Kamis, 29 Maret 2018

Move On



Tanpa modal yang baik, kita tak akan mampu menghasilkan sesuatu yang berarti. Begitu pula halnya hati, perilaku, dan mental yang ada di dalam diri kita. Tanpa energi-energi positif yang menguatkan kita, kita tak akan pernah nyata terbentuk menjadi sesuatu seperti yang sebenarnya. Ayah, Ibu, Kakak, Adik, Teman-teman, Sahabat dakwah, Murobbi, dan siapapun yang hadirnya memberi pengaruh besar untuk kita. Merekalah sumber dari energi-energi positif itu.
Sayup-sayup sebelum hujan turun, kamu meminta untuk menemuiku. Aku bahkan masih terlalu kaku saat menuang segelas susu lalu dengan terbata kamu meminta waktu padaku. Silahkan. Datanglah, tanpa panjang lebar aku mengiyakan apa yang kamu mau. Mendung kadang memang suka menyajikan oase tanpa kata, ia bergerak. Tanpa jeda membalut dingin di sekujur tubuh kita. Dan perlahan kitapun malu pada waktu, mencari bentuk dari matahari yang menjelma pada secangkir hangatnya susu. Ah, Apa yang tersaji di depan meja kerjaku memang pilihan terbaik untuk menenangkan diri. Menterjagakan kita dari keluh berisi serapah, atau cela dalam pinta. Sebab mendadak di payungi mendung memang menjadi tak nyaman bukan. Meski sebenarnya, mendung yang paling gelap sekalipun belum nyata akan menumpah hujannya pada saat itu juga. Nikmati saja.
Kini kamu datang, seorang yang izinkan ku sebut namamu mulai detik ini sebagai Dik. Seorang yang ku terjagakan kamu dalam doa. Meski aku tak pernah sempurna untuk menjadi pemerhatimu dalam tiap-tiap detik yang ku habiskan. Sebagai orang yang jauh dari keterjagaan, maka aku siap mengganti diri menjadi yang berani menjagamu mulai detik ini.
Kusam, wajahmu menaruh praduga apapun dalam diriku. Setengah sesak pelan-pelan kamu urai tentang apa yang kamu pikirkan. Ceritalah kataku. Bicaralah lirihku. Bila kamu masih ingat malam itu, tentu aku lebih banyak diam dan mengiyakan semua keluhmu, semua karena aku ingin kamu terkuatkan saat ada yang menyaksi lewat mata dan mendengar semua kesalmu.
Kamu tumpah, semua terbaca saat ku raba apa saja yang kamu kata. Ada hati yang melemah kala penghuni rumah lain sulit memahami siapa dirimu. Sekali lagi, hujan masih ku harap terjaga agar tak jatuh tepat di pangkuan kita malam itu. Mendung semakin beku, meski kamu tak lagi kaku. Aku pun terbiasa pula kini mendengar kamu.
“Kenapa orang-orang tak pernah bisa memahami kehendak dan ingin kita yang pelan-pelan sedang belajar membaik dari keterlaluan yang pernah kita alami..”
Kamu kesal, yang ku tangkap kamu sedang tersudutkan. Ada jiwa yang rindu untuk di lapangkan. Di tinggikan untuk tersenyum mengawan sendu. Dan, aku mencoba untukmu. Menjadi sekeping harapan dalam keputus asaan. Atau menjadi kaki kecil penunjuk arah dalam kebingunganmu.
Dik, ku ulas untukmu lagi disini. Bukankah setiap hati memang selalu ingin di mengerti. Kitapun demikian kan?. Ingin di sajikan ketenangan berperantara perhatian-perhatian yang tak henti. Tapi sebanyak dan semewah dari apa yang kita mau, kita juga harus paham bahwa orang lain juga ingin demikian. Di sambut hangat dengan perhatian. Di dengar baik oleh para pemerhati  Bukankah setiap badai, selalu datang berkecamuk pada siapa saja, dan di waktu kapan saja. Dan akupun pernah sepertimu pula. Namun bukan cara terbaiknya kita harus manja dengan waktu yang tersisa. Bila yang lain masih menganak pagi oleh sukar yang kita hadapi bersama. Maka jadilah yang menganak senja di hadapan siapapun. Meski pahit untuk kamu bisa sekedar bertahan beberapa detik saja. Tapi cobalah, kamu akan terbiasa menjadi apa yang aku sampaikan. Menjadi lelahnya senja kala yang lain hanya menikmati segarnya pagi. Belajarlah dengan waktu. Jangan berhenti menelaah apapun yang terjadi. Mudah bukan?

Dik, bila kamu bilang ada ketidak layakan pada dirimu. Bahwa kamu punya masa—masa yang terlalu kala kita belum bertemu dan bersama disini. Akupun demikian pula adanya. Aku pernah jatuh, lebih dari apa yang orang-orang maknai tentangnya. Aku pernah hilang arah, lebih dari apa yang orang-orang pernah duga padanya. Kita semua sama, terpenjara dalam kelemahan. Sedang khayal tinggi mengawang-awang. Menembus ruang tanpa batas dan waktu jeda. Tapi semua tak menjadi apa-apa. Kembali, kita menjadi tumpukan kenangan atas waktu yang tak sebentar. Kita hanya kekurangan yang tidak akan pernah sempurna di luar waktunya. Bahkan lebih dari apa yang kamu bilang, akupun pernah menjadi dirimu dalam beberapa rentan waktu. Hilang arah, terlepas dari keyakinan, jauh dari dekapan, dan terbata kala harus mengeja firman-firman persaudaraan. Bahkan sempat ku nodai iman-iman kecil dalam diriku. Aku tak layak ada di jalan ini. Bersama siapapun.
Tapi sekali lagi, bukan itu cara yang paling baik menghadapi situasi-situasi genting dalam rombengnya jiwa kita. Seorang di ujung sana, teman yang pernah menguatkanku mengatakan.
“Jangan bicara apapun masalah layak atau tidaknya kita disini, di jalan ini. Semua sedang belajar, dan dalam belajar tak akan ada yang menemui titik sempurna sebelum waktunya. Bukankah belajar adalah proses sepanjang hayat? Bahkan kita tak tau dimana ujung dan letak gelar bahwa kita layak di sebut seorang yang berhak berjuang di sini. Kita tak boleh egois, memandang keinginan kita saja untuk menyendiri dari jalan ini. Sedang yang lain kebingungan kala harus mencari solusi yang mampu menguatkan atas ketidakberdayaannya kita. Bila melemah, periksa imanmu. Bila lelah, periksa imanmu. Bila terluka, periksa lagi imanmu. Jangan pernah lelah memeriksa. Dan jangan pernah bicara layak atau tidaknya kamu ada disini. Siapapun berhak disini. Karena kita sedang sama-sama berjuang. Dan apapun yang terjadi, jangan tinggalkan aku disini”
Seketika aku menitikkan air mata dik, sungguh penguatan yang menenangkan. Dan disini, kusampaikan pula penguatan itu padamu. Pemilik semangat dari tegarnya langit memayungi bumi ini.
Wajar, orang-orang sulit memahamimu. Mungkin bukan mereka saja yang salah. Tapi juga ada sesuatu yang terkhilaf dari diri kita sendiri. Lalu saat kita merasa orang lain selalu bermasalah dengan kita, takkah kita pernah curiga dengan apa yang terjadi? Jangan-jangan kitalah sumber masalahnya. Atau jangan-jangan hati kita sudah lebih parah dari sebelumnya. Tertutup nanah maksiat, sampai-sampai laku kita pun tak pernah lagi menyentuhkan taat. Mari Beristighfar dik.
Kepadamu, seorang yang lagi-lagi memang layak kusebut dik. Aku memerhatimu. Dari sini, meski kadang sibukku melanda hebat. Tapi percayalah, keluhmu senantiasa kusedia bahu. Dan lelahmu kusedia semangat pada hangatnya segelas susu. Masa lalu kita tak pernah selalu sempurna, dan masa depan juga masih ambigu adanya. Tapi mau bagaimanapun juga, teruslah berbenah untuk menjadi baik di kemudian hari. Semua punya gelap, dan terang tak pernah hilang untuk siapapun pula. Maka pilihan dik, kamu ingin terjaga atau bangkit menebar cahaya.

Kuatkan dirimu, memahamilah. Bahwa bukan kita saja yang punya hati. Orang lain juga punya rasa yang ingin di mewahkan dengan kemuliaan. Maka memuliakanlah bila orang-orang tak sanggup untuk memuliakan hatimu. Selalu ada pilihan saat kita di hadapkan pada keadaan-keadaan sulit kala amarah melanda hebat. Memenangkan perdebatan dengan hujjah, atau memenangkan hati seorang yang sedang ada di hadapan kita dengan damai. Itulah pilhan yang bisa aku beri. Selebihnya, dakwah yang mengajarimu segalanya. Tentang cinta, tuhan, dan manusia. Tentang kenapa amat pentingnya Firman-firman persaudaraan di antara kita. Karena nanti, seorang yang paling cinta pun bisa saling jadi musuh di hadapan-Nya. Dan para pembenci luluh menjadi yang paling memberi Cinta di pangkuan-Nya. Itu sebabnya dalam dakwah kamu harus berubah. Move On.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar