Rabu, 03 Agustus 2016

Antara Libur (K)e-(R)amadhan (S)emalam dan KRS Bulanan



Rasanya ada banyak kebahagiaan yang menyusup ke dalam hati para anak manusia, teruntuk Mahasiswa tahun ini katanya.
Betapa tidak?
Ada kemenangan yang hadir di balik perjuangan melawan Syahwat di satu bulan penuh Hikmat.
Mendapat kesempatan mengukir taat, lalu akan mengemas nya untuk tetap berlanjut tak hanya sekedar singgah di ramadhan saja..
karena tak jarang ada beberapa yang puasa hanya mengejar Full puasa nya saja, bukan mengejar Nikmat Ibadah pun memperhatikan Ibadah Sunah-sunah lainnya..
jadi ketika Ramadhan berakhir, yang terasa hanya bangga puasa full saja..
Bukan karena Rasa Ke-Imanan yang apakah bertambah atau malah berkurang.
Pun kalau merasa menangnya karena bisa puasa Full satu bulan, rasanya biasa saja..
Rasanya masih saja sepertik anak kecil biasa, yang mengharap di hadiahi baju raya jikalau puasa bisa full penuh –katanya.
Padahal target utamanya tentang Predikat taqwa, tentang Keimanan yang apakah setelah syawal menyapa masih bertahan. Atau hanya lenyap di sisa-sisa ramadhan Menyapa.
Lebih, tak juga cukup jika biacra tentang Makna Ramadhan yang lalu.
Pun jika di sini, tak cukup Ruang untuk di sapu bersih menyinggung hakikatnya.
Cukuplah hasrat ingin tau yang membuat kita mencarinya dengan susah payah.
agar bertambah pengetahuan. Lalu terealisasikan demi menguatkan keimanan..

Lalu sebenarnya adalagi kebahagiaan yang di dapat lagi, nikmat yang tak hanya sekedar di rasa Ruhiah, tapi juga di sambut ceria oleh jasmaniah.
Betapa tak tersenyum mekar.
Yang mendapat nikmat liburan Full dalam Ramadhan.
Di tambah Lebaran bisa berkumpul di kampung dan merasakan suasana kekeluargaan.
Tak lagi pusing terpikir urusan Kuliah yang bertaburan, karena kesempatan berkumpul dengan saudara tercinta di perdesaan, Oh Allah ku sayang.. ini nikmat kan..
|
Tapi ada yang di Saya(ng) kan.
Di karenakan Libur(an) yang berkepanjangan, sebagaian dari kita malah terlena.
dan lupa akan bagian dari Ke(wajib)an sebagai seorang didikan Universitas Islam.
Peranan sebagai Seorang Mahasiswa yang aktif masih saja Ter-Abaykan.
Entah karena Memang butuh waktu bersama keluarga selama lebaran, entah juga terkesan karena tak ingat atau bahkan tak menghiraukan tugas di kuliahan.
Yang jadi pertanya-an, apa tidak kepikiran Urusan setelah Kemarin Ujian Akhir semesteran? Atau memang  Ke-Enakan di manjakan dengan Suguhan Hari Rayaan?
Selebihnya tanya pada rumput yang bergoyang atau abaikan.

Jika di tanya lebih, apalagi coba kalau tidak liburan? Setelah UAS-AN.
Masih banyak loh...!! Kan di tambah bakal ada yang Namanya KRS ON-LINE?
Katanya mau kampus Maju, tapi kok mundur jauh ke (k)ampun(g)?
Kok malah tak mendukung, kok malah tak cari tau bagaimana biar Paham tanpa Ujung.
Lalu, kalau mau pedas-pedasan.. Para Ko(s)ma bisa saja teriak-teriakan.
Kami bukan Pembantu Dadakan..!!
Meski ada beberapa yang IKhwan, tapi itu bukan alasan untuk yang lain agar Ko(s)ma di kedepankan..
Kalau begi ni kan, bakalan ada pertanyaan? Tentang Keikhlasan atau sebagainya.
Tapi lagi-lagi, Ikhlas itu tak perlu di uraikan. Kita sedang bicaran Kuliah-kuliahan. Kan..kan?
Meski Ko(s)ma juga bagian seorang yang amanahnya harus di pertanggung jawabkan.
Punya banyak tugas lebih dari mahasiswa lainnya, tapi juga tak selalu bisa di andalkan.
Toh Ko(s)ma juga Manusia yang punya pekerjaan Rumah dan Lainnya. Agenda, Kegiatan, dan urusan Rumahan.
Jadi tak sepenuhnya bisa mengkhususkan tugas Ko(s)ma saja yang di prioritaskan.
Apalagi kalau si Ko(s)ma sudah be-rumah Tangga(an). Apa tak jadi pusing juga kan?
Lalu yang lain, kawan-kawan pada ngapain ?Ada Kerjaan? Atau masih saja Lebaran?
Disini letak banyak argument terdengaran.
“Mahasiswa biasa, atau biasa Mahasiwa.’’
ah, apapun itu semoga ada perubahan di kedepan hari..!!
Karena Beberapa Ko(s)ma kadang sering Curhat-curhatan, karena amanah yang harus tetap di jalankan.
Di tambah liburan serasa tak sempurna karena lagi-lagi Amanah.
Tapi ya mau bagaimana? Tetap ya jalani saja.
Semoga bernilai Ibadah -Katanya
ah, apapun itu semoga ada perubahan di kedepan hari.!!
Maka Belajarlah mencukupkan mana waktu liburan mana waktu kuliahan.
Bukan karena ada sindir-sindiran, atau kritik kepedesan katanya.
Tapi dari diri sendiri yang Harus ingat akan kewajiban.
Kalau lah memang Mahasiswa Beneran, Pasti Kuliah tak akan di Nomor Dua-kan.
Karena Nomor Dua itu sakit bukan?  Kan..kan?
Teruntuk itu, Saya(ng) Eh’ maksudnya Kuliah jangan jadi Nomor Dua.
Karena kalau bukan lagi jadi prioritas, akan lain ceritanya.
Apapun yang di tanyakan, kenapa masih di kampung setelah UAS dan lebaran? Gak kepikiran kuliah?
Nantinya, dalam jawaban hanya akan banyak mengandung Alasan.
Itu sebabnya aku tak Men-duakan Kuliah atau siapapun. Termasuk Juga Ka-mu.. dan -Dia.
Eh'.
Kalau Sekelas Kuliah, itu Artinya Aku dan dan Kamu juga adalah Kita.
-Kataku.. (Masuk Anginlah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar