Aku
Rindu Ramadhanmu, Diks
Siang itu, matahari
terlihat begitu menyala. Seperti menyapa tapi setengah menyiksa. Entah karena
ia berada di puncak kemaraunya, atau karena bumi yang memang sudah tua, entah
juga ini memang bagian dari Murkanya Tuhan pada manusia yang tak jenuh menyemai
dosa. Kurasa, siapa saja yang berada dalam jamahannya, pastilah serasa
tersengat ubun-ubunnya, menjalar panasnya sampai ke ujung kaki. Panas ini
seakan menguji kesabaran para manusia
untuk tidak berebut jalan di tengah keramaian karena terburu waktu, kesabaran
manusia untuk tidak saling memaki karena keadaan yang memang panas di sana-sini.
Ah sudahlah, tak perlu di jelaskan lagi bagaimana keadaan kota medan ini. Ibu
kota dari provinsi Sumatera Utara dan kota metropolitan terbesar di pulau
sumatera, kota terbesar ketiga di Indonesia setelah
Jakarta dan Surabaya. Bisa di bayangkan betapa padat kondisinya, di penuhi
Ribuan jiwa yang tidak pernah berhenti beraktivitas. Mulai dari yang sibuk
berangkat kerja, wisata dan semacamnya di awal pagi. Sampai yang sibuk mengeluh
lelah, ketika senja sudah menyapa sementara ia masih tertahan di perjalanan
karena macat yang tidak berkesudahan. Ah sudahlah, ini Medan Lae..!!
Entah berapa derajat
sudah panasnya, jika di suruh memilih keluar atau berada di rumah. Tentu aku
lebih memilih berada di rumah, duduk di dalam kamar bertemankan kipas dan
segelas minuman dingin yang menyegarkan. Mendengarkan damainya
lantunan-lantunan Murrotal Qur’an dan nyanyian-nyanyian nasyid yang penuh
nasihat serta sarat makna dalam mengAgungkan Tuhan. Tapi, semua itu tak mungkin
kulakukan selagi masih ada janji yang harus ku penuhi. Ya, ada pesan dari Ustad
Karim bahwa hari ini aku harus menemuinya di perpustakaan lantai dua di kampus
tempat aku mengenyam pendidikan Sarjana saat ini. Ustad Karim, adalah seorang
amat peduli padaku. Tubuhnya tegap, berjanggut tipis dan berwajah teduh. Beliau
adalah seorang yang banyak memberikan nasihat dan motivasi yang membangun
ketika aku sedang di landa kesulitan dan kebingungan. Pernah ketika itu aku
sedang dalam perjalanan pulang dari sebuah kajian ilmu, cuaca mendung dan aku
terjebak hujan deras. Tak ada angkutan umum yang lewat, lalu tanpa di sengaja
Ustad Karim lewat di hadapanku dengan mengenakan mantel hujan biru muda yang
terlihat menyala di tengah guyuran air hujan. Di menghampiriku, menepikan
kendaraannya dan bertanya.
“Dari mana Adam? Sudah sore begini masih di sini,
tidak pulang?.” Tangannya berulang-ulang
mengusap wajahnya yang basah oleh air hujan.
“ Ah, iya Ustad, ini baru pulang kajian. Hujan,
menunggu angkutan tapi kok gak ada yang lewat ya. Iya jika sudah ada,saya
langsung pulang ustad”. jawabku setengah melirik ke kanan dan ke kiri
mencari-cari angkutan yang akan melintas.
“ Sudah, ayo saya antar, sebentar lagi maghrib. Juga
tidak akan ada lagi angkutan yang lewat hujan-hujan begini.” Tanpa basa basi
Ustad Karim menawarkanku tumpangan di tengah hujan yang cukup menutupi
pandangan. Awalnya aku menolak dan memilih menunggu angkutan, tapi karena
beliau memaksa akhirnya dengan rasa syukur ku penuhi tawarannya. “Kalau kelamaan
menunggu, nanti kamu enggak bisa shalat maghrib berjamaah loh..” ucapnya dengan
nada peduli seolah mengingatkanku betapa pentingnya kewajiban yang satu itu.
Shalat berjamaah. Ah, Ustad karim memang sosok yang baik. Bergaul tak kenal
usia, bahkan di kalangan anak muda. Padahal usianya sudah hampir menginjak 56
tahun, usia yang tak lagi muda. Tapi itulah beliau, selalu berdakwah lewat
perilaku dan budi pekertinya yang banyak di senangi orang sekitarnya. Tak
jarang karena kebaikannya, aku merasa dia sudah seperti teman bahkan kakak ku
sendiri.
“Kalau kita berbuat baik sama orang, Insya Allah
orang juga akan berbuat baik pada kita” itu salah satu kalimat yang sering di
ucapkannya tiap kali kami bertemu. Ah, beruntungnya aku karena telah Allah
perkenalkan dengannya.
Kulihat jam tangan,
jarumnya menunjuk angka tiga belas lewat sepuluh menit. Ku percepat laju
kendaraanku menuju kampus tercinta. Pertemuan dengan Ustad Karim setelah Shalat
Ashar, masih ada waktu sekitar satu jam lebih yang bisa ku manfaatkan. Sengaja
ku percepat kedatanganku ke perpustakaan untuk bisa membaca beberapa buku dan
mengambil beberapa data penelitian untuk tugas kuliah yang sudah menunggu
minggu depan. Belum selesai aku menyusun waktu dan agenda yang ada di kepalaku,
aku sudah di kagetkan oleh suara seorang lelaki paruh baya berbadan gemuk,
hitam, dan berkumis lebat yang berjalan membawa rotan tepat di tepi jalan
tempat aku melintas.
“Bawa saja ke polisi, hajar, bila perlu bunuh
sekalian..dasar manusia tak tau diri..!!” Teriaknya setengah memaki. Mataku
mengikuti langkah kakinya berjalan, kulihat di depan sudah ramai orang-orang
berkumpul. Ada yang membawa kayu, alat pukul, dan semacamnya. Sebagian lagi
menyumpah serapah, memaki, bahkan ada yang bicaranya sampai tak jelas karena
tak bisa membendung Emosi. Semakin dekat ku hampiri, segera ku tepikan
kendaraan ku dan turun untuk melihat dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
“Ada apa bang? Kok ribut-ribut begini?” tanyaku
singkat pada seorang lelaki berkaos hitam.
“Ah, ini bang ada pencuri bang, mau maling dia bang,
tapi ketahuan sama warga” Jelasnya singkat. Cepat-cepat ku terobos keramaian
untuk melihat siapa yang sedang di serapahi warga ini. Barangkali aku
mengenalnya atau sekedar bisa membantu mendinginkan suasana, agar warga tidak
main hakim sendiri karena terbawa oleh masing-masing Emosinya. Mataku terkejut
saat melihat sosok lelaki berbaju koko cokelat muda yang kini berada di tengah
keramaian dan amuk warga. Sosok yang sangat aku kenal, Ahsan? Bisikku dalam hati.
Tanpa pikir panjang seorang lelaki hitam berkumis yang tadi kulihat membawa
Rotan hendak melayangkan pukulan ke Arah Ahsan, dengan secepat mungkin aku
berusaha memeluk ahsan yang duduk tidak berkutik di tengah kepungan warga.
Melihat tindakanku ini, lelaki hitam berkumis tadi heran dan mengurungkan
niatnya.
“Sabar..sabar..!! tenang.. Jangan emosi.. Sabar..!!
Tenang.. Jangan ikuti keinginan bapak-bapak sekalian untuk segera menghakimi..
Jika dia memang bersalah, mari kita selesaikan semuanya secara damai. Tidak
dengan jalan main hakim sendiri...” aku mencoba menenangkan keadaan.
“anda siapa? Gak usah ikut campur. Gak usah sok jadi
pahlawan di sini. Ini urusan warga dengan si pencuri ini..!! Kalau tidak di
kasih pelajaran dia tidak akan berhenti mencuri..!!” ucap lelaki Hitam berkumis dengan nafas yang
sedikit terengah menahan Emosi yang belum terluapkan.
Ah, aku jadi ingat pesan dari salah satu dosen mata
kuliah di kampusku, dia berkata “Kalau ada orang yang bicara dengan kalian
dalam keadaan sedang emosi, jangan kalian balas dengan emosi juga.. Tenangkan dia, dan
hapuskan Emosi itu perlahan-lahan dari dia, dan bicaralah baik-baik...”.
Bismillah, Semoga Allah menolongku saat ini.
Bisikku.
“Tenang..!! Sabar Pak, Sabar..!! Saya paham apa yang
bapak maksudkan. Tapi menyelesaikan masalah seperti ini ada tata cara dan
proses hukumnya. Bukan dengan jalan main Hakim sendiri seperti ini. Saya
Mahasiswa, dan saya yakin kita semua yang ada di sini tau seperti apa hukum di
negara ini berlaku, jadi saya harap semua tenang.. Jangan mengikuti emosi,
tolong kendalikan diri anda semua..!!”
suasana sedikit tenang, namun nafasku sedikit terburu.
“Alaaah.. Gak usah sok bijak, pencuri ya pencuri..
Pantasnya ya di hukum mati, biar gak buat Onar lagi..” seorang Remaja dengan
topi hitam kumuh berkoar seolah memancing agar suasana kembali panas.
“Baik, tapi sebelumnya apa ada bukti dan saksi yang
memang jelas menyatakan dia mencuri?”
Sejenak para warga diam, beberapa orang lainnya
mulai meninggalkan keramaian. Kulihat si leleaki berkumis tebal tadi sedikit
bingung.
“Bagaimana? Ada buktinya kalau dia memang benar mencuri?
Siapa saksinya? Ada?” tanyaku lagi.
“Tapi semua warga mengejarnya dan meneriakinya
pencuri..” lelaki berkumis tadi berkata dengan emosi yang sudah mulai menurun.
“Hanya karena dia di teriaki pencuri? Bapak lalu
begitu saja percaya? Lalu jika saat ini saya teriaki bapak sebagai seorang
pencuri tanpa adanya sebuah bukti, apakah bapak akan menerimanya.?’’ aku
sedikit menaikkan nada suaraku, setidaknya agar mereka semua mendengar apa yang
sedang kami bicarakan. Kulihat lelaki hitam berkumis mulai diam. Ku teruskan
ucapkan ku,
“Ada baiknya sebelum bertindak, kita harus tau
dengan jelas dulu benar atau tidaknya apa yang kita dengar. Jangan asal terima
dan langsung gegabah dalam menanggapinya. Jika dia tidak terbukti bersalah,
lalu kemudian bapak-bapak sekalian hakimi hingga dia tidak bernyawa, siapa yang
akan bertanggung jawab atas kematiannya? Yang pada akhirnya kita hanya
memfitnah dan menganiaya dia dalam kenyataan bahwa dia tidak melakukan apa yang
kita tuduhkan. Jelas semua orang yang ada di sini akan menanggung dosa atas
kematiannya. Apa kita siap dan mau mempertanggung jawabkannya kelak di hadapan
Allah?.
Siapa yang merasa di rugikan di sini? Jika memang
ada, saya yang akan menanggungnya, semua karena saya mengenal dia sebagai
seorang yang berkelakuan baik. Dan saya menjamin semua ganti rugi pada
bapak-bapak atau ibu-ibu yang merasa di rugikan...” aku menopang tubuh ahsan
untuk bangkit sambil merapikan letak tas ransel yang ada di pundakku.
“Baiklah, sebelumnya saya minta maaf..” tanpa banyak
bicara lelaki berkumis tebal bergegas meninggalkan keramaian. Satu persatu
keramaian mulai bubar. Remaja bertopi hitam kumuh tadi juga sudah tidak
terlihat keberadaannya. Alhamdulillah, Allah menolongku..
“Mas Adam , Syukran mas..” ahsan menjabat tanganku,
tangannya seolah mengisyaratkan ucapan terima kasih yang mendalam padaku.
Kulihat tak jauh dari kendaraanku ada sebuah warung kecil, ku ajak ahsan untuk
duduk sebentar di sana.
“Di sana ada warung, ayo duduk sebentar..” ku ajak
ahsan untuk segera mengikuti langkahku menuju warung. Ku lihat jam di
pergelangan tanganku, ah..masih ada waktu untuk sekedar duduk dan minum saja.
Ku pesan dua gelas minuman dingin, tanpa sungkan ahsan segera menyambut pesanan
yang di antarkan pemilik warung. “ terima kasih bu” ucapku.
“Bagaimana ceritanya san? Kenapa bisa sampai di
kepung warga begitu?..” kucoba untuk mulai membuka pembicaraan.
Ahsan tertunduk, matanya sedikit meneduh. “Ah, afwan
mas.. saya memang sebenarnya berniat menyambar sebuah tas milik ibu-ibu, tapi
belum lagi saya sentuh tasnya, seorang ibu-ibu lainnya yang entah sejak kapan
memperhatikan gerak gerik saya dengan cepat meneriaki, karena ketahuan saya
cepat-cepat kabur. Beberapa warga mengejar, saya berusaha lari secepat mungkin.
Tapi warga tetap berhasil menangkap dan mengepung saya mas..”
“Astaghfirullah ahsan, ada apa dengan antum? Kenapa
bisa?” aku sedikit tidak percaya, ahsan yang ku kenal begitu baik pribadinya
ingin melakukan hal haram sedemikian.
“Iya mas, saya bingung.. adik saya sedang sakit
beberapa hari ini, saya sedang tidak punya uang.. ah, pikiran ini sudah buntu
mas..” ahsan mengusap wajahnya, kulihat
raut wajahnya yang cemas seakan menggambarkan betapa berat masalah yang sedang
di hadapinya.
Ada sedikit rasa haru yang menyusup ke dalam hatiku,
mengingat ahsan bukanlah lagi seorang yang memiliki orang tua. Keduanya
meninggal saat ia masih kelas 3 SMA. Aku bahkan masih ingat saat ia begitu
meraung kehilangan atas kepergian Ibunya menyusul sang ayah yang sudah terlebih
dulu di panggil Allah. Semenjak di tinggal orang tuanya, ia dan adiknya kini
tinggal berdua di sebuah rumah kecil peninggalan ayah dan ibunya. Hidup dalam
keterbatasan namun tetap mengutamakan ketaatan. Ya, ahsan memang terkenal
dengan pemuda yang begitu rajin dengan shalat berjamaahnya. Kedekatannya dengan
masjid membuatnya
seolah adalah Penjaga taman jamaah dalam Shalatnya. Tapi yang sedikit ku pertanyakan, kenapa Ahsan mampu berbuat yang demikian. Entahlah, mungkin
memang benar bahwa adakalanya Keimanan seseorang akan turun. Dan ku rasa ahsan
sedang mengalaminya.
Mengingat bahwa lusa nanti Ramadhan sudah menyapa,
kurasa ada baiknya jika ku ingatkan Ahsan untuk kembali berdiri dalam ketaatan,
bersabar dalam cobaan yang menguji keimanan, dan menyerahkan segala urusannya
hanya kepada Allah. Mengadu, merayu, meminta dalam doa yang juga di iringi
dengan Ikhtiar. Bukankah dalam Ramadhan ada sebuah keistimewaan dalam
melampiaskan kerinduan kita pada perilaku ketaatan. Ah, tak hanya dia, pun juga
demikian denganku. Bukankah aku juga pernah mengalaminya, bermaksiat tanpa
sadar dan malu dengan Dia yang sudah memberikan banyak Nikmat. Gagal dalam
menghadapi Ujian yang Allah berikan, ujian yang sebenarnya malah justru akan
membawa sebuah pelajaran dalam kehidupan. Ah, aku juga pernah demikian. Ku
pegang pundak ahsan, setidaknya dengan ucapanku nantinya mampu mengalirkan energi
positif padanya.
“San, adakalanya memang suatu keadaan terasa begitu
berat untuk kita hadapi sendirian. Ia seumpama Cobaan yang ingin meruntuhkan
Keimanan, lalu seolah ingin menenggelamkan kita dalam kehinaan dengan
menghapuskan jernihnya Iman. Tapi bukan berarti kita hanya pasrah dengan
keadaan. Antum harus ingat san, bahwa Allah sekali-kali tidak akan membebani
hamba-Nya melebihi batas kesanggupannya. Allah menguji antum, karena Allah tau
Antum sanggup untuk menghadapinya. Jadi kalau saat ini antum merasa tidak
sanggup, tetap ingat. Antum tidak sendirian, Allah itu Maha memberi bantuan. Tetap
dekati Allah dalam ketaatan san. Antum harus tetap berpikit jernih, tetap
lakukan ikhtiar dan berdoa. Jangan ikuti godaan setan., antum harus tetap bisa
menahan diri dan bersabar menunggu jalan keluar yang pastinya akan Allah
berikan. Lusa sudah ramadhan, apa antum tidak malu jika menyambutnya dengan
kemaksiatan. Sabar san, sekali lagi Allah itu Maha pemberi Bantuan san.
Sabarlah..” nafasku sedikit sesak menasehatinya. Bahkan mataku sedikit berkaca,
Melihat keadaan ahsan dan adiknya yang sedang sakit,
aku jadi teringat dengan adikku. Namanya Mawar, seorang Tuan Putri yang saat
ini sudah kembali kepada-Nya setahun yang lalu. Allah panggil dia dalam keadaan
Syahid yang memuliakannya. Seorang tuan putri yang menjadi bunga terharum di
keluargaku. Seorang putri manis yang menjadi kebanggaan keluargaku. Dia pergi
karena sakit lambung yang di milikinya sejak SMA. Belakangan setelah beberapa
hari sepeninggalannya aku banyak mendengar cerita dari teman-temannya. Tentang
betapa kebaikan yang ia lakukan sangat aku cemburui. Temannya menceritakan
bahwa setiap jam istirahat tiba, ia selalu menyodorkan bekal makanan yang ia
bawa kepada teman-temannya. Sampai ia sendiripun kadang sampai tak makan bekal yang di bawanya dari Rumah itu. Tak jarang ia bahkan tak enggan menyuapi teman-temannya satu
persatu. Ah, betapa kebaikanmu malah membuatmu jatuh sakit, dikku. Semoga
sakitmu menjadi penggugur dosa yang ada. Semoga Allah selalu
mencintaimu,diks..Tuan Putriku..
“Iya mas, astaghfirullah mas.. Ya Allah.. Saya
Khilaf Mas. Jujur saja, saya bahkan tidak pernah terpikirkan kenapa saya bisa
sampai sebuta ini dalam bertindak. Kenapa bisa, Astagfirullah Mas. Sekali lagi
saya benar-benar Khilaf Mas..” suara ahsan mengagetkan lamunan ku, kulihat
matanya berkaca-kaca. Ada binar penyesalan di sana, aku berdo’a semoga Allah
memberikan jalan terbaik untuk dia dan adiknya.
“Iya san, cobalah mulai saat ini antum tetap
berpikir positif. Tetap Husnudzan sama Allah, yakin sama Allah bahwa Dia pasti
mengabulkan apa yang kita pinta. Yakin bahwa Ujian yang Dia berikan semata-mata
agar kita terdidik dalam kesabaran. Termuliakan karena ketaatan. Yakinlah san,
bahwa semua Cobaan yang Allah berikan semua nya pasti menyimpan Kebaikan. Sama
seperti nama antum, ahsan yang selalu di harapkan mampu membawa banyak
Kebaikan. Tetap sabar san, berdo’a dan berikhtiarlah sebaik mungkin. Semoga
Allah berikan jalan untuk kesulitan antum. Dan semoga Allah memaafkan ke
khilafan kita semua san. Mas Doa kan juga semoga adik antum cepat sembuh..” ku
pegang kembali pundak ahsan dan menyapa nya dengan senyuman penuh harapan.
“Baik mas, terima kasih banyak atas nasehat mas.
Saya bersyukur Allah ikatkan persaudaraan saya dengan mas. Aamiin mas. Semoga
Allah mengabulkan..” Ahsan tersenyum, di teguknya minuman dingin di gelasnya
yang sudah hampir habis.
“Berapa biaya yang antum perlu buat biaya adik antum
san?”
“Ah, sekitar dua ratus empat puluh ribu mas. Semoga
Allah permudah jalannya ya mas..” senyumnya kembali terukir. Aku
mengingat-ingat simpananku, ku kira masih berlebih sampai akhir bulan.
Mengingat bulan ini aku juga tidak terlalu banyak pengeluaran, jadi masih ada
uang yang bisa di sisihkan. Ku periksa
dompetku, ku keluarkan lima lembar uang lima puluh ribuan. Semoga bernilai
ibadah, mengingat bahwa ramadhan sudah akan datang. Semoga Allah berkahi
ramadhanku kali ini melalui jalan kebaikan ini. Dan kembali aku mengingat pesan
ustad Karim. “Kalau kita membantu orang lain, InsyaAllah orang lain juga akan
membantu kita..” lagi-lagi pesannya ini menjadi penguat niatku.
“Ini san, ada sedikit bantuan dari Allah. Semoga
bermanfaat buat antum dan adik antum..”
Ahsan sedikit kaget dan berusaha menolak. Tapi
setelah ku yakinkan lagi niat baik ku ini,
ia dengan senyuman bahagia setengah tidak percaya akhirnya mau menerima
nya.
“Terima kasih mas, semoga Allah balas dan berkahi
segala kebaikan antum mas. Saya bahkan tidak menyangka pertolongan Allah akan
datang secepat ini melalui mas. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih mas..”
ahsan menyeka gerimis yang menetes satu persatu dari sudut-sudut matanya.
“Sama-sama san, semua karena Allah. Allah yang
mempertemukan kita hari ini, Allah yang menyusun langkah kaki kita, Allah yang
mengatur semua skenario dalam kehidupan kita. Semua karena Allah san, yang juga
menggerakkan hati mas untuk mau membantu antum. Sekenanya saja, mari sama-sama
setidaknya kita selalu bersyukur atas apa yang memang sudah Allah berikan
kepada kita. Dan selalu yakin dengan apa yang sudah Allah janjikan, ingat.
“Jika
kita bersyukur, pasti Allah akan menambah nikmat ini, dan jika kita mengingkari
nikmat-Nya, maka ingatlah sesungguhnya azab-Nya sangat pedih.. Teruslah yakin
dan teguh dalam kebaikan san, kembalikan ketaatan yang sempat memudar.
Semangatlah dalam menjalani hidup, meski kadangkala tak sesuai dengan harapan
kita yang indah, tapi tetaplah bersabar semoga bernilai ibadah.
Lusa
sudah ramadhan, sekali lagi san. Tetaplah berdiri dalam kebaikan. untuk segala
hal.. Dan ingat, bahwa Ramadhan itu
memuliakan kita. Ramadhan itu indah bukan?”.
Ahsan
tersenyum, aku bangkit dari tempat dudukku. Ku jabat tangannya, lalu bergegas
merapikan diri untuk segera beranjak menuju perpustakaan. Janjiku dengan ustad
karim jangan sampai terlupakan. Kulihat
jam, masih ada sekitar 15 menit lagi untuk tepat waktu sampai di sana. Meskipun
tidak lagi sempat untuk membaca buku yang tadinya terencanakan, tapi setidaknya
hari ini aku mendapatkan nikmat untuk bisa berbuat kebaikan. Sekali lagi,
semoga Allah memberikan yang terbaik dalam Ramadhan.
Di
perjalanan aku kembali teringat pada Mawar, almarhumah adikku. Ah, kadang
selalu ada rindu ketika aku mengingatnya atau bahkan sekedar terlintas namanya.
Entah karena rasa kagum pada kebaikan
yang dia lakukan, entah juga karena kerinduanku akan Ramadhan-ramadhanku
sebelumnya yang masih membersamainya.
“Tapi
apapun itu, semoga Allah jaga kan engkau dalam Keridhoan-Nya Diks. Meski kita
tak lagi satu Ramadhan, semoga Allah kembali pertemukan kita dalam sebuah
pertemuan yang Dia istimewakan. Kita dan bahkan keluarga kita. Entahlah, semua
karena memang Ramadhan itu indah bukan? Aku rindu Ramadhan denganmu, Diks..”
bisikku dalam hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar