Kamuflase terbaik dari sebuah
luka adalah bahagia. Tangis menjadi tawa. Cemas menjadi tenang tak berbatas.
Rindu, menjadi temu yang berbalas. Dan Cinta mengudara menebar aroma bahagia.
Cinta berperan penting disana.
Dalam kehidupan kita. Tergantung kita pula bagaimana memaknai itu semua.
Menjadikannya obat, atau bius yang membawa penyakit semakin tak terlihat.
Hingga kala tersadar, kita malah menyaksi luka semakin lebar menganga. Bukan
menyembuhkan, tapi malah memperparah keadaan.
Cinta berperan penting disana. Mengubah segala
hal menjadi tidak lagi biasa. Sama seperti
aku yang hari ini memaknainya sebagai semangat dalam diriku. Semangat
untuk tetap menjalani hari dan menghabiskan sisa waktu, meski apapun yang
terjadi nantinya. Aku yakin akan baik-baik saja. Sebab cinta telah merubah aku
yang dahulu dan aku yang sekarang.
Kini bukan lagi persoalan siapa
aku dan kamu. Tapi tentang aku yang sudah yakin memilih, namun sering kali
berkecil hati. Sering sekali. Pilihanku berujung diam dan tak lagi banyak
bercerita tentang tiap-tiap hujan yang datang di penghujung malam. Sama seperti
ketika kutulis ini semua, aku sedang menangis tepat di 12.30 menuju awal pagi.
Menangisi aku dan kamu di masa depan. Sendiri berteman malam pekat yang dingin,
di tengah lelapnya orang-orang shalihin. Siapapun kamu. Kamu begitu penting
bagiku.
Tak mengapa semua mengundang
tanya, aku hanya ingin kamu mengerti. Meski banyak sekali orang-orang yang
kemudian anti. Tak lagi menaruh simpati. Banyak sekali orang-orang yang anti padaku,
menjauhiku, dan menganggap hina aku yang memang sudah kecil jiwanya. Tak
mengapa pula bila pada akhirnya aku akan di asingkan tersebab ini semua.
Kekeliruan yang tak aku antisipasi dahulu sebelum semua ini terjadi padaku.Tak
mengapa. Sebab pada Allah aku telah mengikhlaskan segala hal yang terjadi dalam
hidup ini. Pesantren yang berbeda, Ruh yang selalu ingin belajar, mata yang tak
pernah berhenti melukis nanar. Sebab aku yang dulu memang sudah berbeda dengan
yang sekarang. Mengertilah.
Cinta mengubah segalanya. Mengubah
segala hal dalam hidupku. Mengubah lelaki dalam diriku. Mengubah segala
ketakutan menjadi segudang harapan dalam keyakinan. Mengubah putus asa menjadi
jiwa penuh gelora. Mengubah segala tandus, menjadi subur sejuk bersahaja.
Bahkan amat menggugah bahagia, kala semua yang terencana berbuah sama tanpa ada
satu halpun yang mengandung beda. Tapi ini khayal, belum nyata. Meski kian hari
aku terus mendoa perihal kita yang jauh berbeda. Dengarkan, dan maafkan aku
yang seperti ini.
Tidak ada hal yang paling
berharga, selain berkamuflase menjadi lebih baik dari hari kemarin. Bukankah
kita akan masuk kedalam golongan orang-orang yang kemudian berntung, tersebab
telah mampu mengubah diri untuk lebih baik. Mengerti atau tidak, tapi kamuflase
ini memang penting dalam setiap sisi hidup kita.
Ada satu hal yang sederhana,
lucu, namun sebenarnya sedang aku damba. Kembali pada keadaan dimana tubuhku
tidak segemuk ini. Hehe. Ah, kamuflase memang penting. Tapi tidak sesadis ini
juga, mengubah aku yang kecil, menjadi subur mendadak. Entah apa sebabnya. Katanya
tanda bahagia. Memang bahagia, tapi jangan begini juga. Hehe.
Padamu tuan masa depan, lagi-lagi
aku harus mengingatkan diri untuk tidak lupa kembali pada proses memperbaiki. Untuk
menjamu episode paling istimewa saat kamu ada disana. Sebelum semangat merenta,
sebelum gagahku melemah untuk menggelorakan kebaikan. Sebelum terlambat untuk
mengukir prestasi di langit peradaban. Sebelum aku mati tanpa hal-hal yang
berarti. Jangan lelah, aku berjuang, kamupun berjuang. Hanya berbeda pada
keadaan. Aku berjuang memperbudak fisik, kamu berjuang menjaga hati. Demikian
kan? Sederhana, tapi berjuta makna.
Nanti, mungkin kita akan
tersandung pada hal-hal yang kontradiksi, pada perbedaan-perbedaan yang penuh
dengan negosiasi. Pada debar degub yang memenuhi sesak didada. Pada segala
asumsi yang berujung antisipasi. Namun tak mengapa, justru disana pula kita
akan belajar memahami beda. Menyatukan segala persepsi menjadi gagasan yang
terealisasi. Menyatukan pandangan, pada segala hal yang mengundang tanya. Pada
apa saja yang membawa kita menjadi seorang pembelajar.
Dengarlah. Soal pertemuan kita
nanti, ini hanya soal waktu. Hanya soal jarak yang membatasi kita, menjadikan
semua seolah tiada. Meski pertemuan kita kelak niscaya atau tidak. Kita hanya
punya satu kunci membuka taabir itu semua. Yaitu percaya. Kita hanya perlu
percaya. Bahwa Allah sesuai prasangka hambaNya. Bahwa Allah Maha mengabulkan
segala pinta dan keyakinan. Maka sekali lagi percayalah.
Aku telah memilih menujumu, meski
akan tiba saatnya. Kamu akan megujiku dengan pilihan yang berbeda. Berbeda dari
aku yang tulus memilihmu.
Bagi lelaki yang berkecil hati
sepertiku, tak ada cita paling besar. Selain menuju tua dengan ibadah yang
sempurna. Bisa jadi bersamamu. Maka biarkan kita Berkamuflase. Kamu(flase) Untukku. Untuk Segenap CINTA.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar