Tanpa modal yang baik, kita tak akan mampu
menghasilkan sesuatu yang berarti. Begitu pula halnya hati, perilaku, dan
mental yang ada di dalam diri kita. Tanpa energi-energi positif yang menguatkan
kita, kita tak akan pernah nyata terbentuk menjadi sesuatu seperti yang
sebenarnya. Ayah, Ibu, Kakak, Adik, Teman-teman, Sahabat dakwah, Murobbi, dan
siapapun yang hadirnya memberi pengaruh besar untuk kita. Merekalah sumber dari
energi-energi positif itu.
Sayup-sayup sebelum hujan turun, kamu meminta untuk
menemuiku. Aku bahkan masih terlalu kaku saat menuang segelas susu lalu dengan
terbata kamu meminta waktu padaku. Silahkan. Datanglah, tanpa panjang lebar aku
mengiyakan apa yang kamu mau. Mendung kadang memang suka menyajikan oase tanpa
kata, ia bergerak. Tanpa jeda membalut dingin di sekujur tubuh kita. Dan
perlahan kitapun malu pada waktu, mencari bentuk dari matahari yang menjelma
pada secangkir hangatnya susu. Ah, Apa yang tersaji di depan meja kerjaku
memang pilihan terbaik untuk menenangkan diri. Menterjagakan kita dari keluh
berisi serapah, atau cela dalam pinta. Sebab mendadak di payungi mendung memang
menjadi tak nyaman bukan. Meski sebenarnya, mendung yang paling gelap sekalipun
belum nyata akan menumpah hujannya pada saat itu juga. Nikmati saja.
Kini kamu datang, seorang yang izinkan ku sebut
namamu mulai detik ini sebagai Dik. Seorang yang ku terjagakan kamu dalam doa.
Meski aku tak pernah sempurna untuk menjadi pemerhatimu dalam tiap-tiap detik
yang ku habiskan. Sebagai orang yang jauh dari keterjagaan, maka aku siap
mengganti diri menjadi yang berani menjagamu mulai detik ini.
Kusam, wajahmu menaruh praduga apapun dalam diriku.
Setengah sesak pelan-pelan kamu urai tentang apa yang kamu pikirkan. Ceritalah
kataku. Bicaralah lirihku. Bila kamu masih ingat malam itu, tentu aku lebih
banyak diam dan mengiyakan semua keluhmu, semua karena aku ingin kamu
terkuatkan saat ada yang menyaksi lewat mata dan mendengar semua kesalmu.
Kamu tumpah, semua terbaca saat ku raba apa saja
yang kamu kata. Ada hati yang melemah kala penghuni rumah lain sulit memahami
siapa dirimu. Sekali lagi, hujan masih ku harap terjaga agar tak jatuh tepat di
pangkuan kita malam itu. Mendung semakin beku, meski kamu tak lagi kaku. Aku
pun terbiasa pula kini mendengar kamu.
“Kenapa orang-orang tak pernah bisa memahami
kehendak dan ingin kita yang pelan-pelan sedang belajar membaik dari
keterlaluan yang pernah kita alami..”
Kamu kesal, yang ku tangkap kamu sedang tersudutkan.
Ada jiwa yang rindu untuk di lapangkan. Di tinggikan untuk tersenyum mengawan
sendu. Dan, aku mencoba untukmu. Menjadi sekeping harapan dalam keputus asaan. Atau
menjadi kaki kecil penunjuk arah dalam kebingunganmu.
Dik, ku ulas untukmu lagi disini. Bukankah setiap
hati memang selalu ingin di mengerti. Kitapun demikian kan?. Ingin di sajikan
ketenangan berperantara perhatian-perhatian yang tak henti. Tapi sebanyak dan
semewah dari apa yang kita mau, kita juga harus paham bahwa orang lain juga
ingin demikian. Di sambut hangat dengan perhatian. Di dengar baik oleh para
pemerhati Bukankah setiap badai, selalu
datang berkecamuk pada siapa saja, dan di waktu kapan saja. Dan akupun pernah
sepertimu pula. Namun bukan cara terbaiknya kita harus manja dengan waktu yang
tersisa. Bila yang lain masih menganak pagi oleh sukar yang kita hadapi bersama.
Maka jadilah yang menganak senja di hadapan siapapun. Meski pahit untuk kamu
bisa sekedar bertahan beberapa detik saja. Tapi cobalah, kamu akan terbiasa
menjadi apa yang aku sampaikan. Menjadi lelahnya senja kala yang lain hanya
menikmati segarnya pagi. Belajarlah dengan waktu. Jangan berhenti menelaah
apapun yang terjadi. Mudah bukan?
Dik, bila kamu bilang ada ketidak layakan pada
dirimu. Bahwa kamu punya masa—masa yang terlalu kala kita belum bertemu dan
bersama disini. Akupun demikian pula adanya. Aku pernah jatuh, lebih dari apa
yang orang-orang maknai tentangnya. Aku pernah hilang arah, lebih dari apa yang
orang-orang pernah duga padanya. Kita semua sama, terpenjara dalam kelemahan.
Sedang khayal tinggi mengawang-awang. Menembus ruang tanpa batas dan waktu
jeda. Tapi semua tak menjadi apa-apa. Kembali, kita menjadi tumpukan kenangan
atas waktu yang tak sebentar. Kita hanya kekurangan yang tidak akan pernah
sempurna di luar waktunya. Bahkan lebih dari apa yang kamu bilang, akupun
pernah menjadi dirimu dalam beberapa rentan waktu. Hilang arah, terlepas dari
keyakinan, jauh dari dekapan, dan terbata kala harus mengeja firman-firman
persaudaraan. Bahkan sempat ku nodai iman-iman kecil dalam diriku. Aku tak
layak ada di jalan ini. Bersama siapapun.
Tapi sekali lagi, bukan itu cara yang paling baik
menghadapi situasi-situasi genting dalam rombengnya jiwa kita. Seorang di ujung
sana, teman yang pernah menguatkanku mengatakan.
“Jangan bicara apapun masalah layak atau tidaknya
kita disini, di jalan ini. Semua sedang belajar, dan dalam belajar tak akan ada
yang menemui titik sempurna sebelum waktunya. Bukankah belajar adalah proses
sepanjang hayat? Bahkan kita tak tau dimana ujung dan letak gelar bahwa kita
layak di sebut seorang yang berhak berjuang di sini. Kita tak boleh egois,
memandang keinginan kita saja untuk menyendiri dari jalan ini. Sedang yang lain
kebingungan kala harus mencari solusi yang mampu menguatkan atas
ketidakberdayaannya kita. Bila melemah, periksa imanmu. Bila lelah, periksa
imanmu. Bila terluka, periksa lagi imanmu. Jangan pernah lelah memeriksa. Dan
jangan pernah bicara layak atau tidaknya kamu ada disini. Siapapun berhak
disini. Karena kita sedang sama-sama berjuang. Dan apapun yang terjadi, jangan
tinggalkan aku disini”
Seketika aku menitikkan air mata dik, sungguh
penguatan yang menenangkan. Dan disini, kusampaikan pula penguatan itu padamu.
Pemilik semangat dari tegarnya langit memayungi bumi ini.
Wajar, orang-orang sulit memahamimu. Mungkin bukan
mereka saja yang salah. Tapi juga ada sesuatu yang terkhilaf dari diri kita
sendiri. Lalu saat kita merasa orang lain selalu bermasalah dengan kita, takkah
kita pernah curiga dengan apa yang terjadi? Jangan-jangan kitalah sumber
masalahnya. Atau jangan-jangan hati kita sudah lebih parah dari sebelumnya.
Tertutup nanah maksiat, sampai-sampai laku kita pun tak pernah lagi
menyentuhkan taat. Mari Beristighfar dik.
Kepadamu, seorang yang lagi-lagi memang layak
kusebut dik. Aku memerhatimu. Dari sini, meski kadang sibukku melanda hebat. Tapi
percayalah, keluhmu senantiasa kusedia bahu. Dan lelahmu kusedia semangat pada
hangatnya segelas susu. Masa lalu kita tak pernah selalu sempurna, dan masa
depan juga masih ambigu adanya. Tapi mau bagaimanapun juga, teruslah berbenah
untuk menjadi baik di kemudian hari. Semua punya gelap, dan terang tak pernah
hilang untuk siapapun pula. Maka pilihan dik, kamu ingin terjaga atau bangkit
menebar cahaya.
Kuatkan dirimu, memahamilah. Bahwa bukan kita saja
yang punya hati. Orang lain juga punya rasa yang ingin di mewahkan dengan
kemuliaan. Maka memuliakanlah bila orang-orang tak sanggup untuk memuliakan
hatimu. Selalu ada pilihan saat kita di hadapkan pada keadaan-keadaan sulit
kala amarah melanda hebat. Memenangkan perdebatan dengan hujjah, atau
memenangkan hati seorang yang sedang ada di hadapan kita dengan damai. Itulah
pilhan yang bisa aku beri. Selebihnya, dakwah yang mengajarimu segalanya.
Tentang cinta, tuhan, dan manusia. Tentang kenapa amat pentingnya Firman-firman
persaudaraan di antara kita. Karena nanti, seorang yang paling cinta pun bisa
saling jadi musuh di hadapan-Nya. Dan para pembenci luluh menjadi yang paling
memberi Cinta di pangkuan-Nya. Itu sebabnya dalam dakwah kamu harus berubah.
Move On.


