Rabu, 14 November 2018

Kamu(Flase) Untukku


Kamuflase terbaik dari sebuah luka adalah bahagia. Tangis menjadi tawa. Cemas menjadi tenang tak berbatas. Rindu, menjadi temu yang berbalas. Dan Cinta mengudara menebar aroma bahagia.
Cinta berperan penting disana. Dalam kehidupan kita. Tergantung kita pula bagaimana memaknai itu semua. Menjadikannya obat, atau bius yang membawa penyakit semakin tak terlihat. Hingga kala tersadar, kita malah menyaksi luka semakin lebar menganga. Bukan menyembuhkan, tapi malah memperparah keadaan.
 Cinta berperan penting disana. Mengubah segala hal menjadi tidak lagi biasa. Sama seperti  aku yang hari ini memaknainya sebagai semangat dalam diriku. Semangat untuk tetap menjalani hari dan menghabiskan sisa waktu, meski apapun yang terjadi nantinya. Aku yakin akan baik-baik saja. Sebab cinta telah merubah aku yang dahulu dan aku yang sekarang.
Kini bukan lagi persoalan siapa aku dan kamu. Tapi tentang aku yang sudah yakin memilih, namun sering kali berkecil hati. Sering sekali. Pilihanku berujung diam dan tak lagi banyak bercerita tentang tiap-tiap hujan yang datang di penghujung malam. Sama seperti ketika kutulis ini semua, aku sedang menangis tepat di 12.30 menuju awal pagi. Menangisi aku dan kamu di masa depan. Sendiri berteman malam pekat yang dingin, di tengah lelapnya orang-orang shalihin. Siapapun kamu. Kamu begitu penting bagiku.

Tak mengapa semua mengundang tanya, aku hanya ingin kamu mengerti. Meski banyak sekali orang-orang yang kemudian anti. Tak lagi menaruh simpati. Banyak sekali orang-orang yang anti padaku, menjauhiku, dan menganggap hina aku yang memang sudah kecil jiwanya. Tak mengapa pula bila pada akhirnya aku akan di asingkan tersebab ini semua. Kekeliruan yang tak aku antisipasi dahulu sebelum semua ini terjadi padaku.Tak mengapa. Sebab pada Allah aku telah mengikhlaskan segala hal yang terjadi dalam hidup ini. Pesantren yang berbeda, Ruh yang selalu ingin belajar, mata yang tak pernah berhenti melukis nanar. Sebab aku yang dulu memang sudah berbeda dengan yang sekarang. Mengertilah.
Cinta mengubah segalanya. Mengubah segala hal dalam hidupku. Mengubah lelaki dalam diriku. Mengubah segala ketakutan menjadi segudang harapan dalam keyakinan. Mengubah putus asa menjadi jiwa penuh gelora. Mengubah segala tandus, menjadi subur sejuk bersahaja. Bahkan amat menggugah bahagia, kala semua yang terencana berbuah sama tanpa ada satu halpun yang mengandung beda. Tapi ini khayal, belum nyata. Meski kian hari aku terus mendoa perihal kita yang jauh berbeda. Dengarkan, dan maafkan aku yang seperti ini.
Tidak ada hal yang paling berharga, selain berkamuflase menjadi lebih baik dari hari kemarin. Bukankah kita akan masuk kedalam golongan orang-orang yang kemudian berntung, tersebab telah mampu mengubah diri untuk lebih baik. Mengerti atau tidak, tapi kamuflase ini memang penting dalam setiap sisi hidup kita.
Ada satu hal yang sederhana, lucu, namun sebenarnya sedang aku damba. Kembali pada keadaan dimana tubuhku tidak segemuk ini. Hehe. Ah, kamuflase memang penting. Tapi tidak sesadis ini juga, mengubah aku yang kecil, menjadi subur mendadak. Entah apa sebabnya. Katanya tanda bahagia. Memang bahagia, tapi jangan begini juga. Hehe.
Padamu tuan masa depan, lagi-lagi aku harus mengingatkan diri untuk tidak lupa kembali pada proses memperbaiki. Untuk menjamu episode paling istimewa saat kamu ada disana. Sebelum semangat merenta, sebelum gagahku melemah untuk menggelorakan kebaikan. Sebelum terlambat untuk mengukir prestasi di langit peradaban. Sebelum aku mati tanpa hal-hal yang berarti. Jangan lelah, aku berjuang, kamupun berjuang. Hanya berbeda pada keadaan. Aku berjuang memperbudak fisik, kamu berjuang menjaga hati. Demikian kan? Sederhana, tapi berjuta makna.
Nanti, mungkin kita akan tersandung pada hal-hal yang kontradiksi, pada perbedaan-perbedaan yang penuh dengan negosiasi. Pada debar degub yang memenuhi sesak didada. Pada segala asumsi yang berujung antisipasi. Namun tak mengapa, justru disana pula kita akan belajar memahami beda. Menyatukan segala persepsi menjadi gagasan yang terealisasi. Menyatukan pandangan, pada segala hal yang mengundang tanya. Pada apa saja yang membawa kita menjadi seorang pembelajar.

Dengarlah. Soal pertemuan kita nanti, ini hanya soal waktu. Hanya soal jarak yang membatasi kita, menjadikan semua seolah tiada. Meski pertemuan kita kelak niscaya atau tidak. Kita hanya punya satu kunci membuka taabir itu semua. Yaitu percaya. Kita hanya perlu percaya. Bahwa Allah sesuai prasangka hambaNya. Bahwa Allah Maha mengabulkan segala pinta dan keyakinan. Maka sekali lagi percayalah.


Aku telah memilih menujumu, meski akan tiba saatnya. Kamu akan megujiku dengan pilihan yang berbeda. Berbeda dari aku yang tulus memilihmu.
Bagi lelaki yang berkecil hati sepertiku, tak ada cita paling besar. Selain menuju tua dengan ibadah yang sempurna. Bisa jadi bersamamu. Maka biarkan kita Berkamuflase. Kamu(flase) Untukku. Untuk Segenap CINTA.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar