“Persoalan Cinta, wajah bukan lagi
alasan untuk siapapun mulai memiliki”
Ah, naif memang kala lidahku keluh mengatakannya
lewat tulisan. Bagaimana bisa, sementara wajahmu sering kali hadir dalam
sujudku. Terdetak lewat do’a, mengurai tanya tanpa jawaban. Kamu ini sebenarnya
siapa?
Berulangkali kita dipapasi waktu, meski aku selalu
tau caranya menjaraki diri denganmu.
Tapi, adakalanya akupun lupa. Tercuri celah oleh iblis. Cedera, ah. Aku
atau kamu. Kitalah yang pada akhirnya mulai cedera. Maka pada tiap kesempatan,
meski akupun terjebak sendiri. Selalu kucoba menenangkan keadaan tanpa sepatah
katapun. Begitulah aku ini. Kamu boleh kebingungan, menaruh sejuta prasangka,
dan menjatuhi benci dalam hati. Tapi aku tetap takkan luluh. Sampai kapanpun, akulah
yang tak akan mudah tertebak. Tak akan terdeteksi oleh radar siapa saja.
Terlebih oleh kaummu itu. Oleh orang-orang sepertimu. Meski akulah yang paling
kehabisan emosi.
Kepadamu yang baik hatinya, kala kamu baca tulisan
ini mungkin akan terasa asing. Tapi meski bagaimanapun bentuknya, dan sesulit
apapun kamu paham tentangnya. Aku lebih dulu mengatakan terima kasih atasmu,
telah sudi menyempatkan waktu untuk membuka. Ada waktunya kamu akan mengerti
akanku yang payah ini.
Dimulai dari mana saja. Kamu akan tetap menjadi
berarti untukku. Seorang adik, kakak, atau teman berjuang sekalipun kamu mampu
memposisikan diri. Istimewa sekali. Bahkan yang paling aku tidak mengerti,
semangatmu tak pernah padam, pedulimu kadang keterlaluan, seringkali menjelma
candu pada diriku. Dan aku jadi cemburu,
kala ternyata hatiku menyadari bukan padaku saja pedulimu bersemayam mewah. Ah,
kamu keterlaluan. Aku jadi malu sendiri. Tak mampu mengimbangi sosokmu. Seorang
yang kamu bawa dalam dirimu.
Tapi, adakalanya aku akan menjadi berbeda dalam
beberapa waktu. Meski seperti apapun kamu perduli. Meski sedalam apapun kamu
memahami. Tetap kembali aku tegaskan kepadamu. Akulah seorang yang akan selalu
tak mudah untuk di tebak. Meski setinggi apapun mengawang-awang di janjikan
bahagia.
Aku tau, sakit sekali kecewa. Sulit sekali tersenyum
sembari menahan luka. Memang begitu, kita tak mampu melakukan dua hal dalam
waktu yang bersamaan. Apalagi harus menyembunyikan perih dalam senyuman.
Sekelas raja sekalipun, akan sukar melakukannya. Apalagi bagi seorang yang
rentan sekali sepertimu. Seperti kita. Tapi tidak mustahil jikalau kita mampu
kebal pada apapun yang terjadi. Mampu bertahan pada komitmen diri sendiri. Atau
tidak jatuh pada duri-duri milik orang lain. Kita akan baik-baik saja.
D
engarlah. Aku memerhatimu. Aku mendengar meski
suaramu lirih sekali mengadu. Aku tak akan pernah jauh, meski seringkali kamu
merasa demikian. Aku tetap disini saja. Seperti sebelumnya yang pernah aku
janjikan. Aku takkan pergi sebelum waktu. Karena kita sudah teman sejak saat
itukan? Kita pernah sepakat disini. Dan aku tidak akan mengingkari. Cermatilah
mulai detik ini juga. Selepas kamu dengar aku yang payah ini.
Selama kita hidup dan berjalan di muka bumi. Kita
tak akan mampu mengingkari berbagai hal akan terjadi. Kita tak akan sanggup
membatasi diri dari luka atau bahagia. Meski keduanya adalah pilihan. Tapi
bagiku keduanya juga tak bisa kita tetapkan sesuka hati. Cermatilah. Kita tak
akan mampu membuat orang lain senantiasa suka dengan kita, sepakat atas pendapat kita, setuju dengan
ingin kita, atau searah dengan pikiran kita. Tak akan bisa. Sekalipun nantinya
kita menebar sejuta pesona, atau diam menahan jiwa dari celaka. Semua orang
akan tetap sama. Ada yang suka dan adapula yang pro-kontra. Selalu begitu
bukan? Akan ada golongan kanan dan kiri. Golongan orang-orang patah hati,
kecewa dan luka. Dan golongan orang-orang yang tegas, istiqomah, sabar, dan
bersahaja. Lalu kita ada dimana?
Kita pernah komitmen untuk berjalan, tidak peduli di
sapu badai atau hujan, di jamu pelangi atau luka tanpa tepi. Kita akan tetap
berjalan. Meski menuai terjal atau jalan mendatar. Karena kita sama mengerti.
Bagi seorang da’i, para pejuang kebaikan. Pujian dan hinaan buahnya sama saja.
Ia menyimpan ujian. Itu sebabnya nasihat ini terus terngiang. Tidak membumbung
kala di puji, dan tidak hina kala di caci. Ah, lemahnya diri kala akupun tak
mampu menyanggupi sendiri. Kadang termakan keduanya berapi-api. Sebab memang
rentan sekali untuk kita yang tak mampu sempurna menterhijabi diri.
Kita pernah komitmen disini, apapun situasinya maka
kita akan tetap sama. Menasehati, peduli, saling terjaga, dan di akhir adalah
konsisten untuk saling mengingatkan. Pada point akhirlah yang membuat aku
bertahan hingga detik ini. Di ingatkan olehmu. Selalu. Baik kala jatuh atau di
bumbung bahagia. Selalu ada kamu disana. Tersenyum dengan segenggam harapan,
dan aku yakin semua akan baik-baik saja.
Cermatilah sekali lagi. Bahwa kamu selalu berhasil membuatku terjaga, kala yang
lain hanya mampu melemahkan. Bahkan kala kurasa sekarat sudah ada di pelupuk
mata. Kamu tak pernah absen menanyai kabarku yang payah ini. Menguatkan jiwa
yang kerontang dari harapan. Menenangkan hati yang cemas atas iman yang
mengerdil. Ah, naif sekali untuk kamu
peduli aku yang bukan apa-apa.
Tapi, sekarang akulah yang di lempar tanda tanya
yang amat besar. Kala pergimu tanpa permisi, kabarmu sebatas senyum tanpa arti.
Dan sebisanya aku tak banyak menaruh prasangka. Meski kini aku harus menguatkan
diri sendiri. Tak mengapa. Karena-Nya aku yakin semua baik-baik saja. Kamupun mengatakan demikiankan?
Kamu pernah bertanya, kenapa aku ingin kamu
membenciku? Atau kenapa aku menjadi dingin padamu dalam beberapa waktu lalu.
Maka ku tegaskan di sini. Aku tak punya maksud apa-apa. Aku tak mampu menebar
jawaban dalam tanya-tanyamu. Aku hanya sedang menentukan pilihan. Dan aku sudah
memilih yang terbaik untukku. Terlebih juga untukmu. Kita adalah sekumpulan
prasangka milik orang lain. Apapun yang kita lakukan. Oranglain lah yang
mengomentarinya. Untuk itu aku paham. Segala kata yang mengudarai kita adalah
aku penyebabnya. Adalah aku pemicunya di antara kita. Memupuk banyak
benih-benih dosa. Kamupun jadi terlibat di dalamnya. Cedera. Kita tak boleh
lebih jauh di dera. Dan, aku selalu tau caranya menghukumi diri sendiri. Inilah
yang ku maksudkan. Aku tak akan membuka diri untuk siapapun. Kecuali kamu mau
memahamiku dari sini saja.

Aku tau caranya menghukumi diri sendiri. Termasuk
perlahan membuatmu jauh dariku, membenci aku yang payah ini. Meski jauh di
sini, aku ragu untuk memalingkan diri. Ah, demi kebaikan. Apapun konsekuensinya
akan ku tembus. Kala meyakinkanmu sulit sekali. Maka ku yakinkan diriku bahwa
kamu benar sudah tak lagi berdamai denganku. Maka pada orang-orang terdekatmu
ku ulas kembali. Bahwa aku sudah jenuh berurusan denganmu. Bahwa aku sudah jera
denganmu.
Orang-orang terdekatmu pula adalah caraku meyakinkan
bahwa aku benar-benar ingin kamu jauh dengan caraku. Meski kamu sulit sekali
mengerti, aku ingin kita baik-baik saja. Aku ingin kita terjaga semasingnya.
Siapapun kamu. Siapapun namamu. Cermatilah. Beginilah caraku menjaga
orang-orang di sekitarku dalam kebaikan. Meski aku akan salah di mengerti.
Meski aku harus kehilangan puji. Meski aku akan menuai sejuta caci. Tak mengapa.
Asal mampu menebus kesalahanku atas tersesatnya dirimu. Atas tersesatnya
siapapun olehku. Karena memang duriku lebih banyak melukai. Dan sekali lagi ku
katakan, seperti inilah caraku menghukumi diri. Dan membuatmu terjaga dari aku
yang payah ini. Membencilah untukku. Mungkin juga inilah caraku mendewasakanmu
sebagai seorang teman. Teman yang aku cintai karena-Nya. Dik.
Pada iman yang terombang-ambing berbelantara, pada
amal-amal yang terluka, pada serpih-serpih harapan tanpa sisa. Pelik sekali,
kala sendiri lebih menyadarkan hati bahwa naif ini telah membumbung tinggi.
Maka bagiku, menghinakan diri di hadapan manusia adalah salah satu cara agar
tidak terpancing fitnah dunia. Dan angkuh pada sesuatu yang kita punya. Ah,
naifnya diri ini. Kerdil sekali aku ini kan?
Kepadamu yang memutuskan pergi
sendiri, maafkan aku yang tak selalu menyedia bahu untukmu. Karena sesempurna
apapun kamu menuntut pribadiku. Aku tak akan mampu terjaga seperti yang kamu
inginkan. Inilah aku, dan kamu akan tetap sama bagiku.
Ketahuilah sekali lagi. Cermatilah. Di jalan
kebaikan, ada banyak luka yang akan kita terima, akan banyak duri yang siap
kita jejaki, tak terhitung dalamnya terjal yang akan kita lalui. Terlebih tak
akan ada habisnya itu semua. Belum lagi badai cacian, terpaan fitnah, dan
peliknya salah paham akan kita hadapi. Ada masanya. Dan kita sedang di hadapkan
pada itu semua. Mengertilah. Kembalilah pada niatan kita. Karena-Nya kita
bertemu dan berjuang di sini. Apapun deritanya kita akan tetap ada. Tidak
peduli di awal atau akhir, cerita kita akan tetap sama. Meski kamu telah
memutuskan berhenti lebih dulu. Tapi tak mengapa, sebisaku akan menyeimbangkan
langkahku sendiri. Dengan atau tanpa kita sekalipun, jalan ini akan tetap
berlanjut. Itu yang aku yakini. Dan aku tidak berhenti meski seperti apapun
ujiannya. Karena, disinilah prosesku berjalan. Disinilah jiwaku bersemayam. Dan
disini sajalah dulu aku belajar. Kamu, maukah kamu tetap disini saja menemaniku
lebih lama? Membina rumah hati bersama.
Betapapun kita kecewa, di hujani luka, di saji murka
dan caci, bahkan di jauhi tanpa alasan pasti. Sakit memang, bak tertelan bumi
seketika. Tapi sebagai seorang pembelajar, kita pula adalah orang yang layak
untuk tetap berbaik sangka pada siapa saja. Bahkan pada yang melukai kita
sekalipun. Tidak mustahil, selagi kita mampu bertahan dan berbesar hati. Kamu
tau, tapi masih saja lupa. Sekali lagi, hinaan dan pujian itu sama saja. Dan
selagi niatan kita Lillah, maka penilaian manusia tak layak jadi tolak ukur
baik buruknya kita. Bukan alasan logis untuk kita memilih berhenti dari jalan
kebaikan. Ah, duhai diri.
Kala kritik dan nasihat terasa pedih menderai kita,
bisa jadi hati kitalah sedang dalam masalah. Bahkan kalimat lembut dan apikpun
serasa bagai luka. Bisa saja demikian. Sebab iman yang melemah rentan sekali
memberi celah pada iblis untuk menguasai kita. Lalu terjauhlah kita dari
kebaikan-kebaikan yang sebelumnya ada. Duh, kepadamu yang baik hatinya. Maafkan
bila nasihatku kadang masih terasa bagai duri.
Tapi disini kembali aku ingin kamu cermati
baik-baik, dengarlah, perhatikan apa yang aku kata. Bahwa di sekitar kita
banyak sekali cinta bersemayam dan tertuju pada diri kita. Meski kita tak sadar
akan itu semua. Dengarlah. Betapa banyak orang yang memiliki Cinta dan kasih
sayang. Namun sulit sekali mereka mengutarakannya.
Ada yang mampu dengan komplitnya menyampaikan cinta
lewat nasihat dan perilaku. Ada pula yang hanya sempurna tersampai lewat kata
kala menasehati, namun tak mampu mewujudkan cinta dalam perilaku. Ada pula yang
kata-katanya pedas tanpa tepi, namun begitu lembut kala menyampaikan cinta
lewat perilaku. Adapula lagi yang begitu tak mampu akan keduanya dalam
menyampaikan perasaan cinta dalam diri. Cacat sekali. Ucapannya kasar, dan
perilakunya berantakan. Namun jauh di hati, cinta membuncah untuk di nyatakan
dalam nasihat dan laku yang sempurna. Itulah manusia. Kita tak utuh sama.
Semuanya berbeda. Dan tergantung kita bagaimana menyikapi kondisi pada setiap
hati. Inilah yang kumaksudkan juga, sebagai kekuatan baik sangka. Mengubah
benci jadi baik hati. Mengubah yang luka jadi baik-baik saja.
Ah, terberkahilah pribadi-pribadi kita ini. Bila
sedetik saja kita mau menurunkan ego dalam diri. Bila saja kita mau
menginsyafi, bahwa terdapat cinta dalam nasihat. Maka terbangun kokohlah menara
kebaikan pada hati-hati kita. Tiap-tiap ruang diri kita.
Maka mendengarlah lebih luas, lebih banyak lagi.
Biarkan hatimu bicara dan menerima orang lain. Maka mendengarlah lagi.
Dengarkan aku.
Si Pena Kecil.