Minggu, 07 Agustus 2016

Aku Rindu Ramadhanmu, Diks



Aku Rindu Ramadhanmu, Diks
Siang itu, matahari terlihat begitu menyala. Seperti menyapa tapi setengah menyiksa. Entah karena ia berada di puncak kemaraunya, atau karena bumi yang memang sudah tua, entah juga ini memang bagian dari Murkanya Tuhan pada manusia yang tak jenuh menyemai dosa. Kurasa, siapa saja yang berada dalam jamahannya, pastilah serasa tersengat ubun-ubunnya, menjalar panasnya sampai ke ujung kaki. Panas ini seakan menguji kesabaran para  manusia untuk tidak berebut jalan di tengah keramaian karena terburu waktu, kesabaran manusia untuk tidak saling memaki karena keadaan yang memang panas di sana-sini. Ah sudahlah, tak perlu di jelaskan lagi bagaimana keadaan kota medan ini. Ibu kota dari provinsi Sumatera Utara dan kota metropolitan terbesar di pulau sumatera,  kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Bisa di bayangkan betapa padat kondisinya, di penuhi Ribuan jiwa yang tidak pernah berhenti beraktivitas. Mulai dari yang sibuk berangkat kerja, wisata dan semacamnya di awal pagi. Sampai yang sibuk mengeluh lelah, ketika senja sudah menyapa sementara ia masih tertahan di perjalanan karena macat yang tidak berkesudahan. Ah sudahlah, ini Medan Lae..!!
Entah berapa derajat sudah panasnya, jika di suruh memilih keluar atau berada di rumah. Tentu aku lebih memilih berada di rumah, duduk di dalam kamar bertemankan kipas dan segelas minuman dingin yang menyegarkan. Mendengarkan damainya lantunan-lantunan Murrotal Qur’an dan nyanyian-nyanyian nasyid yang penuh nasihat serta sarat makna dalam mengAgungkan Tuhan. Tapi, semua itu tak mungkin kulakukan selagi masih ada janji yang harus ku penuhi. Ya, ada pesan dari Ustad Karim bahwa hari ini aku harus menemuinya di perpustakaan lantai dua di kampus tempat aku mengenyam pendidikan Sarjana saat ini. Ustad Karim, adalah seorang amat peduli padaku. Tubuhnya tegap, berjanggut tipis dan berwajah teduh. Beliau adalah seorang yang banyak memberikan nasihat dan motivasi yang membangun ketika aku sedang di landa kesulitan dan kebingungan. Pernah ketika itu aku sedang dalam perjalanan pulang dari sebuah kajian ilmu, cuaca mendung dan aku terjebak hujan deras. Tak ada angkutan umum yang lewat, lalu tanpa di sengaja Ustad Karim lewat di hadapanku dengan mengenakan mantel hujan biru muda yang terlihat menyala di tengah guyuran air hujan. Di menghampiriku, menepikan kendaraannya dan bertanya.
“Dari mana Adam? Sudah sore begini masih di sini, tidak pulang?.”  Tangannya berulang-ulang mengusap wajahnya yang basah oleh air hujan.
“ Ah, iya Ustad, ini baru pulang kajian. Hujan, menunggu angkutan tapi kok gak ada yang lewat ya. Iya jika sudah ada,saya langsung pulang ustad”. jawabku setengah melirik ke kanan dan ke kiri mencari-cari angkutan yang akan melintas.
“ Sudah, ayo saya antar, sebentar lagi maghrib. Juga tidak akan ada lagi angkutan yang lewat hujan-hujan begini.” Tanpa basa basi Ustad Karim menawarkanku tumpangan di tengah hujan yang cukup menutupi pandangan. Awalnya aku menolak dan memilih menunggu angkutan, tapi karena beliau memaksa akhirnya dengan rasa syukur ku penuhi tawarannya. “Kalau kelamaan menunggu, nanti kamu enggak bisa shalat maghrib berjamaah loh..” ucapnya dengan nada peduli seolah mengingatkanku betapa pentingnya kewajiban yang satu itu. Shalat berjamaah. Ah, Ustad karim memang sosok yang baik. Bergaul tak kenal usia, bahkan di kalangan anak muda. Padahal usianya sudah hampir menginjak 56 tahun, usia yang tak lagi muda. Tapi itulah beliau, selalu berdakwah lewat perilaku dan budi pekertinya yang banyak di senangi orang sekitarnya. Tak jarang karena kebaikannya, aku merasa dia sudah seperti teman bahkan kakak ku sendiri.
“Kalau kita berbuat baik sama orang, Insya Allah orang juga akan berbuat baik pada kita” itu salah satu kalimat yang sering di ucapkannya tiap kali kami bertemu. Ah, beruntungnya aku karena telah Allah perkenalkan dengannya.
Kulihat jam tangan, jarumnya menunjuk angka tiga belas lewat sepuluh menit. Ku percepat laju kendaraanku menuju kampus tercinta. Pertemuan dengan Ustad Karim setelah Shalat Ashar, masih ada waktu sekitar satu jam lebih yang bisa ku manfaatkan. Sengaja ku percepat kedatanganku ke perpustakaan untuk bisa membaca beberapa buku dan mengambil beberapa data penelitian untuk tugas kuliah yang sudah menunggu minggu depan. Belum selesai aku menyusun waktu dan agenda yang ada di kepalaku, aku sudah di kagetkan oleh suara seorang lelaki paruh baya berbadan gemuk, hitam, dan berkumis lebat yang berjalan membawa rotan tepat di tepi jalan tempat aku melintas.
“Bawa saja ke polisi, hajar, bila perlu bunuh sekalian..dasar manusia tak tau diri..!!” Teriaknya setengah memaki. Mataku mengikuti langkah kakinya berjalan, kulihat di depan sudah ramai orang-orang berkumpul. Ada yang membawa kayu, alat pukul, dan semacamnya. Sebagian lagi menyumpah serapah, memaki, bahkan ada yang bicaranya sampai tak jelas karena tak bisa membendung Emosi. Semakin dekat ku hampiri, segera ku tepikan kendaraan ku dan turun untuk melihat dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
“Ada apa bang? Kok ribut-ribut begini?” tanyaku singkat pada seorang lelaki berkaos hitam.
“Ah, ini bang ada pencuri bang, mau maling dia bang, tapi ketahuan sama warga” Jelasnya singkat. Cepat-cepat ku terobos keramaian untuk melihat siapa yang sedang di serapahi warga ini. Barangkali aku mengenalnya atau sekedar bisa membantu mendinginkan suasana, agar warga tidak main hakim sendiri karena terbawa oleh masing-masing Emosinya. Mataku terkejut saat melihat sosok lelaki berbaju koko cokelat muda yang kini berada di tengah keramaian dan amuk warga. Sosok yang sangat aku kenal, Ahsan? Bisikku dalam hati. Tanpa pikir panjang seorang lelaki hitam berkumis yang tadi kulihat membawa Rotan hendak melayangkan pukulan ke Arah Ahsan, dengan secepat mungkin aku berusaha memeluk ahsan yang duduk tidak berkutik di tengah kepungan warga. Melihat tindakanku ini, lelaki hitam berkumis tadi heran dan mengurungkan niatnya.
“Sabar..sabar..!! tenang.. Jangan emosi.. Sabar..!! Tenang.. Jangan ikuti keinginan bapak-bapak sekalian untuk segera menghakimi.. Jika dia memang bersalah, mari kita selesaikan semuanya secara damai. Tidak dengan jalan main hakim sendiri...” aku mencoba menenangkan keadaan.
“anda siapa? Gak usah ikut campur. Gak usah sok jadi pahlawan di sini. Ini urusan warga dengan si pencuri ini..!! Kalau tidak di kasih pelajaran dia tidak akan berhenti mencuri..!!”  ucap lelaki Hitam berkumis dengan nafas yang sedikit terengah menahan Emosi yang belum terluapkan.
Ah, aku jadi ingat pesan dari salah satu dosen mata kuliah di kampusku, dia berkata “Kalau ada orang yang bicara dengan kalian dalam keadaan sedang emosi, jangan kalian balas  dengan emosi juga.. Tenangkan dia, dan hapuskan Emosi itu perlahan-lahan dari dia, dan bicaralah baik-baik...”.
Bismillah, Semoga Allah menolongku saat ini. Bisikku.
“Tenang..!! Sabar Pak, Sabar..!! Saya paham apa yang bapak maksudkan. Tapi menyelesaikan masalah seperti ini ada tata cara dan proses hukumnya. Bukan dengan jalan main Hakim sendiri seperti ini. Saya Mahasiswa, dan saya yakin kita semua yang ada di sini tau seperti apa hukum di negara ini berlaku, jadi saya harap semua tenang.. Jangan mengikuti emosi, tolong kendalikan diri anda semua..!!”  suasana sedikit tenang, namun nafasku sedikit terburu.
“Alaaah.. Gak usah sok bijak, pencuri ya pencuri.. Pantasnya ya di hukum mati, biar gak buat Onar lagi..” seorang Remaja dengan topi hitam kumuh berkoar seolah memancing agar suasana kembali panas.
“Baik, tapi sebelumnya apa ada bukti dan saksi yang memang jelas menyatakan dia mencuri?”
Sejenak para warga diam, beberapa orang lainnya mulai meninggalkan keramaian. Kulihat si leleaki berkumis tebal tadi sedikit bingung.
“Bagaimana? Ada buktinya kalau dia memang benar mencuri? Siapa saksinya? Ada?” tanyaku lagi.
“Tapi semua warga mengejarnya dan meneriakinya pencuri..” lelaki berkumis tadi berkata dengan emosi yang sudah mulai menurun.
“Hanya karena dia di teriaki pencuri? Bapak lalu begitu saja percaya? Lalu jika saat ini saya teriaki bapak sebagai seorang pencuri tanpa adanya sebuah bukti, apakah bapak akan menerimanya.?’’ aku sedikit menaikkan nada suaraku, setidaknya agar mereka semua mendengar apa yang sedang kami bicarakan. Kulihat lelaki hitam berkumis mulai diam. Ku teruskan ucapkan ku,
“Ada baiknya sebelum bertindak, kita harus tau dengan jelas dulu benar atau tidaknya apa yang kita dengar. Jangan asal terima dan langsung gegabah dalam menanggapinya. Jika dia tidak terbukti bersalah, lalu kemudian bapak-bapak sekalian hakimi hingga dia tidak bernyawa, siapa yang akan bertanggung jawab atas kematiannya? Yang pada akhirnya kita hanya memfitnah dan menganiaya dia dalam kenyataan bahwa dia tidak melakukan apa yang kita tuduhkan. Jelas semua orang yang ada di sini akan menanggung dosa atas kematiannya. Apa kita siap dan mau mempertanggung jawabkannya kelak di hadapan Allah?.
Siapa yang merasa di rugikan di sini? Jika memang ada, saya yang akan menanggungnya, semua karena saya mengenal dia sebagai seorang yang berkelakuan baik. Dan saya menjamin semua ganti rugi pada bapak-bapak atau ibu-ibu yang merasa di rugikan...” aku menopang tubuh ahsan untuk bangkit sambil merapikan letak   tas ransel yang ada di pundakku.
“Baiklah, sebelumnya saya minta maaf..” tanpa banyak bicara lelaki berkumis tebal bergegas meninggalkan keramaian. Satu persatu keramaian mulai bubar. Remaja bertopi hitam kumuh tadi juga sudah tidak terlihat keberadaannya. Alhamdulillah, Allah menolongku..
“Mas Adam , Syukran mas..” ahsan menjabat tanganku, tangannya seolah mengisyaratkan ucapan terima kasih yang mendalam padaku. Kulihat tak jauh dari kendaraanku ada sebuah warung kecil, ku ajak ahsan untuk duduk sebentar di sana.
“Di sana ada warung, ayo duduk sebentar..” ku ajak ahsan untuk segera mengikuti langkahku menuju warung. Ku lihat jam di pergelangan tanganku, ah..masih ada waktu untuk sekedar duduk dan minum saja. Ku pesan dua gelas minuman dingin, tanpa sungkan ahsan segera menyambut pesanan yang di antarkan pemilik warung. “ terima kasih bu” ucapku.
“Bagaimana ceritanya san? Kenapa bisa sampai di kepung warga begitu?..” kucoba untuk mulai membuka pembicaraan.
Ahsan tertunduk, matanya sedikit meneduh. “Ah, afwan mas.. saya memang sebenarnya berniat menyambar sebuah tas milik ibu-ibu, tapi belum lagi saya sentuh tasnya, seorang ibu-ibu lainnya yang entah sejak kapan memperhatikan gerak gerik saya dengan cepat meneriaki, karena ketahuan saya cepat-cepat kabur. Beberapa warga mengejar, saya berusaha lari secepat mungkin. Tapi warga tetap berhasil menangkap dan mengepung saya mas..”
“Astaghfirullah ahsan, ada apa dengan antum? Kenapa bisa?” aku sedikit tidak percaya, ahsan yang ku kenal begitu baik pribadinya ingin melakukan hal haram sedemikian.
“Iya mas, saya bingung.. adik saya sedang sakit beberapa hari ini, saya sedang tidak punya uang.. ah, pikiran ini sudah buntu mas..”   ahsan mengusap wajahnya, kulihat raut wajahnya yang cemas seakan menggambarkan betapa berat masalah yang sedang di hadapinya.
Ada sedikit rasa haru yang menyusup ke dalam hatiku, mengingat ahsan bukanlah lagi seorang yang memiliki orang tua. Keduanya meninggal saat ia masih kelas 3 SMA. Aku bahkan masih ingat saat ia begitu meraung kehilangan atas kepergian Ibunya menyusul sang ayah yang sudah terlebih dulu di panggil Allah. Semenjak di tinggal orang tuanya, ia dan adiknya kini tinggal berdua di sebuah rumah kecil peninggalan ayah dan ibunya. Hidup dalam keterbatasan namun tetap mengutamakan ketaatan. Ya, ahsan memang terkenal dengan pemuda yang begitu rajin dengan shalat berjamaahnya. Kedekatannya dengan masjid membuatnya seolah adalah Penjaga taman jamaah dalam Shalatnya. Tapi yang sedikit ku pertanyakan, kenapa Ahsan mampu berbuat yang demikian. Entahlah, mungkin memang benar bahwa adakalanya Keimanan seseorang akan turun. Dan ku rasa ahsan sedang mengalaminya.
Mengingat bahwa lusa nanti Ramadhan sudah menyapa, kurasa ada baiknya jika ku ingatkan Ahsan untuk kembali berdiri dalam ketaatan, bersabar dalam cobaan yang menguji keimanan, dan menyerahkan segala urusannya hanya kepada Allah. Mengadu, merayu, meminta dalam doa yang juga di iringi dengan Ikhtiar. Bukankah dalam Ramadhan ada sebuah keistimewaan dalam melampiaskan kerinduan kita pada perilaku ketaatan. Ah, tak hanya dia, pun juga demikian denganku. Bukankah aku juga pernah mengalaminya, bermaksiat tanpa sadar dan malu dengan Dia yang sudah memberikan banyak Nikmat. Gagal dalam menghadapi Ujian yang Allah berikan, ujian yang sebenarnya malah justru akan membawa sebuah pelajaran dalam kehidupan. Ah, aku juga pernah demikian. Ku pegang pundak ahsan, setidaknya dengan ucapanku nantinya mampu mengalirkan energi positif padanya.
“San, adakalanya memang suatu keadaan terasa begitu berat untuk kita hadapi sendirian. Ia seumpama Cobaan yang ingin meruntuhkan Keimanan, lalu seolah ingin menenggelamkan kita dalam kehinaan dengan menghapuskan jernihnya Iman. Tapi bukan berarti kita hanya pasrah dengan keadaan. Antum harus ingat san, bahwa Allah sekali-kali tidak akan membebani hamba-Nya melebihi batas kesanggupannya. Allah menguji antum, karena Allah tau Antum sanggup untuk menghadapinya. Jadi kalau saat ini antum merasa tidak sanggup, tetap ingat. Antum tidak sendirian, Allah itu Maha memberi bantuan. Tetap dekati Allah dalam ketaatan san. Antum harus tetap berpikit jernih, tetap lakukan ikhtiar dan berdoa. Jangan ikuti godaan setan., antum harus tetap bisa menahan diri dan bersabar menunggu jalan keluar yang pastinya akan Allah berikan. Lusa sudah ramadhan, apa antum tidak malu jika menyambutnya dengan kemaksiatan. Sabar san, sekali lagi Allah itu Maha pemberi Bantuan san. Sabarlah..” nafasku sedikit sesak menasehatinya. Bahkan mataku sedikit berkaca, 

Melihat keadaan ahsan dan adiknya yang sedang sakit, aku jadi teringat dengan adikku. Namanya Mawar, seorang Tuan Putri yang saat ini sudah kembali kepada-Nya setahun yang lalu. Allah panggil dia dalam keadaan Syahid yang memuliakannya. Seorang tuan putri yang menjadi bunga terharum di keluargaku. Seorang putri manis yang menjadi kebanggaan keluargaku. Dia pergi karena sakit lambung yang di milikinya sejak SMA. Belakangan setelah beberapa hari sepeninggalannya aku banyak mendengar cerita dari teman-temannya. Tentang betapa kebaikan yang ia lakukan sangat aku cemburui. Temannya menceritakan bahwa setiap jam istirahat tiba, ia selalu menyodorkan bekal makanan yang ia bawa kepada teman-temannya. Sampai ia sendiripun kadang sampai tak makan bekal yang di bawanya dari Rumah itu. Tak jarang ia bahkan tak enggan menyuapi teman-temannya satu persatu. Ah, betapa kebaikanmu malah membuatmu jatuh sakit, dikku. Semoga sakitmu menjadi penggugur dosa yang ada. Semoga Allah selalu mencintaimu,diks..Tuan Putriku.. 


“Iya mas, astaghfirullah mas.. Ya Allah.. Saya Khilaf Mas. Jujur saja, saya bahkan tidak pernah terpikirkan kenapa saya bisa sampai sebuta ini dalam bertindak. Kenapa bisa, Astagfirullah Mas. Sekali lagi saya benar-benar Khilaf Mas..” suara ahsan mengagetkan lamunan ku, kulihat matanya berkaca-kaca. Ada binar penyesalan di sana, aku berdo’a semoga Allah memberikan jalan terbaik untuk dia dan adiknya.
“Iya san, cobalah mulai saat ini antum tetap berpikir positif. Tetap Husnudzan sama Allah, yakin sama Allah bahwa Dia pasti mengabulkan apa yang kita pinta. Yakin bahwa Ujian yang Dia berikan semata-mata agar kita terdidik dalam kesabaran. Termuliakan karena ketaatan. Yakinlah san, bahwa semua Cobaan yang Allah berikan semua nya pasti menyimpan Kebaikan. Sama seperti nama antum, ahsan yang selalu di harapkan mampu membawa banyak Kebaikan. Tetap sabar san, berdo’a dan berikhtiarlah sebaik mungkin. Semoga Allah berikan jalan untuk kesulitan antum. Dan semoga Allah memaafkan ke khilafan kita semua san. Mas Doa kan juga semoga adik antum cepat sembuh..” ku pegang kembali pundak ahsan dan menyapa nya dengan senyuman penuh harapan.
“Baik mas, terima kasih banyak atas nasehat mas. Saya bersyukur Allah ikatkan persaudaraan saya dengan mas. Aamiin mas. Semoga Allah mengabulkan..” Ahsan tersenyum, di teguknya minuman dingin di gelasnya yang sudah hampir habis.
“Berapa biaya yang antum perlu buat biaya adik antum san?”
“Ah, sekitar dua ratus empat puluh ribu mas. Semoga Allah permudah jalannya ya mas..” senyumnya kembali terukir. Aku mengingat-ingat simpananku, ku kira masih berlebih sampai akhir bulan. Mengingat bulan ini aku juga tidak terlalu banyak pengeluaran, jadi masih ada uang yang bisa di sisihkan.  Ku periksa dompetku, ku keluarkan lima lembar uang lima puluh ribuan. Semoga bernilai ibadah, mengingat bahwa ramadhan sudah akan datang. Semoga Allah berkahi ramadhanku kali ini melalui jalan kebaikan ini. Dan kembali aku mengingat pesan ustad Karim. “Kalau kita membantu orang lain, InsyaAllah orang lain juga akan membantu kita..” lagi-lagi pesannya ini menjadi penguat niatku.
“Ini san, ada sedikit bantuan dari Allah. Semoga bermanfaat buat antum dan adik antum..”
Ahsan sedikit kaget dan berusaha menolak. Tapi setelah ku yakinkan lagi niat baik ku ini,  ia dengan senyuman bahagia setengah tidak percaya akhirnya mau menerima nya.
“Terima kasih mas, semoga Allah balas dan berkahi segala kebaikan antum mas. Saya bahkan tidak menyangka pertolongan Allah akan datang secepat ini melalui mas. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih mas..” ahsan menyeka gerimis yang menetes satu persatu dari sudut-sudut matanya.
“Sama-sama san, semua karena Allah. Allah yang mempertemukan kita hari ini, Allah yang menyusun langkah kaki kita, Allah yang mengatur semua skenario dalam kehidupan kita. Semua karena Allah san, yang juga menggerakkan hati mas untuk mau membantu antum. Sekenanya saja, mari sama-sama setidaknya kita selalu bersyukur atas apa yang memang sudah Allah berikan kepada kita. Dan selalu yakin dengan apa yang sudah Allah janjikan, ingat.
“Jika kita bersyukur, pasti Allah akan menambah nikmat ini, dan jika kita mengingkari nikmat-Nya, maka ingatlah sesungguhnya azab-Nya sangat pedih.. Teruslah yakin dan teguh dalam kebaikan san, kembalikan ketaatan yang sempat memudar. Semangatlah dalam menjalani hidup, meski kadangkala tak sesuai dengan harapan kita yang indah, tapi tetaplah bersabar semoga bernilai ibadah.
Lusa sudah ramadhan, sekali lagi san. Tetaplah berdiri dalam kebaikan. untuk segala hal..  Dan ingat, bahwa Ramadhan itu memuliakan kita. Ramadhan itu indah bukan?”.
Ahsan tersenyum, aku bangkit dari tempat dudukku. Ku jabat tangannya, lalu bergegas merapikan diri untuk segera beranjak menuju perpustakaan. Janjiku dengan ustad karim jangan sampai terlupakan.  Kulihat jam, masih ada sekitar 15 menit lagi untuk tepat waktu sampai di sana. Meskipun tidak lagi sempat untuk membaca buku yang tadinya terencanakan, tapi setidaknya hari ini aku mendapatkan nikmat untuk bisa berbuat kebaikan. Sekali lagi, semoga Allah memberikan yang terbaik dalam Ramadhan. 

Di perjalanan aku kembali teringat pada Mawar, almarhumah adikku. Ah, kadang selalu ada rindu ketika aku mengingatnya atau bahkan sekedar terlintas namanya. 
  Entah karena rasa kagum pada kebaikan yang dia lakukan, entah juga karena kerinduanku akan Ramadhan-ramadhanku sebelumnya yang masih membersamainya.
“Tapi apapun itu, semoga Allah jaga kan engkau dalam Keridhoan-Nya Diks. Meski kita tak lagi satu Ramadhan, semoga Allah kembali pertemukan kita dalam sebuah pertemuan yang Dia istimewakan. Kita dan bahkan keluarga kita. Entahlah, semua karena memang Ramadhan itu indah bukan? Aku rindu Ramadhan denganmu, Diks..” bisikku dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar