Sabtu, 14 Oktober 2017

Aka(d)n Kah Aku Bertahan?

Ketika Hujan Jatuh, mereka hadir dengan Ukuran, Rinai, Gerak, dan Kecepatan yang berbeda-beda.
Bisa jadi, dari apa yang ku perhitungkan adalah sesuatu yang layak untuk kita benarkan. Atau tidak sama sekali.


Begitu juga denganmu, sisi dari kehidupan yang tidak aku pahami.
Dimensi ku persidang satu persatu, demi jawaban atas sebuah tanya. Kenapa kita di pertemukan?
Sesuatu yang Tuhan inginkan terjadi, tapi sempurna aku tak paham makna dari semuanya, makna dari pertemuan kita.
Makna dari Seduhan Pagi ke Senja yang nyaris kita bagi dan Nikmati bersama.
Makna dari ucapanmu tempo hari, Kamulah senyuman termanis yang layak bagiku.
Atau Ucapan, Akulah Lukisan dalam setiap Bait “RINDU” yang kamu susun sejajar dengan semua arah jarum Jam dalam Hatimu..

Kepadamu,
Dari enam puluh detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Bolehkah aku bertanya?
Apa dalam Kehidupan ini, hanya kamu Pemilik Episode Senyuman itu?
Benarkah? Kamu terlahir untuk senantiasa tersenyum?
Bagaimana Aku harus menyampaikannya kepadamu.
Mengatakannya..
Kadang aku sering bertanya, darimanakah aku harus mulai bertanya padamu.
Bicara denganmu, sedang menatapmu dari sini saja aku tidak mampu.
Kadang aku sering bertanya, darimanakah aku harus mulai menyapamu.
Sedang dalam Diam, semua kata menggebu dari sudut mana saja untuk aku sampaikan satu persatu.

Kepadamu,
Dari enam puluh detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Bolehkah aku bertanya?
Pernahkah kamu Hujan di saat sendiri?
Atau merasa Gerimis di watu Sunyi,?
Atau setidaknya merasakan mendung ketika Lelah.?
Pernahkah? Kamu mengalami mendung yang dahsyat, lalu Hujan menyirami Hatimu dengan begitu kuat, kebingungan melandamu untuk bertanya, kemana aku harus berteduh dari semua ini.
Pernahkah?
Atau kamu kah sesuatu yang terlahir dengan penuh warna dalam pelangi yang tak berujung waktu indahnya itu?


Kepadamu,
Dari enam puluh detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Bolehkah aku bertanya?
Saat kamu baca semua tulisan ini, pernahkah kamu merasa.?
Bahwa kamulah yang ku maksudkan dalam setiap garis kata-kata ini.?
Bahkan ketika aku harus menjadi manis secara terpaksa di setiap ujung nya.
Kamulah, alasan atas keterpaksaan itu. Bahwa aku akan selalu manis di hadapanmu.
Menjadi wajah Hati yang paling Rahasia di Ujung Bumi ini.
Cukuplah, Aku dan Lelaki Berkopiah Hitam membawa dirinya selalu sejuk, yang tau akan semua ini.
Kunci dari perasaan yang mungkin kami sendiripun tak mampu menyimpannya.
Maka Cukup Pula –Dia  penilai atas diri ini, penjaga atas semua, Hati, pikiran, dan prasangka-prasangka milik semasing kita. Cukuplah itu semua, untukku.

Kepadamu,
Dari enam puluh detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Bolehkah aku bertanya?
Seperti biasa yang kamu katakan, kita jangan jadi gelas yang senantiasa tertutup untuk sebuah suasana.
Menjadi wadah dari rasa yang tidak ada artinya.
Menjadi gelap atas terangnya dunia ini.
Sungguh aku tak menginginkannya, menjadi bayangan yang senantiasa layu dari cahaya.
Tapi Dari itu semua, apakah kamu paham?
Bahwa Menjadi Warna dari Illahi, adalah jalan tentang kenapa semua larut untukku jaga.
Dalam pandangan siapa saja, mereka bebas menerjamahkan arti dari perasaan kan?
Setengah saja dari perasaan yang aku punya, kamu mungkin akan paham jika kita menghabiskan secangkir teh untuk ku jelaskan semuanya kepadamu.
Mungkin, atau pun akhirnya kamu tetap mengeras seperti apa yang ku rasa saat ini.
Sebenarnya, ada banyak teka-teki yang ku kemas serapi mungkin.
Semua karena-Nya. Karena Harapan ada Cinta dari –Dia yang hadir untukku.
Meski kiasnya seperti setetes air dari ujung jarum yang di Celupkan ke Laut.
Meski sedikit, tak berarti, tapi kurasa adalah Kecukupan atas Hausnya aku akan Cinta dari-Nya.

Hidup adalah perjuangan, ada banyak saksi atas itu semua.
Keringat, Tubuh yang terbakar matahari, langkah yang lelah, atau senyum yang memudar pesonanya.
Maka dari perjuangan itu, aku ingin belajar lebih banyak dari arti kehidupan ini.
Arti dari kenapa ada senyuman yang tidak bisa ku miliki atasmu. Sepertimu.
Itu sebabnya aku mulai banyak bertanya, Kepadamu.
Dari enam puluh detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Kenapa episode kehidupanmu banyak senyuman?

Tidak kah kamu ingin  mengetuk Perasaan dalam diriku, menuangkan Secawan Madu yang manisnya menenangkan perasaan.
Aku bertanya, dan jawablah. Di sana, saat kamu baca ini semua.
Kata-kata yang tak jelas arahnya. Kan?

Maaf, ada Senja yang harus ku hapus. Senja dengan warna Jingga yang selalu kamu Suka.
Senja, ujung dari kelelahan atas Hari yang panjang.
Ujung dari lelahku..
Yang ku tau, kamu sering bertanya, kenapa sekarang mendingin?
Kenapa menjadi sering Hujan?
Mendadak Sunyi saat sendiri. Atau semacamnya lagi.
Semua, karena ada perasaan yang sukar aku jelaskan.
Ada pikiran yang tak mengenakan hati, bila ia ku abaikan.
Kamu pernah begini atau tidak sama sekali?
Benar, Bahwa episode senyuman, hanya ada pada dirimu.?
Maka mendekatlah dari apa yang kamu baca saat ini.
Bahwa, kehidupan adalah kumpulan dari Perasaan yang ada dalam Hati.

Kepadamu,
Dari enam puluh detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Bolehkah aku bicara?
Ada seorang yang harus ku rangkul pundaknya,
Ada seorang yang harus ku seimbangkan langkahnya,
Ada seorang yang harus ku cerahkan siangnya,
Ada seorang yang harus ku jaga senyumnya,
Ada seorang yang harus tetap berdiri, dalam Hujan yang tidak henti-henti.
Semua karena ada seorang yang bisa jadi sedang membutuhkanku.

Kamu Boleh marah, membenci, bahkan menaruh prasangka yang tidak-tidak padaku,
Atas kegaduhan yang ku sebabkan dalam “Lima Hari yang Kita Habiskan Bersama Rasa Sakit”.
Lalu mengatakan, bahwa aku menodai Perasaan ini padamu.
Tentang Sejuta yang harus ku relakan ujungnya.
Tentang Ikatan yang melemah di antara semasing kita,
Tentang apa saja, yang jadi penyebab bahwa aku harus menerima amarah darimu.

Maka seandainya kamu ada disini, tau tentang apa yang sedang terjadi padaku.
“Tidak kah kamu ingin  mengetuk Perasaan dalam diriku, menuangkan Secawan Madu yang manisnya menenangkan kegaduhanku.?”


Aku hanya menjaga waktu dalam diriku, menjaga Cinta dalam Hatiku.
Bahwa ada seorang yang sedang akan menangis lebih lama di Bahuku, mengeluh atas dunia ini.
Bahwa ada Seorang yang sedang harus ku jaga Hatinya,
Maka biarlah aku terhina di hadapanmu, di hadapan orang-orang yang ku jadikan Gaduh dalam hatinya. Bersamamu Juga.
Biarlah aku terenyuh atas kesalahan yang ku perbuat, untuk seseorang yang sedang menangis di bahuku.
Biarlah aku mendarah atas luka yang ada, asal –Dia mencintaiku sebagai Hamba.
Biarlah aku menangis untuk seorang yang harus ku basuh air matanya di sampingku.

Biarlah aku terhina di Bumi, Tempat dimana Uwais tak di kenal seisinya.
Asal ada –Dia, Biarlah semua beban ini ada padaku.
Biarlah..
Aku menjadi  salah, untuk membenarkan Orang lain.
Seandainya itu adalah Kebaikan di sisi-nya..

Aku,  hanya senantiasa memahami CINTA.
Bahwa persaudaraan itu adalah CINTA, ia akan meminta segalanya darimu, waktu, senyuman, tangisan, darah, harta, pengorbanan, dan apa saja.
Karena mencintainya sebagai saudara, adalah perasaan dalam Hatiku.
Aku Mencintai untuk Mencintai-Nya.
Lalu ku lauhkan Do’a semoga aku di beri lebih banyak Ikhwan dalam Kehidupan.
Agar ketika aku tidak ada, akan ada yang menarik tanganku keluar dari hinanya Neraka.

Maka,
Aka(d)n kah aku Bertahan?


Dariku Yang Lemah,   -De’ Pamungkas


Jumat, 22 September 2017

Senjamu, Bukan Lagi Aku


Dari Ujung Pena, orang-orang bisa menyekat Senyuman untuk Menyapa.   

Seiris, dari perasaan Sedih yang kau Saji satu persatu baitnya oleh Kata.
Aku terbawa, seperti senyum ibu yang menyekat tangisku untuk menumpah Ruah.
Seperti  itu pula, orang-orang menyekat senyumku untuk menyapa.
Kau salah duanya, setelah satu diantaramu terciduk olehku.
Penyebab selalu, menyekatku untuk menjadi Biru yang teduh.
Sebab atasku, ragu mengukir tawa.
Waktu ke waktu, aku belajar memahami Detik denganmu.
Merasa, aku hanya terasa.

Menjadi Debu, pada terik yang kau basuh secawan madu.
Manis, tapi lidahku menolak. Sia-sia....
Setiap pagi, siang, bahkan malam di Lima Hari Yang Kita Habiskan Bersama Rasa Sakit.
Aku terus belajar, memahami tentang kenapa aku harus bertemu dan dikenalkan denganmu, Oleh-Nya.  
Dan aku mulai bisa memahamimu, tentang apa yang kau saji, dan apa yang kau bawa sembunyi.

Kau tak pernah akan tau. Kadangkala, aku menemukan pelangi di genggamanku, lalu mendadak matahari mendarahi tubuhku.Semua ada, sejak aku harus mengenalmu dengan terpaksa. 
Berkali, bahkan kurasa aku lelah menuang ribuan liter soda. Yang membuatmu semakin lupa Arti dari perasaan dalam hatiku.
Menuangkanmu ketenangan, menyedia bahu atas lelahmu, dan nyanyian atas semua tidurmu.

 Aku.. Sejenak Lelah....

Bagian dari jatuh cinta, adalah bahagia yang ujungnya seperti tak ada. Dan Aku sudah jatuh cinta padamu.
Pada pertemuan, pada candaan, pada tepuk tangan dari decak kagum semasing kita.
Dan aku tidak bahagia..... dari jatuh Cinta ini.

Jangan banyak bertanya. Kadang Mendung menghampiri langit sore yang kukira sempurna senjanya. Kau adalah langit atas itu semua..
Beberapa kali, sudah sering ku urai,
Kau tak perlu lelah menebakku.  Jangan menaruh candu atas senyumku, atau bertanya banyak padaku.
Sebab, seperti apapun aku, kau tak akan pernah paham perasaan yang aku sampaikan.

Sudah dari Hati, tapi Detik menyatakan aku hanya untaian basi yang kau kemas dalam setiap obrolanmu.
Dan aku tak perlu memungut itu semua satu persatu, bait yang kau saji tanpa Hati.
Aku lelah, jangan Tanya pribadiku seperti apa.
Puisimu tak cukup layak melukisku, atau tak cukup tajam menebas lalang yang mulai ramai di sekitarku.
Senyumku tak atasmu, Atau kebodohan yang ku buat-buat, juga bukan untuk menyenangkanmu.
Kau tak akan pernah paham siapa au sebenarnya, jadi berhentilah atasku. semua ini sia-sia. Memerhati setiapku yang memang kau tak harus tau.

Sekarang, kau harus banyak paham.
Aku bukan pagimu, yang bisa kau dera sejuk setiap waktu.
Aku buat siangmu, yang debunya bisa kau basuh madu di tengah terik itu.
Aku bukan malammu, yang bisa kau atur gelapnya memarau sendu.

Aku adalah hujan dari segala arah, atas hatimu.
Yang mengeras dari kutub yang jauh dari prasangkamu.

Kau menilai senyum dan kebodohan adalah pemandangan dariku.
Tapi bagian itu semua hanya ku buat, untuk mengemas siapa kau sebenarnya.
 Penikmat Teh hangatku? Atau hanya pemesan, yang pergi setelah pesanan selesai untuk di hidangkan.

Jika kau Tanya warna, aku bisa menjadi apa saja. Tanpa harus kau tau sepenuhnya.
Warna ketegasan, kesejukan, keceriaan, dan Cinta.
Aku ada di antaranya.
Maka jangan memesan secangkir teh hangat lagi padaku.
Sebab aku sudah mendingin, sejak aku harus mengenalmu secara terpaksa.
Kau tidak akan menemui warna yang dulu padaku.
Pada Bias Senja, langit memudarkan warna itu dalam satu titik. Memecah, lalu menyatukan perasaanku dalam satu bait.



Senjamu, bukan lagi aku.



Jumat, 21 Juli 2017

Karena Rindu.. Kan?

Menghabiskan Sedetik, bisa jadi terasa berminggu-minggu.  Atau bisa jadi juga berlalu dengan begitu damai. 


Kepada Hati seorang yang cemas, Sunyi, menunggu, atau Jauh dari sesuatu yang berharga.
Kepada Hati seorang yang Tenang, memeluk Manis Waktu, dan memahami Keadaan yang ada.

Menghabiskan Sedetik, bisa jadi terasa berminggu-minggu. Atau bisa jadi juga berlalu dengan begitu damai.

Kepada Hati Seorang Pemuda yang menunggu Cemas teman Hidup di Ruang Tunggu.. Menanti Buah Hati tersenyum menyapa Dunia baru. Melengkapi Lukisan Keluarga yang semakin meramai.

Kepada Hati Seorang Anak Desa yang berlari kesana kemari penuh Tawa. Berjalan mengejar Taqwa di bawah Atap-atap Mushala. Atap Dakwah. Atap yang di bawahnya di Naungi banyak Cinta dari Illahi. Di Saji dengan Cita rasa yang Tinggi. Yang Ujung ke Ujung setiap sudutnya di Jamahi Do’a Para Malaikat. Yang nama-nama mereka menggema di Arasy, di sebut Jutaan Penduduk Langit dan bumi.

Menghabiskan Sedetik, bisa jadi terasa berminggu-minggu. Atau bisa jadi juga berlalu dengan begitu damai.

Kepada Hati Seorang Ayah, yang setia memeluk Semangat, senantiasa Gagah meski Mata dunia menyengat, menjadi sandaran Hati di segala situasi. Seorang yang menghabiskan Hidupnya dengan penuh Cinta.

Kepada Hati seorang Ibu, yang malamnya menjadi Siang, atau siangnya menjadi malam. Yang setiap waktunya adalah perhatian, yang bila di makna begitu banyak Cinta di sana. Semuanya, bagai Mendung yang tak mau lepas dari hujan, atau Pelangi yang tak mau lepas dari setiap warna.

Menghabiskan Sedetik, bisa jadi terasa berminggu-minggu. Atau bisa jadi juga berlalu dengan begitu damai.

Kepada Hatiku, Seorang yang menjadikan Lelaki dalam dirinya Penuh Rasa.
Sehingga sedetik, Bisa jadi waktu yang panjang, penuh Arti, dan memberi Biasan warna yang indah.

Kepada Hatimu, Seorang yang menjadikan dirinya pemerhati setiap Waktu. Tanpa batas, Sehingga sedetik, bisa jadi waktu yang cepat, ingin selalu kau tahan untuk tak beralu, memeluknya erat-erat, menatap Temanmu lekat-lekat.

Menghabiskan Sedetik, bisa jadi terasa berminggu-minggu. Atau bisa jadi juga berlalu dengan begitu damai.

Kepada Hati yang Jauh, menyapa pagi sendiri. Membuat warna nya sendiri, kemudian menyiramnya dengan Cuka untuk menjadikannya malam. Merusak warnanya sendiri, untuk bisa memejamkan Mata, meski sebenarnya Hatinya harus Luka. Tapi begitulah iya menamakannya Cinta, menahan Pedih untuk bisa menyapa pagi lagi.

Kepada Hati yang Dekat, yang orang-orang bilang itu bagian dari Garis Nikmat, dekat dengan sesuatu yang terasa berharga. Sehingga Sedetik terasa begitu cepat dan biasa-biasa saja. Karena setiap perpindahan jamnya, Ia manis duduk menatap keberhargaan itu.

Kamu tau, mengapa menghabiskan Sedetik, bisa jadi terasa berminggu-minggu.?

Semua karena ada Rindu, Sesuatu yang ada  karenamu. Sesuatu yang melingkari Wajah Ibu di mataku. Sesuatu yang membuat aku tidak bisa jauh darimu, dari Ibu, dari Teh hangat milik Ibu, dari tanya-tanya ibu yang datangnya tiada berhenti, tidak cukup sekali. Itu sebabnya kenapa sedetik bisa jadi terasa berminggu-minggu. Sebab bila sudah CINTA, aku jadi terlalu. Bukankah kamu sendiri tau lelaki seperti apa yang ada dalam diriku. Perasa yang ingin selalu di Rasa.

Semua karena Rindu, yang malam menjadi hilang gelapnya. Sebab bila sudah bertemu, keberhargaan memberi Harapan yang terang. Aku, Ibu, dan Kamu. Juga Teh Hangat Milik Ibu. Adalah Kebenaran dimana aku dilahirkan bersama semuanya. Di besarkan meski banyak Rintangan, tapi beginilah.. pada akhirnya aku bisa menulis semuanya. Meski tidak di untuk di baca olehmu.

Sebagai seorang yang memerhati, seorang yang mencari Solusi atasku, seorang yang menjamah kataku, membalutnya kedegup jantungmu, membawa pagiku untuk kau miliki sendiri.
Sebagai seorang yang banyak bertanya, cerita dari pagi ke pagi, Seorang yang menebar senyuman saat berpapasan, seorang yang waktunya selalu ada Rindu yang di habiskan.

Berhentilah mengikutiku, mencandui setiap yang kau nilai Lucu. Berjalanlah, buat kisahmu sendiri. karena kita bukan apa-apa, dan aku menjaga agar tak ada apa-apa. Memerhati memang kau nikmati, tapi menahan Hati  bukan perkara mudah. Bila jauh sedetik saja, aku serasa menghabiskan waktu berminggu-minggu. Jadi jangan memaksaku untuk memerhatimu juga, Aku punya jalan juga.
Jalan yang ku tutup rapat-rapat. Karena bila berdua, aku belum siap membukanya.

Buat kisahmu sendiri, atas Rindu Ibu yang menemani kita pada setiap malam, pada mimpi yang kau anyam menjadi nyata. Atas Rindu ibu, kau suap setiap waktu, bertubi-tubi. Menjadikan mu tetap tersenyum untuk setiap hari.

Berhentilah, menjadi aku. Atau menjadi pecandu atas Hatiku.
Perasa, tapi bukan berarti aku ngin selalu au Rasa. Menjadi Rasamu sesuai dengan yang mau.
Buat kisahmu sendiri, karena kita memang punya Cerita sendiri.
Jangan mengeluh lagi padaku, aku juga lelah. Tapi bukan kau yang jadi Arah.
Sebab ada hal lain yang paling indah untuk Menghabiskan Sedetik. Adalah aku, menatap Ibu. Setiap waktu. Membersamai Pagi yang sudah-Ku hiasi dengan malam yang penuh Mimpi.

Akulah Seorang yang lelaki dalam Dirinya Penuh Hati. Karena Memahami memberi Kesan yang berbeda untuk setiap Rasa.. itu sebabnya kenapa menjadi seorang perasa, membuatku tetap ada. Karena di antaranya lagi-lagi.  Ada Aku, Ibu, dan Kamu. Juga Teh Hangat Milik Ibu.
Jadi kalau kamu bertanya untuk yang terakhir, Kenapa menghabiskan sedetik itu bisa terasa berminggu-minggu?

Karena menjadi Seorang Perasa, akan memiliki banyak Cinta, Banyak Cerita.
-Semua karena Rindu, Karena Ibu.
Kamu Rindu kan?
dan Rindu ini Curang, selalu bertambah tanpa tahu bagaimana caranya agar berkurang.

Rabu, 19 Juli 2017

Lima Hari yang kita habiskan bersama Rasa Sakit


Lima Hari yang kita habiskan bersama Rasa Sakit

Matahari membias, di mataku. Atau bisa jadi juga sama denganmu.
memberi cerita baru pada tiap pagi yang kita sambut, semasingnya dengan rasa.
Aku tersenyum di sini, ada hati yang mungkin menangis atas Syukur masih menatap Waktu untuk Menghamba lagi.
Kamu, seorang di sana. Entah juga sama. Maka semoga tak berubah setiap waktunya. Karena syukur bagian dari bagaimana kita berterima kasih kepada-Nya.

Setiap waktu, betapa banyak detik yang kita habiskan bersama. Betapa banyak Suasana yang kita Rasa. Pernah se-Atap membina Taqwa, pun Segelas menikmati seteguk Ukhuwah.
Kamu memberiku banyak arti. Di antaranya tentang indahnya kita berjalan berdua dengan-Nya.
Menguat atas-Nya meski Dunia membenci sekalipun. Tak mengapa bukan, Biarlah di dunia kita lelah, terluka, atau terhina sekalipun. Asal ada –Dia yang membersamai itu sudah Cukup.. Karena pada akhirnya, dunia ini hanya Ujian  yang kita singgahi sebentar. Nikmatnya sesaat, seujung lidah mengecap, atau sekilas mata memandang. Benar Bukan?

Kamu, Seorang di sana yang Menaruh sekeping Rindu dalam Hatiku. Setelah sepersekian waktu kita bersama. Aku banyak bercerita, begitu juga denganmu. Membenarkan apa-apa yang ku katakan. Entah berapa karakter kata yang hadir, kamu memerhatiku setiap baitnya. Begitulah,  aku tertular menjadi seorang yang pemerhati.
Lima hari yang kita habiskan bersama Rasa sakit..
Adalah dimana aku merasa waktu denganmu kian akan habis. Kamu yang bicara hanya lewat senyuman. Meng-Iyakan apa yang aku pertanyakan, membuat aku semakin menaruh penasaran untuk banyak bertanya. Tapi lagi-lagi, jawabanmu hanya senyuman. Berkali-kali ku coba menghidupkan suasana, mengajakmu bicara empat mata, atau membalas senyummu dengan garis yang aku bisa.

Kamu, seorang di sana yang bagiku keberadaannya menjadi bagian dari perjalanan hidup. Terus terang, aku menaruh perasaan yang membuatku banyak berdoa. Seumpama Pengawal yang senantiasa mendampingi Tuan putri.
Duh, kamu mungkin bisa jadi Tuan Putri sekarang ini. Meski keadaannya tak sama, tak bisa di paksakan. Tapi memang kamu bagai Tuan Putri yang aku ingin selalu membersamai.

Lima hari yang kita habiskan bersama Rasa sakit..
Adalah sesuatu yang di dalamnya terdapat detik yang aku merasa setiap geraknya berharga, setiap sudutnya, melihatmu lekat-lekat. Lima hari yang kita habiskan bersama rasa sakit. Itulah perasaanku saudaraku.
Aku suka semua Wajah-wajah yang kau lukis di sana, setiap sudutnya, setiap waktu
Tapi ada isyarat yang tak bisa ku ucap. Hanya Doa, itu saja.
Bulan ini istimewa, aku di dua Puluhkan Bersama-Nya. Itu momentum yang indah bukan?
Seperti menatap Bias senja diatas temaram laut, atau lampu-lampu Kota yang buram karena Efek kamera.
Semua itu Meneduhkanku, untukku.

 
Di Sepuluh malam terakhir ini,
Sempat Ku katakan juga padamu.
Aku ingin kita senantiasa menguat karena-Nya.
Dan Akhirnya, Hujan membersamaiku setelah Senyummu menjawab ucapanku yang kian berganti.
Kehilangan, entahlah..
Judulnya, aku merasa lagi. Kehilangan sesuatu yang sejatinya tidak aku miliki. Tuhan mungkin sudah selesai meng-Amanahkanku untuk mengenal mu.. –Dia sudah cukup menitipkanmu untuk aku bersamamu, menjadi seoramg yang ada bersamamu.
Kamu tau?
Bagiku, bisa jadi kita di pertemukan dengan orang lain, di pertemankan dengannya, adalah amanah dari –Dia bahwa ada sesuatu yang harus kita jaga.
Cukup dalam angka Lima yang menjawab semuanya. Lima tahun mengenalmu, juga lima hari yang kuhabiskan bersamamu dengan Rasa sakit.
sakit yang aku nikmati setiap detiknya, mengkhawatirkanmu, mencemaskanmu, menemanimu lewat doa. Sebab kamu sudah sulit untuk bicara, hanya senyum. Itu saja.

Lima hari yang Kita habiskan bersama Rasa sakit. Sakit yang menghapus dosa-dosamu, semoga juga denganku..
Tuan Putri, Seorang yang membersamai. Gugurnya kamu di jalan dakwah, adalah jawaban bahwa seorang yang berjuang karena-Nya, akan datang kepada-Nya dalam keadaan yang Indah.

Lima hari yang kita habiskan bersama Rasa sakit. Maka aku mengambil Cintamu dari atas langit, dan menyebarkannya di muka bumi.
Lalu ku abadikan semuanya, Mengenalmu untuk mencintainya.
Meski aku bernoda, pahit, tak semanis Kue Raya buatan Ibu. Tapi  aku selalu berusaha menjadi baik untukmu. Meski tak sesempurnamu yang Terjaga saat ini.
Seorang yang bagai Tuan Putriku,