Senin, 05 September 2016

Tentang Dua, Keadaan.



Tentang Hujan, kita sama-sama tau.. Bahwa ia, adalah sebuah hadiah dari –Dia yang membawa banyak lapis-lapis keberkahan. Adalah ketika tetesan sejuk dari celah-celah Langit yang jatuh menghampiri permukaan bumi. Menciptakan Rinai yang iramanya seolah menjadi sarana meditasi. Pun adalah sebuah waktu, dimana Jemari selalu tersusun Rapi. Adalah waktu dimana Lisan Mengucap Dzikir Illahi. Waktu di mana Do’a bermuara pada pengabulan dari-Nya. Waktu mustajab, bagi anak Adam dan Hawa merepal pinta. Adalah sesuatu yang terbilang Nikmat. Karena dalam Hujan, ada banyak Hikmah, ada banyak berkah, ada banyak Cinta, Rindu dari-Nya yang tidak bisa terjelaskan satu persatu pastinya. Mungkin juga Adalah tentang Aku, sesuatu yang tidak perlu aku jelaskan di sini. Pun sesuatu yang di jelaskan di luar waktunya, atau tidak pada waktunya, bagiku tidak berarti apa-apa.. hanya sekedar ucapan biasa yang menghiasi telinga saja. Eh’
 
Tentang panas terik, kita tidak perlu banyak bercerita tentangnya. Tak perlu menyerapah, atau mengeluh. Karena bagaimanapun, panas itu juga Nikmat. Kau tau? Di luar sana ada Buruh kilang padi,yang sedang begitu mesra membalikkan bulir-bulir padi di tengah panas ini. Yang berharap ia tetap terjaga agar cepat sempurna hamparan padi di atas jemuran lapang itu,  yang di sisi lain panas itu malah kita serapah. Menganggap ia hanya sesuatu yang membuat kita Gerah. Membuat Hati ikut panas tak terarah. Maka di sini ku katakan, bahwa bagi yang lain itu adalah nikmat. Benar bukan? Jika kita mau berbaik sangka atas semua yang ada di Muka Bumi, dan di bawah Payung-payung Langit. Yang –Dia berikan, bahwa semua tidak ada yang sia-sia. Untuk itu kita tak perlu membahas terlalu banyak masalah Nikmat dan permberian dari-Nya. Karena yang ku takutkan kita malah Kufur, bila menilai-nilai terlalu banyak Semua yang sudah –Dia berikan. Padahal entah baru seberapa Nilai Ibadah yang hari ini kita lakukan untuk mendapat Ridha-Nya, atau membalas Nikmat yang –Dia berikan. Yang pastinya tiada Cukup, untuk membayar setiap Keberkahan, dan Semua yang –Dia berikan. Tentang Nafas yang masih bisa kita Nikmati percuma, tentang Sehat, dan tentang Lainnya yang lagi-lagi tak tersebutkanku di sini. Untuk itu, kita wajib malu pada-Nya bukan?

Tentang Hujan dan Panas Terik, Bagiku adalah Dua keadaan dimana kita mungkin akan terlihat berbeda. Atau akan selalu sama. Bagiku, itu adalah dua keadaan dimana hanya Orang-orang tertentu saja yang akan memahami tentang betapa Indahnya mereka. Tentang betapa manisnya memahami Keduanya. Tentang betapa Rindu-Nya jika mampu mensyukuri-Nya. Seperti Tuan Putri dalam Hujan, yang Lidahnya tiada Habis berdzikir, mengimbangi Rinai Air dari celah-celah langit yang mengudara jatuh ke Bumi. Atau tentang Buruh dalam terik, yang Rasa sengatnya hanya seolah menggelitik, tempatnya biasa bermain mencari nafkah keluarga. Bahwa Terik, adalah teman dalam Senyuman di waktu Sang, atau kenangan mata di waktu malam mendatang. Ah.. Yang pasti Dua keadaan ini istimewa, dimana mungkin saja bisa ada pada satu waktu.
Karena di sudut dan belahan Bumi manapun. Dua itu adalah sesuatu yang spesial, sesuatu yang Manis, Sesuatu yang kau harus tau. Bahwa Dua itu adalah Keindahan tanpa Judul. Tapi bila boleh menaruh judulnya sendiri, aku ingin Menamainya “Dua karena Dia”.
Bisa jadi Dua itu adalah kita, Dua dalam Satu (Dia). Manis bukan.?
Atau semisal dua yang lainnya..
Mungkin di waktu yang lain, pernah ku katakan. Tentang Romantisnya Gesekan sepasang Sendal pria berkoko Cokelat, yang melangkah beriringan menuju Mesjid. Yang tidak terhalang, meski Kadang ada duri, atau Deras dan tingginya genangan Hujan. Tapi Yang teryakini bahwa di lain waktu Ia akan menemui sesuatu yang  Indah.
Tentang Dua Roda yang berjalan, tapi saling kejar-mengejar dalam jarak yang terjaga.
Atau tentang Dua-Dua yang lainnya. Yang lagi-lagi, bagiku tak habis jika ku uraikan panjang lebar di sini. Dua dalam Satu. Yang mungkin bisa jadi, akan ada Dua dalam satu wadah, waktu, atau semacamnya. Atau bisa juga, Dua karena –Dia yang Satu. Tapi, apapun itu. Kau pasti paham yang ku maksudkan Bukan?
Karena Bagaimanapun Keadaannya, Dua itu tetap Sepasang. Sesuatu yang membuat Hati kita tersenyum Senang. Iyakan?



Seorang yang Rindu,
Di bawah atap Ponsel, Tepi Rel.
Agung,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar