Rabu, 19 Juli 2017

Lima Hari yang kita habiskan bersama Rasa Sakit


Lima Hari yang kita habiskan bersama Rasa Sakit

Matahari membias, di mataku. Atau bisa jadi juga sama denganmu.
memberi cerita baru pada tiap pagi yang kita sambut, semasingnya dengan rasa.
Aku tersenyum di sini, ada hati yang mungkin menangis atas Syukur masih menatap Waktu untuk Menghamba lagi.
Kamu, seorang di sana. Entah juga sama. Maka semoga tak berubah setiap waktunya. Karena syukur bagian dari bagaimana kita berterima kasih kepada-Nya.

Setiap waktu, betapa banyak detik yang kita habiskan bersama. Betapa banyak Suasana yang kita Rasa. Pernah se-Atap membina Taqwa, pun Segelas menikmati seteguk Ukhuwah.
Kamu memberiku banyak arti. Di antaranya tentang indahnya kita berjalan berdua dengan-Nya.
Menguat atas-Nya meski Dunia membenci sekalipun. Tak mengapa bukan, Biarlah di dunia kita lelah, terluka, atau terhina sekalipun. Asal ada –Dia yang membersamai itu sudah Cukup.. Karena pada akhirnya, dunia ini hanya Ujian  yang kita singgahi sebentar. Nikmatnya sesaat, seujung lidah mengecap, atau sekilas mata memandang. Benar Bukan?

Kamu, Seorang di sana yang Menaruh sekeping Rindu dalam Hatiku. Setelah sepersekian waktu kita bersama. Aku banyak bercerita, begitu juga denganmu. Membenarkan apa-apa yang ku katakan. Entah berapa karakter kata yang hadir, kamu memerhatiku setiap baitnya. Begitulah,  aku tertular menjadi seorang yang pemerhati.
Lima hari yang kita habiskan bersama Rasa sakit..
Adalah dimana aku merasa waktu denganmu kian akan habis. Kamu yang bicara hanya lewat senyuman. Meng-Iyakan apa yang aku pertanyakan, membuat aku semakin menaruh penasaran untuk banyak bertanya. Tapi lagi-lagi, jawabanmu hanya senyuman. Berkali-kali ku coba menghidupkan suasana, mengajakmu bicara empat mata, atau membalas senyummu dengan garis yang aku bisa.

Kamu, seorang di sana yang bagiku keberadaannya menjadi bagian dari perjalanan hidup. Terus terang, aku menaruh perasaan yang membuatku banyak berdoa. Seumpama Pengawal yang senantiasa mendampingi Tuan putri.
Duh, kamu mungkin bisa jadi Tuan Putri sekarang ini. Meski keadaannya tak sama, tak bisa di paksakan. Tapi memang kamu bagai Tuan Putri yang aku ingin selalu membersamai.

Lima hari yang kita habiskan bersama Rasa sakit..
Adalah sesuatu yang di dalamnya terdapat detik yang aku merasa setiap geraknya berharga, setiap sudutnya, melihatmu lekat-lekat. Lima hari yang kita habiskan bersama rasa sakit. Itulah perasaanku saudaraku.
Aku suka semua Wajah-wajah yang kau lukis di sana, setiap sudutnya, setiap waktu
Tapi ada isyarat yang tak bisa ku ucap. Hanya Doa, itu saja.
Bulan ini istimewa, aku di dua Puluhkan Bersama-Nya. Itu momentum yang indah bukan?
Seperti menatap Bias senja diatas temaram laut, atau lampu-lampu Kota yang buram karena Efek kamera.
Semua itu Meneduhkanku, untukku.

 
Di Sepuluh malam terakhir ini,
Sempat Ku katakan juga padamu.
Aku ingin kita senantiasa menguat karena-Nya.
Dan Akhirnya, Hujan membersamaiku setelah Senyummu menjawab ucapanku yang kian berganti.
Kehilangan, entahlah..
Judulnya, aku merasa lagi. Kehilangan sesuatu yang sejatinya tidak aku miliki. Tuhan mungkin sudah selesai meng-Amanahkanku untuk mengenal mu.. –Dia sudah cukup menitipkanmu untuk aku bersamamu, menjadi seoramg yang ada bersamamu.
Kamu tau?
Bagiku, bisa jadi kita di pertemukan dengan orang lain, di pertemankan dengannya, adalah amanah dari –Dia bahwa ada sesuatu yang harus kita jaga.
Cukup dalam angka Lima yang menjawab semuanya. Lima tahun mengenalmu, juga lima hari yang kuhabiskan bersamamu dengan Rasa sakit.
sakit yang aku nikmati setiap detiknya, mengkhawatirkanmu, mencemaskanmu, menemanimu lewat doa. Sebab kamu sudah sulit untuk bicara, hanya senyum. Itu saja.

Lima hari yang Kita habiskan bersama Rasa sakit. Sakit yang menghapus dosa-dosamu, semoga juga denganku..
Tuan Putri, Seorang yang membersamai. Gugurnya kamu di jalan dakwah, adalah jawaban bahwa seorang yang berjuang karena-Nya, akan datang kepada-Nya dalam keadaan yang Indah.

Lima hari yang kita habiskan bersama Rasa sakit. Maka aku mengambil Cintamu dari atas langit, dan menyebarkannya di muka bumi.
Lalu ku abadikan semuanya, Mengenalmu untuk mencintainya.
Meski aku bernoda, pahit, tak semanis Kue Raya buatan Ibu. Tapi  aku selalu berusaha menjadi baik untukmu. Meski tak sesempurnamu yang Terjaga saat ini.
Seorang yang bagai Tuan Putriku,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar