada di dalam diri kita. Tanpa energi-energi positif yang menguatkan kita, kita tak akan pernah nyata terbentuk menjadi sesuatu seperti yang sebenarnya. Ayah, Ibu, Kakak, Adik, Teman-teman, Sahabat dakwah, Murobbi, dan siapapun yang hadirnya memberi pengaruh besar untuk kita. Merekalah sumber dari energi-energi positif itu.
Sayup-sayup sebelum hujan turun, kamu meminta untuk menemuiku. Aku bahkan masih terlalu kaku saat menuang segelas susu lalu dengan terbata kamu meminta waktu padaku. Silahkan. Datanglah, tanpa panjang lebar aku mengiyakan apa yang kamu mau. Mendung kadang memang suka menyajikan oase tanpa kata, ia bergerak. Tanpa jeda membalut dingin di sekujur tubuh kita. Dan perlahan kitapun malu pada waktu, mencari bentuk dari matahari yang menjelma pada secangkir hangatnya susu. Ah, Apa yang tersaji di depan meja kerjaku memang pilihan terbaik untuk menenangkan diri. Menterjagakan kita dari keluh berisi serapah, atau cela dalam pinta. Sebab mendadak di payungi mendung memang menjadi tak nyaman bukan. Meski sebenarnya, mendung yang paling gelap sekalipun belum nyata akan menumpah hujannya pada saat itu juga. Nikmati saja.
Kini kamu datang, seorang yang izinkan ku sebut namamu mulai detik ini sebagai Dik. Seorang yang ku terjagakan kamu dalam doa. Meski aku tak pernah sempurna untuk menjadi pemerhatimu dalam tiap-tiap detik yang ku habiskan. Sebagai orang yang jauh dari keterjagaan, maka aku siap mengganti diri menjadi yang berani menjagamu mulai detik ini.
Kusam, wajahmu menaruh praduga apapun dalam diriku. Setengah sesak pelan-pelan kamu urai tentang apa yang kamu pikirkan. Ceritalah kataku. Bicaralah lirihku. Bila kamu masih ingat malam itu, tentu aku lebih banyak diam dan mengiyakan semua keluhmu, semua karena aku ingin kamu terkuatkan saat ada yang menyaksi lewat mata dan mendengar semua kesalmu.
Kamu tumpah, semua terbaca saat ku raba apa saja yang kamu kata. Ada hati yang melemah kala penghuni rumah lain sulit memahami siapa dirimu. Sekali lagi, hujan masih ku harap terjaga agar tak jatuh tepat di pangkuan kita malam itu. Mendung semakin beku, meski kamu tak lagi kaku. Aku pun terbiasa pula kini mendengar kamu.
“Kenapa orang-orang tak pernah bisa memahami kehendak dan ingin kita yang pelan-pelan sedang belajar membaik dari keterlaluan yang pernah kita alami..”
Kamu kesal, yang ku tangkap kamu sedang tersudutkan. Ada jiwa yang rindu untuk di lapangkan. Di tinggikan untuk tersenyum mengawan sendu. Dan, aku mencoba untukmu. Menjadi sekeping harapan dalam keputus asaan. Atau menjadi kaki kecil penunjuk arah dalam kebingunganmu.
Dik, ku ulas untukmu lagi disini. Bukankah setiap hati memang selalu ingin di mengerti. Kitapun demikian kan?. Ingin di sajikan ketenangan berperantara perhatian-perhatian yang tak henti. Tapi sebanyak dan semewah dari apa yang kita mau, kita juga harus paham bahwa orang lain juga ingin demikian. Di sambut hangat dengan perhatian. Di dengar baik oleh para pemerhati  Bukankah setiap badai, selalu datang berkecamuk pada siapa saja, dan di waktu kapan saja. Dan akupun pernah sepertimu pula. Namun bukan cara terbaiknya kita harus manja dengan waktu yang tersisa. Bila yang lain masih menganak pagi oleh sukar yang kita hadapi bersama. Maka jadilah yang menganak senja di hadapan siapapun. Meski pahit untuk kamu bisa sekedar bertahan beberapa detik saja. Tapi cobalah, kamu akan terbiasa menjadi apa yang aku sampaikan. Menjadi lelahnya senja kala yang lain hanya menikmati segarnya pagi. Belajarlah dengan waktu. Jangan berhenti menelaah apapun yang terjadi. Mudah bukan?

Dik, bila kamu bilang ada ketidak layakan pada dirimu. Bahwa kamu punya masa—masa yang terlalu kala kita belum bertemu dan bersama disini. Akupun demikian pula adanya. Aku pernah jatuh, lebih dari apa yang orang-orang maknai tentangnya. Aku pernah hilang arah, lebih dari apa yang orang-orang pernah duga padanya. Kita semua sama, terpenjara dalam kelemahan. Sedang khayal tinggi mengawang-awang. Menembus ruang tanpa batas dan waktu jeda. Tapi semua tak menjadi apa-apa. Kembali, kita menjadi tumpukan kenangan atas waktu yang tak sebentar. Kita hanya kekurangan yang tidak akan pernah sempurna di luar waktunya. Bahkan lebih dari apa yang kamu bilang, akupun pernah menjadi dirimu dalam beberapa rentan waktu. Hilang arah, terlepas dari keyakinan, jauh dari dekapan, dan terbata kala harus mengeja firman-firman persaudaraan. Bahkan sempat ku nodai iman-iman kecil dalam diriku. Aku tak layak ada di jalan ini. Bersama siapapun.
Tapi sekali lagi, bukan itu cara yang paling baik menghadapi situasi-situasi genting dalam rombengnya jiwa kita. Seorang di ujung sana, teman yang pernah menguatkanku mengatakan.
“Jangan bicara apapun masalah layak atau tidaknya kita disini, di jalan ini. Semua sedang belajar, dan dalam belajar tak akan ada yang menemui titik sempurna sebelum waktunya. Bukankah belajar adalah proses sepanjang hayat? Bahkan kita tak tau dimana ujung dan letak gelar bahwa kita layak di sebut seorang yang berhak berjuang di sini. Kita tak boleh egois, memandang keinginan kita saja untuk menyendiri dari jalan ini. Sedang yang lain kebingungan kala harus mencari solusi yang mampu menguatkan atas ketidakberdayaannya kita. Bila melemah, periksa imanmu. Bila lelah, periksa imanmu. Bila terluka, periksa lagi imanmu. Jangan pernah lelah memeriksa. Dan jangan pernah bicara layak atau tidaknya kamu ada disini. Siapapun berhak disini. Karena kita sedang sama-sama berjuang. Dan apapun yang terjadi, jangan tinggalkan aku disini”
Seketika aku menitikkan air mata dik, sungguh penguatan yang menenangkan. Dan disini, kusampaikan pula penguatan itu padamu. Pemilik semangat dari tegarnya langit memayungi bumi ini.
Wajar, orang-orang sulit memahamimu. Mungkin bukan mereka saja yang salah. Tapi juga ada sesuatu yang terkhilaf dari diri kita sendiri. Lalu saat kita merasa orang lain selalu bermasalah dengan kita, takkah kita pernah curiga dengan apa yang terjadi? Jangan-jangan kitalah sumber masalahnya. Atau jangan-jangan hati kita sudah lebih parah dari sebelumnya. Tertutup nanah maksiat, sampai-sampai laku kita pun tak pernah lagi menyentuhkan taat. Mari Beristighfar dik.
Kepadamu, seorang yang lagi-lagi memang layak kusebut dik. Aku memerhatimu. Dari sini, meski kadang sibukku melanda hebat. Tapi percayalah, keluhmu senantiasa kusedia bahu. Dan lelahmu kusedia semangat pada hangatnya segelas susu. Masa lalu kita tak pernah selalu sempurna, dan masa depan juga masih ambigu adanya. Tapi mau bagaimanapun juga, teruslah berbenah untuk menjadi baik di kemudian hari. Semua punya gelap, dan terang tak pernah hilang untuk siapapun pula. Maka pilihan dik, kamu ingin terjaga atau bangkit menebar cahaya.

Kuatkan dirimu, memahamilah. Bahwa bukan kita saja yang punya hati. Orang lain juga punya rasa yang ingin di mewahkan dengan kemuliaan. Maka memuliakanlah bila orang-orang tak sanggup untuk memuliakan hatimu. Selalu ada pilihan saat kita di hadapkan pada keadaan-keadaan sulit kala amarah melanda hebat. Memenangkan perdebatan dengan hujjah, atau memenangkan hati seorang yang sedang ada di hadapan kita dengan damai. Itulah pilhan yang bisa aku beri. Selebihnya, dakwah yang mengajarimu segalanya. Tentang cinta, tuhan, dan manusia. Tentang kenapa amat pentingnya Firman-firman persaudaraan di antara kita. Karena nanti, seorang yang paling cinta pun bisa saling jadi musuh di hadapan-Nya. Dan para pembenci luluh menjadi yang paling memberi Cinta di pangkuan-Nya. Itu sebabnya dalam dakwah kamu harus berubah. Move On.

Selasa, 06 Februari 2018

Sisa waktu



   Tiap kali ku lihat dinding kamar. Ku terka-terka jemariku mengukurnya. Melayang-layang kurasa.
Meletakkan sudut pada ujung jariku, dari jauh. Tapi Dekat di mata. Ku saksi dengan jeli. Dinding menatapku juga. Tak bersuara. Tapi dengan asik memanggilku, candu menjadi bubuk kopi penenang mataku. Mengukurnya. Kurayu dalam diam tengah malam.
Pelan-pelan, tersadari. Aku adalah sepasang dari mata yang memerhatimu dari sini. Kian hari langkahku di bumikan oleh Rindu. Lalu langit menjadi terlukis oleh senyummu.  Tapi, Aku terhijab awan menyaksinya. Belum tepat waktu. Kulanjutkan menelusur hari-hari yang di tuang semangat berjuang. Disana ada do’a Ibu, kemudian ada siapa saja yang menjadikanku berarti. Naruto mengatakan, “Aku ingin di Akui”. Dan begitupun denganku. Aku merasa di Akui.  Kau ada di antara orang-orang pengaku itu. Aku terkuatkan. Beberapa hari karenamu. Tentu Ibu adalah hal yang amat penting disana. Dan aku bertahan sampai detik ini.
            Menjadi tak egois katanya, Ku biarkan rasa terjaga dalam diriku. Pendoa yang selalu setia pada sepertiga malam, fajar, dan sore yang menyenja. Bila bukan karena-Nya, nyaris aku kehilangan cara untuk membawa ini semua. Bukan berat, tapi karena aku terlalu menikmatinya tiap kali ku seduh dalam secawan Teh hangat di teras rumah. Aku menjadi sering lena, kalau terus-terusan ku teguk semua tentangmu. Ini tak baik. Maka Ku jaga ini semua pada-Nya. Dia saja yang memegang kendaliku. Termasuk mengatakan bahwa Aku Mulai Mencintaimu.
Dan menjadi tak berdosa bukan? Ku biarkan kamu tak tau semua ini. Ku biarkan kamu tak menungguku. Ku biarkan kamu terjaga. Terjaga untuk terus membaik pada perjuanganmu. Meski aku pernah tak sehat, sebab rinai hujan melukis senyummu di balik tirai jendela kamarku. Disana ku sapa, tapi derasnya membuatku terlelap. Dan aku pun tak sadarkan diri.
            Sesekali Aku menjelma menjadi kabut pada pagi. Tak ada yang bisa kulihat, selain putih yang pekat menutup mata. Melayang. Lagi-lagi kurasa seperti kosong. Kamu dimana? Ku tanya dinding kamar. Tapi bukan dengan lirih ku eja. Jemariku kusaja yang mengisyarat. Mensibi. Ia menari bagai dua merpati di taman-taman yang pernah ku temui pada alam mimpi. Ku tanya dinding kamar. Tapi bukan jawab yang menggema, hanya diam membelalakku dari sisi mana saja. Ku pejamkan mata. Menyerah sejenak dari tatap tajam mereka. Senyummu berbinar di ujung lelahku. Tapi dengan tega ku tutupi dengan awan. Tak sehat bila ku biarkan. Belum waktunya ku jamah sesuatu atas dirimu. Sekalipun itu senyum yang ringan.
            Di sisa waktu, ku jelaskan tentang dinding dan sepasang mata pemerhati pada diriku. Ketika kamu baca ini, maka di akhirnya adalah ujung dari keluhnya aku mengatakan.
“Aku ingin berdua denganmu lebih lama. Menghalalkanmu.”
Maka aku ingin kamu melangitkan Al-Fatiha untukku. Atas nama Ruh dan jasadku. Namaku jelas tertera kan? Bisa jadi, kamu akan bertanya pada orang-orang terdekatku. Siapa aku. Bertanyalah.

           Disisa waktu, maka ku urai bahwa kamulah dinding yang ku perhati dari kejauhan. Sebuah bentuk dari kekuatan yang Allah saji untuk aku bertahan. Setiap ruas dari jemari yang ku ajak mengukur tentangmu adalah temanku bercerita. Aku senang memerhatimu. Membaca semua kesukaanmu. Kesibukan yang kamu habiskan dari waktu ke waktu. Setiap ruas dari jemari yang ku bawa mengukur semua tentangmu adalah temanku bertanya. Kamu kah temanku berjuang di masa depan. Kamukah sosok dari Cinta yang aku miliki. Kamukah genap dari sendiri yang kuhabiskan menata diri. Kamukah tuan putri seorang kelana sepertiku. Kamukah penenang atas resahku. Kamukah teman penguat kala lemahku. Kamukah ibu dari anak-anakku. Kamukah pembenar tajwid kala ku baca firmannya. Kamukah pengingatku kala lupa bila ku ulang hafalanku. Kamukah penyaji senyum dan sarapan untukku tiap pagi selepas subuh. Dan dari itu semua. Maka layakkah aku menjadi seorang yang berada di sebelahmu. Atau layakkah aku menjadi seorang senantiasa menujumu.
            Maka di sisa waktu, ku sampaikan. Bahwa aku pernah sejauh ini berpikir tentangmu. Meskipun kamu entah sedang apa. Dimana. Dan bahkan aku tak tahu siapa namamu. Tapi jauh hari, detik sebelum sisa waktuku. Aku sudah mempersiapkan yang terbaik untukmu. Aku telah mempersiapkan janji atas diriku. Bahwa aku Akan Mencintaimu karena-Nya. Di sisa waktu. Kamulah penguat atas ku.. Tuan Putri.
  
Maaf. Aku Mencintaimu Di Sisa Waktu..


Sabtu, 14 Oktober 2017

Aka(d)n Kah Aku Bertahan?

Ketika Hujan Jatuh, mereka hadir dengan Ukuran, Rinai, Gerak, dan Kecepatan yang berbeda-beda.
Bisa jadi, dari apa yang ku perhitungkan adalah sesuatu yang layak untuk kita benarkan. Atau tidak sama sekali.


Begitu juga denganmu, sisi dari kehidupan yang tidak aku pahami.
Dimensi ku persidang satu persatu, demi jawaban atas sebuah tanya. Kenapa kita di pertemukan?
Sesuatu yang Tuhan inginkan terjadi, tapi sempurna aku tak paham makna dari semuanya, makna dari pertemuan kita.
Makna dari Seduhan Pagi ke Senja yang nyaris kita bagi dan Nikmati bersama.
Makna dari ucapanmu tempo hari, Kamulah senyuman termanis yang layak bagiku.
Atau Ucapan, Akulah Lukisan dalam setiap Bait “RINDU” yang kamu susun sejajar dengan semua arah jarum Jam dalam Hatimu..

Kepadamu,
Dari enam puluh detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Bolehkah aku bertanya?
Apa dalam Kehidupan ini, hanya kamu Pemilik Episode Senyuman itu?
Benarkah? Kamu terlahir untuk senantiasa tersenyum?
Bagaimana Aku harus menyampaikannya kepadamu.
Mengatakannya..
Kadang aku sering bertanya, darimanakah aku harus mulai bertanya padamu.
Bicara denganmu, sedang menatapmu dari sini saja aku tidak mampu.
Kadang aku sering bertanya, darimanakah aku harus mulai menyapamu.
Sedang dalam Diam, semua kata menggebu dari sudut mana saja untuk aku sampaikan satu persatu.

Kepadamu,
Dari enam puluh detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Bolehkah aku bertanya?
Pernahkah kamu Hujan di saat sendiri?
Atau merasa Gerimis di watu Sunyi,?
Atau setidaknya merasakan mendung ketika Lelah.?
Pernahkah? Kamu mengalami mendung yang dahsyat, lalu Hujan menyirami Hatimu dengan begitu kuat, kebingungan melandamu untuk bertanya, kemana aku harus berteduh dari semua ini.
Pernahkah?
Atau kamu kah sesuatu yang terlahir dengan penuh warna dalam pelangi yang tak berujung waktu indahnya itu?


Kepadamu,
Dari enam puluh detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Bolehkah aku bertanya?
Saat kamu baca semua tulisan ini, pernahkah kamu merasa.?
Bahwa kamulah yang ku maksudkan dalam setiap garis kata-kata ini.?
Bahkan ketika aku harus menjadi manis secara terpaksa di setiap ujung nya.
Kamulah, alasan atas keterpaksaan itu. Bahwa aku akan selalu manis di hadapanmu.
Menjadi wajah Hati yang paling Rahasia di Ujung Bumi ini.
Cukuplah, Aku dan Lelaki Berkopiah Hitam membawa dirinya selalu sejuk, yang tau akan semua ini.
Kunci dari perasaan yang mungkin kami sendiripun tak mampu menyimpannya.
Maka Cukup Pula –Dia  penilai atas diri ini, penjaga atas semua, Hati, pikiran, dan prasangka-prasangka milik semasing kita. Cukuplah itu semua, untukku.

Kepadamu,
Dari enam puluh detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Bolehkah aku bertanya?
Seperti biasa yang kamu katakan, kita jangan jadi gelas yang senantiasa tertutup untuk sebuah suasana.
Menjadi wadah dari rasa yang tidak ada artinya.
Menjadi gelap atas terangnya dunia ini.
Sungguh aku tak menginginkannya, menjadi bayangan yang senantiasa layu dari cahaya.
Tapi Dari itu semua, apakah kamu paham?
Bahwa Menjadi Warna dari Illahi, adalah jalan tentang kenapa semua larut untukku jaga.
Dalam pandangan siapa saja, mereka bebas menerjamahkan arti dari perasaan kan?
Setengah saja dari perasaan yang aku punya, kamu mungkin akan paham jika kita menghabiskan secangkir teh untuk ku jelaskan semuanya kepadamu.
Mungkin, atau pun akhirnya kamu tetap mengeras seperti apa yang ku rasa saat ini.
Sebenarnya, ada banyak teka-teki yang ku kemas serapi mungkin.
Semua karena-Nya. Karena Harapan ada Cinta dari –Dia yang hadir untukku.
Meski kiasnya seperti setetes air dari ujung jarum yang di Celupkan ke Laut.
Meski sedikit, tak berarti, tapi kurasa adalah Kecukupan atas Hausnya aku akan Cinta dari-Nya.

Hidup adalah perjuangan, ada banyak saksi atas itu semua.
Keringat, Tubuh yang terbakar matahari, langkah yang lelah, atau senyum yang memudar pesonanya.
Maka dari perjuangan itu, aku ingin belajar lebih banyak dari arti kehidupan ini.
Arti dari kenapa ada senyuman yang tidak bisa ku miliki atasmu. Sepertimu.
Itu sebabnya aku mulai banyak bertanya, Kepadamu.
Dari enam puluh detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Kenapa episode kehidupanmu banyak senyuman?

Tidak kah kamu ingin  mengetuk Perasaan dalam diriku, menuangkan Secawan Madu yang manisnya menenangkan perasaan.
Aku bertanya, dan jawablah. Di sana, saat kamu baca ini semua.
Kata-kata yang tak jelas arahnya. Kan?

Maaf, ada Senja yang harus ku hapus. Senja dengan warna Jingga yang selalu kamu Suka.
Senja, ujung dari kelelahan atas Hari yang panjang.
Ujung dari lelahku..
Yang ku tau, kamu sering bertanya, kenapa sekarang mendingin?
Kenapa menjadi sering Hujan?
Mendadak Sunyi saat sendiri. Atau semacamnya lagi.
Semua, karena ada perasaan yang sukar aku jelaskan.
Ada pikiran yang tak mengenakan hati, bila ia ku abaikan.
Kamu pernah begini atau tidak sama sekali?
Benar, Bahwa episode senyuman, hanya ada pada dirimu.?
Maka mendekatlah dari apa yang kamu baca saat ini.
Bahwa, kehidupan adalah kumpulan dari Perasaan yang ada dalam Hati.

Kepadamu,
Dari enam puluh detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Bolehkah aku bicara?
Ada seorang yang harus ku rangkul pundaknya,
Ada seorang yang harus ku seimbangkan langkahnya,
Ada seorang yang harus ku cerahkan siangnya,
Ada seorang yang harus ku jaga senyumnya,
Ada seorang yang harus tetap berdiri, dalam Hujan yang tidak henti-henti.
Semua karena ada seorang yang bisa jadi sedang membutuhkanku.

Kamu Boleh marah, membenci, bahkan menaruh prasangka yang tidak-tidak padaku,
Atas kegaduhan yang ku sebabkan dalam “Lima Hari yang Kita Habiskan Bersama Rasa Sakit”.
Lalu mengatakan, bahwa aku menodai Perasaan ini padamu.
Tentang Sejuta yang harus ku relakan ujungnya.
Tentang Ikatan yang melemah di antara semasing kita,
Tentang apa saja, yang jadi penyebab bahwa aku harus menerima amarah darimu.

Maka seandainya kamu ada disini, tau tentang apa yang sedang terjadi padaku.
“Tidak kah kamu ingin  mengetuk Perasaan dalam diriku, menuangkan Secawan Madu yang manisnya menenangkan kegaduhanku.?”


Aku hanya menjaga waktu dalam diriku, menjaga Cinta dalam Hatiku.
Bahwa ada seorang yang sedang akan menangis lebih lama di Bahuku, mengeluh atas dunia ini.
Bahwa ada Seorang yang sedang harus ku jaga Hatinya,
Maka biarlah aku terhina di hadapanmu, di hadapan orang-orang yang ku jadikan Gaduh dalam hatinya. Bersamamu Juga.
Biarlah aku terenyuh atas kesalahan yang ku perbuat, untuk seseorang yang sedang menangis di bahuku.
Biarlah aku mendarah atas luka yang ada, asal –Dia mencintaiku sebagai Hamba.
Biarlah aku menangis untuk seorang yang harus ku basuh air matanya di sampingku.

Biarlah aku terhina di Bumi, Tempat dimana Uwais tak di kenal seisinya.
Asal ada –Dia, Biarlah semua beban ini ada padaku.
Biarlah..
Aku menjadi  salah, untuk membenarkan Orang lain.
Seandainya itu adalah Kebaikan di sisi-nya..

Aku,  hanya senantiasa memahami CINTA.
Bahwa persaudaraan itu adalah CINTA, ia akan meminta segalanya darimu, waktu, senyuman, tangisan, darah, harta, pengorbanan, dan apa saja.
Karena mencintainya sebagai saudara, adalah perasaan dalam Hatiku.
Aku Mencintai untuk Mencintai-Nya.
Lalu ku lauhkan Do’a semoga aku di beri lebih banyak Ikhwan dalam Kehidupan.
Agar ketika aku tidak ada, akan ada yang menarik tanganku keluar dari hinanya Neraka.

Maka,
Aka(d)n kah aku Bertahan?


Dariku Yang Lemah,   -De’ Pamungkas


Jumat, 22 September 2017

Senjamu, Bukan Lagi Aku


Dari Ujung Pena, orang-orang bisa menyekat Senyuman untuk Menyapa.   

Seiris, dari perasaan Sedih yang kau Saji satu persatu baitnya oleh Kata.
Aku terbawa, seperti senyum ibu yang menyekat tangisku untuk menumpah Ruah.
Seperti  itu pula, orang-orang menyekat senyumku untuk menyapa.
Kau salah duanya, setelah satu diantaramu terciduk olehku.
Penyebab selalu, menyekatku untuk menjadi Biru yang teduh.
Sebab atasku, ragu mengukir tawa.
Waktu ke waktu, aku belajar memahami Detik denganmu.
Merasa, aku hanya terasa.

Menjadi Debu, pada terik yang kau basuh secawan madu.
Manis, tapi lidahku menolak. Sia-sia....
Setiap pagi, siang, bahkan malam di Lima Hari Yang Kita Habiskan Bersama Rasa Sakit.
Aku terus belajar, memahami tentang kenapa aku harus bertemu dan dikenalkan denganmu, Oleh-Nya.  
Dan aku mulai bisa memahamimu, tentang apa yang kau saji, dan apa yang kau bawa sembunyi.

Kau tak pernah akan tau. Kadangkala, aku menemukan pelangi di genggamanku, lalu mendadak matahari mendarahi tubuhku.Semua ada, sejak aku harus mengenalmu dengan terpaksa. 
Berkali, bahkan kurasa aku lelah menuang ribuan liter soda. Yang membuatmu semakin lupa Arti dari perasaan dalam hatiku.
Menuangkanmu ketenangan, menyedia bahu atas lelahmu, dan nyanyian atas semua tidurmu.

 Aku.. Sejenak Lelah....

Bagian dari jatuh cinta, adalah bahagia yang ujungnya seperti tak ada. Dan Aku sudah jatuh cinta padamu.
Pada pertemuan, pada candaan, pada tepuk tangan dari decak kagum semasing kita.
Dan aku tidak bahagia..... dari jatuh Cinta ini.

Jangan banyak bertanya. Kadang Mendung menghampiri langit sore yang kukira sempurna senjanya. Kau adalah langit atas itu semua..
Beberapa kali, sudah sering ku urai,
Kau tak perlu lelah menebakku.  Jangan menaruh candu atas senyumku, atau bertanya banyak padaku.
Sebab, seperti apapun aku, kau tak akan pernah paham perasaan yang aku sampaikan.

Sudah dari Hati, tapi Detik menyatakan aku hanya untaian basi yang kau kemas dalam setiap obrolanmu.
Dan aku tak perlu memungut itu semua satu persatu, bait yang kau saji tanpa Hati.
Aku lelah, jangan Tanya pribadiku seperti apa.
Puisimu tak cukup layak melukisku, atau tak cukup tajam menebas lalang yang mulai ramai di sekitarku.
Senyumku tak atasmu, Atau kebodohan yang ku buat-buat, juga bukan untuk menyenangkanmu.
Kau tak akan pernah paham siapa au sebenarnya, jadi berhentilah atasku. semua ini sia-sia. Memerhati setiapku yang memang kau tak harus tau.

Sekarang, kau harus banyak paham.
Aku bukan pagimu, yang bisa kau dera sejuk setiap waktu.
Aku buat siangmu, yang debunya bisa kau basuh madu di tengah terik itu.
Aku bukan malammu, yang bisa kau atur gelapnya memarau sendu.

Aku adalah hujan dari segala arah, atas hatimu.
Yang mengeras dari kutub yang jauh dari prasangkamu.

Kau menilai senyum dan kebodohan adalah pemandangan dariku.
Tapi bagian itu semua hanya ku buat, untuk mengemas siapa kau sebenarnya.
 Penikmat Teh hangatku? Atau hanya pemesan, yang pergi setelah pesanan selesai untuk di hidangkan.

Jika kau Tanya warna, aku bisa menjadi apa saja. Tanpa harus kau tau sepenuhnya.
Warna ketegasan, kesejukan, keceriaan, dan Cinta.
Aku ada di antaranya.
Maka jangan memesan secangkir teh hangat lagi padaku.
Sebab aku sudah mendingin, sejak aku harus mengenalmu secara terpaksa.
Kau tidak akan menemui warna yang dulu padaku.
Pada Bias Senja, langit memudarkan warna itu dalam satu titik. Memecah, lalu menyatukan perasaanku dalam satu bait.



Senjamu, bukan lagi aku.