Dari
Ujung Pena, orang-orang bisa menyekat Senyuman untuk Menyapa.
Seiris, dari perasaan Sedih yang kau Saji satu persatu baitnya oleh Kata.
Aku terbawa, seperti senyum ibu yang
menyekat tangisku untuk menumpah Ruah.
Seperti
itu pula, orang-orang menyekat senyumku untuk menyapa.
Kau
salah duanya, setelah satu diantaramu terciduk olehku.
Penyebab
selalu, menyekatku untuk menjadi Biru yang teduh.
Sebab
atasku, ragu mengukir tawa.
Waktu
ke waktu, aku belajar memahami Detik denganmu.
Merasa,
aku hanya terasa.
Menjadi
Debu, pada terik yang kau basuh secawan madu.
Manis,
tapi lidahku menolak. Sia-sia....
Setiap
pagi, siang, bahkan malam di Lima Hari Yang Kita
Habiskan Bersama Rasa Sakit.
Aku
terus belajar, memahami tentang kenapa aku harus bertemu dan dikenalkan
denganmu, Oleh-Nya.
Dan
aku mulai bisa memahamimu, tentang apa yang kau saji, dan apa yang kau bawa
sembunyi.
Kau
tak pernah akan tau. Kadangkala, aku menemukan pelangi di genggamanku, lalu
mendadak matahari mendarahi tubuhku.Semua ada, sejak aku harus mengenalmu
dengan terpaksa.
Berkali,
bahkan kurasa aku lelah menuang ribuan liter soda. Yang membuatmu semakin lupa Arti dari perasaan dalam hatiku.
Menuangkanmu
ketenangan, menyedia bahu atas lelahmu, dan nyanyian atas semua tidurmu.
Aku..
Sejenak Lelah....
Bagian
dari jatuh cinta, adalah bahagia yang ujungnya seperti tak ada. Dan Aku sudah jatuh cinta padamu.
Pada
pertemuan, pada candaan, pada tepuk tangan dari decak kagum semasing kita.
Dan
aku tidak bahagia..... dari jatuh Cinta ini.
Jangan
banyak bertanya. Kadang Mendung menghampiri langit sore yang kukira sempurna
senjanya. Kau adalah langit atas itu semua..
Beberapa
kali, sudah sering ku urai,
Kau
tak perlu lelah menebakku. Jangan menaruh candu atas senyumku, atau
bertanya banyak padaku.
Sebab,
seperti apapun aku, kau tak akan pernah paham perasaan yang aku sampaikan.
Sudah
dari Hati, tapi Detik menyatakan aku hanya untaian basi yang kau kemas dalam
setiap obrolanmu.
Dan
aku tak perlu memungut itu semua satu persatu, bait yang kau saji tanpa Hati.
Aku
lelah, jangan Tanya pribadiku seperti apa.
Puisimu
tak cukup layak melukisku, atau tak cukup tajam menebas lalang yang mulai ramai
di sekitarku.
Senyumku
tak atasmu, Atau kebodohan yang ku buat-buat, juga bukan untuk menyenangkanmu.
Kau
tak akan pernah paham siapa au sebenarnya, jadi berhentilah atasku. semua ini
sia-sia. Memerhati setiapku yang memang kau tak harus tau.
Sekarang,
kau harus banyak paham.
Aku
bukan pagimu, yang bisa kau dera sejuk setiap waktu.
Aku
buat siangmu, yang debunya bisa kau basuh madu di tengah terik itu.
Aku
bukan malammu, yang bisa kau atur gelapnya memarau sendu.
Aku
adalah hujan dari segala arah, atas hatimu.
Yang
mengeras dari kutub yang jauh dari prasangkamu.
Kau
menilai senyum dan kebodohan adalah pemandangan dariku.
Tapi
bagian itu semua hanya ku buat, untuk mengemas siapa kau sebenarnya.
Penikmat
Teh hangatku? Atau hanya pemesan, yang pergi setelah pesanan selesai untuk di
hidangkan.
Jika
kau Tanya warna, aku bisa menjadi apa saja. Tanpa harus kau tau sepenuhnya.
Warna
ketegasan, kesejukan, keceriaan, dan Cinta.
Aku
ada di antaranya.
Maka
jangan memesan secangkir teh hangat lagi padaku.
Sebab
aku sudah mendingin, sejak aku harus mengenalmu secara terpaksa.
Kau
tidak akan menemui warna yang dulu padaku.
Pada
Bias Senja, langit memudarkan warna itu dalam satu titik. Memecah, lalu
menyatukan perasaanku dalam satu bait.
Senjamu,
bukan lagi aku.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar