Ketika Hujan Jatuh,
mereka hadir dengan Ukuran, Rinai, Gerak, dan Kecepatan yang berbeda-beda.
Bisa jadi, dari apa
yang ku perhitungkan adalah sesuatu yang layak untuk kita benarkan. Atau tidak
sama sekali.
Begitu juga
denganmu, sisi dari kehidupan yang tidak aku pahami.
Dimensi ku persidang
satu persatu, demi jawaban atas sebuah tanya. Kenapa kita di pertemukan?
Sesuatu yang Tuhan
inginkan terjadi, tapi sempurna aku tak paham makna dari semuanya, makna dari
pertemuan kita.
Makna dari Seduhan
Pagi ke Senja yang nyaris kita bagi dan Nikmati bersama.
Makna dari ucapanmu
tempo hari, Kamulah senyuman termanis yang layak bagiku.
Atau Ucapan, Akulah
Lukisan dalam setiap Bait “RINDU” yang kamu susun sejajar dengan semua arah
jarum Jam dalam Hatimu..
Kepadamu,
Dari enam puluh
detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Bolehkah aku
bertanya?
Apa dalam Kehidupan
ini, hanya kamu Pemilik Episode Senyuman itu?
Benarkah? Kamu
terlahir untuk senantiasa tersenyum?
Bagaimana Aku harus
menyampaikannya kepadamu.
Mengatakannya..
Kadang aku sering
bertanya, darimanakah aku harus mulai bertanya padamu.
Bicara denganmu,
sedang menatapmu dari sini saja aku tidak mampu.
Kadang aku sering
bertanya, darimanakah aku harus mulai menyapamu.
Sedang dalam Diam,
semua kata menggebu dari sudut mana saja untuk aku sampaikan satu persatu.
Kepadamu,
Dari enam puluh
detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Bolehkah aku
bertanya?
Pernahkah kamu Hujan
di saat sendiri?
Atau merasa Gerimis
di watu Sunyi,?
Atau setidaknya
merasakan mendung ketika Lelah.?
Pernahkah? Kamu
mengalami mendung yang dahsyat, lalu Hujan menyirami Hatimu dengan begitu kuat,
kebingungan melandamu untuk bertanya, kemana aku harus berteduh dari semua ini.
Pernahkah?
Atau kamu kah
sesuatu yang terlahir dengan penuh warna dalam pelangi yang tak berujung waktu
indahnya itu?
Kepadamu,
Dari enam puluh
detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Bolehkah aku bertanya?
Saat kamu baca semua
tulisan ini, pernahkah kamu merasa.?
Bahwa kamulah yang
ku maksudkan dalam setiap garis kata-kata ini.?
Bahkan ketika aku
harus menjadi manis secara terpaksa di setiap ujung nya.
Kamulah, alasan atas
keterpaksaan itu. Bahwa aku akan selalu manis di hadapanmu.
Menjadi wajah Hati
yang paling Rahasia di Ujung Bumi ini.
Cukuplah, Aku dan
Lelaki Berkopiah Hitam membawa dirinya selalu sejuk, yang tau akan semua ini.
Kunci dari perasaan
yang mungkin kami sendiripun tak mampu menyimpannya.
Maka Cukup Pula
–Dia penilai atas diri ini, penjaga atas
semua, Hati, pikiran, dan prasangka-prasangka milik semasing kita. Cukuplah itu
semua, untukku.
Kepadamu,
Dari enam puluh
detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Bolehkah aku
bertanya?
Seperti biasa yang
kamu katakan, kita jangan jadi gelas yang senantiasa tertutup untuk sebuah
suasana.
Menjadi wadah dari
rasa yang tidak ada artinya.
Menjadi gelap atas
terangnya dunia ini.
Sungguh aku tak
menginginkannya, menjadi bayangan yang senantiasa layu dari cahaya.
Tapi Dari itu semua,
apakah kamu paham?
Bahwa Menjadi Warna
dari Illahi, adalah jalan tentang kenapa semua larut untukku jaga.
Dalam pandangan
siapa saja, mereka bebas menerjamahkan arti dari perasaan kan?
Setengah saja dari
perasaan yang aku punya, kamu mungkin akan paham jika kita menghabiskan
secangkir teh untuk ku jelaskan semuanya kepadamu.
Mungkin, atau pun
akhirnya kamu tetap mengeras seperti apa yang ku rasa saat ini.
Sebenarnya, ada
banyak teka-teki yang ku kemas serapi mungkin.
Semua karena-Nya.
Karena Harapan ada Cinta dari –Dia yang hadir untukku.
Meski kiasnya
seperti setetes air dari ujung jarum yang di Celupkan ke Laut.
Meski sedikit, tak
berarti, tapi kurasa adalah Kecukupan atas Hausnya aku akan Cinta dari-Nya.
Hidup adalah
perjuangan, ada banyak saksi atas itu semua.
Keringat, Tubuh yang
terbakar matahari, langkah yang lelah, atau senyum yang memudar pesonanya.
Maka dari perjuangan
itu, aku ingin belajar lebih banyak dari arti kehidupan ini.
Arti dari kenapa ada
senyuman yang tidak bisa ku miliki atasmu. Sepertimu.
Itu sebabnya aku
mulai banyak bertanya, Kepadamu.
Dari enam puluh
detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Kenapa episode
kehidupanmu banyak senyuman?
Tidak kah kamu
ingin mengetuk Perasaan dalam diriku,
menuangkan Secawan Madu yang manisnya menenangkan perasaan.
Aku bertanya, dan
jawablah. Di sana, saat kamu baca ini semua.
Kata-kata yang tak
jelas arahnya. Kan?
Maaf, ada Senja yang
harus ku hapus. Senja dengan warna Jingga yang selalu kamu Suka.
Senja, ujung dari
kelelahan atas Hari yang panjang.
Ujung dari lelahku..
Yang ku tau, kamu
sering bertanya, kenapa sekarang mendingin?
Kenapa menjadi
sering Hujan?
Mendadak Sunyi saat
sendiri. Atau semacamnya lagi.
Semua, karena ada
perasaan yang sukar aku jelaskan.
Ada pikiran yang tak
mengenakan hati, bila ia ku abaikan.
Kamu pernah begini
atau tidak sama sekali?
Benar, Bahwa episode
senyuman, hanya ada pada dirimu.?
Maka mendekatlah
dari apa yang kamu baca saat ini.
Bahwa, kehidupan
adalah kumpulan dari Perasaan yang ada dalam Hati.
Kepadamu,
Dari enam puluh
detik dalam satu menit yang ku habiskan untuk menulis semua ini.
Bolehkah aku bicara?
Ada seorang yang
harus ku rangkul pundaknya,
Ada seorang yang
harus ku seimbangkan langkahnya,
Ada seorang
yang harus ku cerahkan siangnya,
Ada seorang
yang harus ku jaga senyumnya,
Ada seorang
yang harus tetap berdiri, dalam Hujan yang tidak henti-henti.
Semua karena
ada seorang yang bisa jadi sedang membutuhkanku.
Kamu Boleh
marah, membenci, bahkan menaruh prasangka yang tidak-tidak padaku,
Atas
kegaduhan yang ku sebabkan dalam “Lima Hari yang Kita Habiskan Bersama Rasa
Sakit”.
Lalu
mengatakan, bahwa aku menodai Perasaan ini padamu.
Tentang
Sejuta yang harus ku relakan ujungnya.
Tentang
Ikatan yang melemah di antara semasing kita,
Tentang apa
saja, yang jadi penyebab bahwa aku harus menerima amarah darimu.
Maka
seandainya kamu ada disini, tau tentang apa yang sedang terjadi padaku.
“Tidak kah kamu
ingin mengetuk Perasaan dalam diriku,
menuangkan Secawan Madu yang manisnya menenangkan kegaduhanku.?”
Aku hanya menjaga
waktu dalam diriku, menjaga Cinta dalam Hatiku.
Bahwa ada seorang
yang sedang akan menangis lebih lama di Bahuku, mengeluh atas dunia ini.
Bahwa ada Seorang
yang sedang harus ku jaga Hatinya,
Maka biarlah aku
terhina di hadapanmu, di hadapan orang-orang yang ku jadikan Gaduh dalam
hatinya. Bersamamu Juga.
Biarlah aku terenyuh
atas kesalahan yang ku perbuat, untuk seseorang yang sedang menangis di bahuku.
Biarlah aku mendarah
atas luka yang ada, asal –Dia mencintaiku sebagai Hamba.
Biarlah aku menangis
untuk seorang yang harus ku basuh air matanya di sampingku.
Biarlah aku terhina
di Bumi, Tempat dimana Uwais tak di kenal seisinya.
Asal ada –Dia,
Biarlah semua beban ini ada padaku.
Biarlah..
Aku menjadi salah, untuk membenarkan Orang lain.
Seandainya itu
adalah Kebaikan di sisi-nya..
Aku, hanya senantiasa memahami CINTA.
Bahwa persaudaraan
itu adalah CINTA, ia akan meminta segalanya darimu, waktu, senyuman, tangisan,
darah, harta, pengorbanan, dan apa saja.
Karena mencintainya
sebagai saudara, adalah perasaan dalam Hatiku.
Aku Mencintai untuk
Mencintai-Nya.
Lalu ku lauhkan Do’a
semoga aku di beri lebih banyak Ikhwan dalam Kehidupan.
Agar ketika aku
tidak ada, akan ada yang menarik tanganku keluar dari hinanya Neraka.
Maka,
Aka(d)n kah aku
Bertahan?
Dariku Yang
Lemah, -De’ Pamungkas







