Setiap orang punya tempat dan
saat-saat istimewa yang menenangkan, termasuk pula aku yang payah ini. Tidak
ada yang paling berkesan dalam hidup, selain di hadapkan pada satu episode
paling menenangkan oleh-Nya. Dan hal istimewa yang menenangkan itu kutemui saat
aku ada bersamamu. Bukan, bukan saat kita sedang berdua dalam sepi penuh
maksiat dan terjerat oleh godaan iblis terlaknat. Namun saat ku temui kamu
masih dalam keadaan baik, di tempat yang baik, dan di sisa waktu yang baik
pula. Hal itu meyakinkanku bahwa sampai detik ini aku masih layak berjuang
menujumu, sebab di sana kamu masih baik-baik saja. Dan inilah hal istimewa yang
berharga bagiku. Menujumu, dan bertemu pada satu waktu. Saat kamu ada disini
nanti, menemaniku dan aku memastikan kamu terjaga.
Aku memang tak istimewa, sebab
kitapun saling kenal tanpa sengaja. Dan hari ini aku tak tau kamu dimana. Aku
tak tau siapa dirimu. Dan kamupun tak tau seperti apa celakanya aku. Tapi meski
demikian, ada satu hal penting tentang aku yang payah ini. Bahwa bagiku,
bersamamu aku merasakan satu hal yang berbeda. Amarahku mereda, egoku perlahan
sirna, dan peduli selalu terasa berlebih untukmu yang bukan siapa-siapa. Meski
mungkin suatu waktu akan jadi apa-apa. Aku mungkin akan merasa lebih baik saat
kamu ada disini bersamaku. Mengerti tentang aku yang seperti anak kecil.
Tentang aku yang selalu bertingkah bodoh. Tentang aku yang seperti tak tau
apapun tentang makna dan arti kehidupan ini.
Mungkin sesekali kita memang perlu
adil pada diri sendiri. Tidak berbohong, dan mengiyakan bahwa kita sedang
rindu, sedang tidak baik-baik saja. Rindu pada satu pertemuan dimasa depan.
Tapi disisi lain memang benar, banyak bercerita bukanlah solusi untuk satu
permasalahan inti pada hati yang gelisah. Pada diri yang cemas tak berarah. Insyafilah
bahwa dengan mendekat kepada-Nya, adalah jawaban paling menjamin untuk kemudian
kita tidak kecewa dengan apapun yang terjadi nantinya. Apapun keadaannya.
Apapun ketetapan dari-Nya. Ah, ini perihal apa? Siapapun kamu pasti
bertanya-tanyakan. Apa yang ku maksudkan sebagai seorang penulis disini. Terus
terang ini perihal aku yang penuh khawatir tentang sesuatu pada kita yang bukan
siapa-siapa dan tak saling kenal pula. Berulang kali kuingatkan diri untuk
sabar dalam menuju, jangan tergesa. Berulang kalipula masadepan memanggilku
untuk segera datang menemuimu. Iblis. Terlaknatlah engkau atas semua panah
beracunmu ini. Terlaknatlah engkau. Ah. Naif sekali aku yang lemah ini.
Untukmu yang saat ini jauh dari
kehidupanku, yang sosoknya masih Allah rahasiakan di oase kehidupan mendatang. Ketahuilah
tentang aku yang sedang tidak baik-baik saja disini. Meski dalam prosesnya, aku
terus berusaha menjadi baik. Tapi tak pernah benar-benar merasa baik atas
apapun atau sesuatu yang ada saat ini. Maafkan aku yang tak memaksimalkan diri.
Ah, bukan, bukan begitu. Mungkin aku sedang lelah berjuang saat menulis ini
semua. Mungkin aku sedang luka kala bercerita kepadamu saat kamu baca ini semua.
Tapi aku tetap berjuang, aku tetap mempersiapkan yang terbaik untukmu apapun yang terjadi nanti. Percayalah
padaku. Percayalah untuk semua janji Allah bahwa kita akan bertemu, asal kita
ikhlas menerima segala skenario yang –Dia buat.
Lelaki dalam diriku selalu cemas,
bukan mencemaskan kita yang tidak bertemu nantinya. Namun mencemaskan satu hal
yang pasti datang tanpa permisi, kematian. Ya kematian. Takkah kamu pun cemas
seperti halnya aku. Khawatir, saat semua kesiapan terbaik menujumu sudah
kususun rapi untuk terwujud, malah aku lupa mempersiapkan satu hal penting
untuk kematianku nantinya. Lagi-lagi aku perlu banyak belajar hal penting dalam
hidup ini. Di ingatkan orang-orang shalih tanpa jeda setiap waktu.
Aku yang
labil dan penuh lupa ini selalu butuh penguat, selalu butuh teman untuk
bercerita seputar penat, dan mengobati segala keluh yang kurasa. Maukah kamu
menemaniku lebih lama? Siapapun kamu?
Mungkin ada saatnya aku di sini ragu
tentang kamu yang apakah juga menujuku, sama halnya denganmu yang juga sedang
bertanya di belahan bumi lainnya. Sedang apa aku, atau masihkah aku berjuang
mempersiapkan sesuatu yang istimewa untukmu. Tenanglah, semoga semua baik-baik
saja. Tak perlu tergesa, sampai Allah mengatakan tiba waktunya. Allah janjikan
kala aku terjaga, kamupun akan sama terjaga pula. Kala kamu berjuang
memperbaiki diri, maka akupun sama berjuang memperbaiki diri. Maknanya kita
hanya perlu totalitas menuju Allah dulu, segalanya hanya untuk Allah saja. Maka
saat di tengah perjalanan Allah sudah menetapkan kita butuh teman berjuang
menuju-Nya, melihat kita yang mulai kian butuh penguatan dari-Nya, maka temu
kita adalah wujud nyata dari penguatan yang Allah berikan untuk semasing kita.
Tenanglah. Semua pasti baik-baik saja.
Hidup di lingkungan baik, dengan
orang-orang baik, dan menjalankan kebiasaan-kebiasaan baik, tentu menjadi salah
satu ikhtiar yang kita lakukan untuk memperbaiki diri. Memaksimalkan proses
yang kita miliki.
Saat tak banyak interaksi dengan
lawan jenis, saat tak banyak waktu yang sia-sia terbuang tanpa kegiatan yang
bermakna, saat menemui raga yang lelah di dalam keadaan yang masih bersyukur
dapat berjuang, saat tersenyum kala ujian menderai hebat datang menghampiri,
saat sabar pada pilihan yang berat untuk di pilih, dan saat mencoba tak
bersentuhan dengan lawan jenis. Ah semua itu perjuangan. Menuju kamuflase
pribadi yang lebih baik dari hari kemari.
Dan satu makna tentang setia ada
disana, bahwa tak menyentuh siapapun yang bukan mahramnya adalah wujud
realisasi dari setia. Terjaga. Kamu tau bukan, tuan putri dimana saja, sulit
sekali untuk kita dapat menemuinya dengan mudah. Jangankan untuk menyentuh, melihatnya
saja mata kita amatlah sulit. Sebab ia terjaga dalam kastil istana yang megah. Hanya
orang-orang tertentu saja yang bisa menemui dan bertatap langsung dengannya.
Hanya suaminya, orang tua nya, anak-anaknya, atau bahkan sebagian mereka juga
kesulitan saat meminta untuk menemui sang tuan putri. Memang begitu bukan?
Dan bagiku, kamu lebih berharga dari
seorang tuan putri. Maka terjagalah. Begitupun halnya aku, yang mencoba tak
banyak berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahramku. Semaksimal mungkin.
Tak akan ada celah, demi kamu yang tidak akan kecewa kala kita bertemu nanti
menyaksikan aku yang masih terjaga untuk-Nya dan untukmu. Karena memaknai setia
bagiku hanya ada cukup satu nama dihati, cukup hanya satu saja yang bersandar
di bahu ini, cukup hanya satu saja yang segala kekurangannya akan aku lengkapi,
dan cukup hanya satu saja yang dengan setia menemani perjalanan panjang yang
kuhabiskan bersamanya nanti. Semoga, Aku selalu berusaha setia menujumu saja.
Lalu seandainya semua akan berbeda
dari yang kita harap, bukan aku temanmu, bukan kamu takdirku, dan kita berakhir
tidak dengan temu. Apa yang bbisa kita lakukan selanjutnya bila bukan saling
mengikhlaskan. Karena lagi-lagi Allah pula yang maha mengatur dan menetapkan
segalanya, segala sesuatu yang menjadi takdir kita. Tak akan mustahil bila pada
akhirnya akupula yang menjadi seorang yang ada dalam judul ini. Seorang yang
membawa lelaki lusuh dalam dirinya untuk ikhlas menerima segala takdir dan
ketentuan dari-Nya. Lalu perlahan hilang tanpa kabar atas kematian.
Tapi tenanglah, aku tidak berhenti
disini. Tidak putus asa pada segala kemungkinan yang masih bisa terjadi. Atas sebuah
keniscayaan pada pertemuan kita. Aku masih percaya pada kekuatan doa dan
ikhtiar. Merekalah caraku menyampaikan pesan pada Allah agar kita bisa hidup
bersama. Agar kamulah rumah untukku mengistirahatkan segala lelah yang ada. Aku
percaya pada doa dan ikhtiar. Sebab kamu pun samakan? Sedang berdoa dan
berikhtiar untuk satu pertemuan tentang kita.
Aku
sudah berjanji pada diri, tak akan menjadi “Pemuda Yang Hilang” sebelum waktunya
pulang tiba.
Pulang kehadapan-Nya.
Dibawah langit cerah,
-Mbul


Tidak ada komentar:
Posting Komentar