Sabtu, 14 Oktober 2017

Aka(d)n Kah Aku Bertahan?

Ketika Hujan Jatuh, mereka hadir dengan Ukuran, Rinai, Gerak, dan Kecepatan yang berbeda-beda.
Bisa jadi, dari apa yang ku perhitungkan adalah sesuatu yang layak untuk kita benarkan. Atau tidak sama sekali.


Begitu juga denganmu, sisi dari kehidupan yang tidak aku pahami.
Dimensi ku persidang satu persatu, demi jawaban atas sebuah tanya. Kenapa kita di pertemukan?
Sesuatu yang Tuhan inginkan terjadi, tapi sempurna aku tak paham makna dari semuanya, makna dari pertemuan kita.
Makna dari Seduhan Pagi ke Senja yang nyaris kita bagi dan Nikmati bersama.
Makna dari ucapanmu tempo hari, Kamulah senyuman termanis yang layak bagiku.
Atau Ucapan, Akulah Lukisan dalam setiap Bait “RINDU” yang kamu susun sejajar dengan semua arah jarum Jam dalam Hatimu..

Kepadamu,
Dari enam puluh detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Bolehkah aku bertanya?
Apa dalam Kehidupan ini, hanya kamu Pemilik Episode Senyuman itu?
Benarkah? Kamu terlahir untuk senantiasa tersenyum?
Bagaimana Aku harus menyampaikannya kepadamu.
Mengatakannya..
Kadang aku sering bertanya, darimanakah aku harus mulai bertanya padamu.
Bicara denganmu, sedang menatapmu dari sini saja aku tidak mampu.
Kadang aku sering bertanya, darimanakah aku harus mulai menyapamu.
Sedang dalam Diam, semua kata menggebu dari sudut mana saja untuk aku sampaikan satu persatu.

Kepadamu,
Dari enam puluh detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Bolehkah aku bertanya?
Pernahkah kamu Hujan di saat sendiri?
Atau merasa Gerimis di watu Sunyi,?
Atau setidaknya merasakan mendung ketika Lelah.?
Pernahkah? Kamu mengalami mendung yang dahsyat, lalu Hujan menyirami Hatimu dengan begitu kuat, kebingungan melandamu untuk bertanya, kemana aku harus berteduh dari semua ini.
Pernahkah?
Atau kamu kah sesuatu yang terlahir dengan penuh warna dalam pelangi yang tak berujung waktu indahnya itu?


Kepadamu,
Dari enam puluh detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Bolehkah aku bertanya?
Saat kamu baca semua tulisan ini, pernahkah kamu merasa.?
Bahwa kamulah yang ku maksudkan dalam setiap garis kata-kata ini.?
Bahkan ketika aku harus menjadi manis secara terpaksa di setiap ujung nya.
Kamulah, alasan atas keterpaksaan itu. Bahwa aku akan selalu manis di hadapanmu.
Menjadi wajah Hati yang paling Rahasia di Ujung Bumi ini.
Cukuplah, Aku dan Lelaki Berkopiah Hitam membawa dirinya selalu sejuk, yang tau akan semua ini.
Kunci dari perasaan yang mungkin kami sendiripun tak mampu menyimpannya.
Maka Cukup Pula –Dia  penilai atas diri ini, penjaga atas semua, Hati, pikiran, dan prasangka-prasangka milik semasing kita. Cukuplah itu semua, untukku.

Kepadamu,
Dari enam puluh detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Bolehkah aku bertanya?
Seperti biasa yang kamu katakan, kita jangan jadi gelas yang senantiasa tertutup untuk sebuah suasana.
Menjadi wadah dari rasa yang tidak ada artinya.
Menjadi gelap atas terangnya dunia ini.
Sungguh aku tak menginginkannya, menjadi bayangan yang senantiasa layu dari cahaya.
Tapi Dari itu semua, apakah kamu paham?
Bahwa Menjadi Warna dari Illahi, adalah jalan tentang kenapa semua larut untukku jaga.
Dalam pandangan siapa saja, mereka bebas menerjamahkan arti dari perasaan kan?
Setengah saja dari perasaan yang aku punya, kamu mungkin akan paham jika kita menghabiskan secangkir teh untuk ku jelaskan semuanya kepadamu.
Mungkin, atau pun akhirnya kamu tetap mengeras seperti apa yang ku rasa saat ini.
Sebenarnya, ada banyak teka-teki yang ku kemas serapi mungkin.
Semua karena-Nya. Karena Harapan ada Cinta dari –Dia yang hadir untukku.
Meski kiasnya seperti setetes air dari ujung jarum yang di Celupkan ke Laut.
Meski sedikit, tak berarti, tapi kurasa adalah Kecukupan atas Hausnya aku akan Cinta dari-Nya.

Hidup adalah perjuangan, ada banyak saksi atas itu semua.
Keringat, Tubuh yang terbakar matahari, langkah yang lelah, atau senyum yang memudar pesonanya.
Maka dari perjuangan itu, aku ingin belajar lebih banyak dari arti kehidupan ini.
Arti dari kenapa ada senyuman yang tidak bisa ku miliki atasmu. Sepertimu.
Itu sebabnya aku mulai banyak bertanya, Kepadamu.
Dari enam puluh detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Kenapa episode kehidupanmu banyak senyuman?

Tidak kah kamu ingin  mengetuk Perasaan dalam diriku, menuangkan Secawan Madu yang manisnya menenangkan perasaan.
Aku bertanya, dan jawablah. Di sana, saat kamu baca ini semua.
Kata-kata yang tak jelas arahnya. Kan?

Maaf, ada Senja yang harus ku hapus. Senja dengan warna Jingga yang selalu kamu Suka.
Senja, ujung dari kelelahan atas Hari yang panjang.
Ujung dari lelahku..
Yang ku tau, kamu sering bertanya, kenapa sekarang mendingin?
Kenapa menjadi sering Hujan?
Mendadak Sunyi saat sendiri. Atau semacamnya lagi.
Semua, karena ada perasaan yang sukar aku jelaskan.
Ada pikiran yang tak mengenakan hati, bila ia ku abaikan.
Kamu pernah begini atau tidak sama sekali?
Benar, Bahwa episode senyuman, hanya ada pada dirimu.?
Maka mendekatlah dari apa yang kamu baca saat ini.
Bahwa, kehidupan adalah kumpulan dari Perasaan yang ada dalam Hati.

Kepadamu,
Dari enam puluh detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Bolehkah aku bicara?
Ada seorang yang harus ku rangkul pundaknya,
Ada seorang yang harus ku seimbangkan langkahnya,
Ada seorang yang harus ku cerahkan siangnya,
Ada seorang yang harus ku jaga senyumnya,
Ada seorang yang harus tetap berdiri, dalam Hujan yang tidak henti-henti.
Semua karena ada seorang yang bisa jadi sedang membutuhkanku.

Kamu Boleh marah, membenci, bahkan menaruh prasangka yang tidak-tidak padaku,
Atas kegaduhan yang ku sebabkan dalam “Lima Hari yang Kita Habiskan Bersama Rasa Sakit”.
Lalu mengatakan, bahwa aku menodai Perasaan ini padamu.
Tentang Sejuta yang harus ku relakan ujungnya.
Tentang Ikatan yang melemah di antara semasing kita,
Tentang apa saja, yang jadi penyebab bahwa aku harus menerima amarah darimu.

Maka seandainya kamu ada disini, tau tentang apa yang sedang terjadi padaku.
“Tidak kah kamu ingin  mengetuk Perasaan dalam diriku, menuangkan Secawan Madu yang manisnya menenangkan kegaduhanku.?”


Aku hanya menjaga waktu dalam diriku, menjaga Cinta dalam Hatiku.
Bahwa ada seorang yang sedang akan menangis lebih lama di Bahuku, mengeluh atas dunia ini.
Bahwa ada Seorang yang sedang harus ku jaga Hatinya,
Maka biarlah aku terhina di hadapanmu, di hadapan orang-orang yang ku jadikan Gaduh dalam hatinya. Bersamamu Juga.
Biarlah aku terenyuh atas kesalahan yang ku perbuat, untuk seseorang yang sedang menangis di bahuku.
Biarlah aku mendarah atas luka yang ada, asal –Dia mencintaiku sebagai Hamba.
Biarlah aku menangis untuk seorang yang harus ku basuh air matanya di sampingku.

Biarlah aku terhina di Bumi, Tempat dimana Uwais tak di kenal seisinya.
Asal ada –Dia, Biarlah semua beban ini ada padaku.
Biarlah..
Aku menjadi  salah, untuk membenarkan Orang lain.
Seandainya itu adalah Kebaikan di sisi-nya..

Aku,  hanya senantiasa memahami CINTA.
Bahwa persaudaraan itu adalah CINTA, ia akan meminta segalanya darimu, waktu, senyuman, tangisan, darah, harta, pengorbanan, dan apa saja.
Karena mencintainya sebagai saudara, adalah perasaan dalam Hatiku.
Aku Mencintai untuk Mencintai-Nya.
Lalu ku lauhkan Do’a semoga aku di beri lebih banyak Ikhwan dalam Kehidupan.
Agar ketika aku tidak ada, akan ada yang menarik tanganku keluar dari hinanya Neraka.

Maka,
Aka(d)n kah aku Bertahan?


Dariku Yang Lemah,   -De’ Pamungkas


Tidak ada komentar:

Posting Komentar