Jumat, 22 September 2017

Senjamu, Bukan Lagi Aku


Dari Ujung Pena, orang-orang bisa menyekat Senyuman untuk Menyapa.   

Seiris, dari perasaan Sedih yang kau Saji satu persatu baitnya oleh Kata.
Aku terbawa, seperti senyum ibu yang menyekat tangisku untuk menumpah Ruah.
Seperti  itu pula, orang-orang menyekat senyumku untuk menyapa.
Kau salah duanya, setelah satu diantaramu terciduk olehku.
Penyebab selalu, menyekatku untuk menjadi Biru yang teduh.
Sebab atasku, ragu mengukir tawa.
Waktu ke waktu, aku belajar memahami Detik denganmu.
Merasa, aku hanya terasa.

Menjadi Debu, pada terik yang kau basuh secawan madu.
Manis, tapi lidahku menolak. Sia-sia....
Setiap pagi, siang, bahkan malam di Lima Hari Yang Kita Habiskan Bersama Rasa Sakit.
Aku terus belajar, memahami tentang kenapa aku harus bertemu dan dikenalkan denganmu, Oleh-Nya.  
Dan aku mulai bisa memahamimu, tentang apa yang kau saji, dan apa yang kau bawa sembunyi.

Kau tak pernah akan tau. Kadangkala, aku menemukan pelangi di genggamanku, lalu mendadak matahari mendarahi tubuhku.Semua ada, sejak aku harus mengenalmu dengan terpaksa. 
Berkali, bahkan kurasa aku lelah menuang ribuan liter soda. Yang membuatmu semakin lupa Arti dari perasaan dalam hatiku.
Menuangkanmu ketenangan, menyedia bahu atas lelahmu, dan nyanyian atas semua tidurmu.

 Aku.. Sejenak Lelah....

Bagian dari jatuh cinta, adalah bahagia yang ujungnya seperti tak ada. Dan Aku sudah jatuh cinta padamu.
Pada pertemuan, pada candaan, pada tepuk tangan dari decak kagum semasing kita.
Dan aku tidak bahagia..... dari jatuh Cinta ini.

Jangan banyak bertanya. Kadang Mendung menghampiri langit sore yang kukira sempurna senjanya. Kau adalah langit atas itu semua..
Beberapa kali, sudah sering ku urai,
Kau tak perlu lelah menebakku.  Jangan menaruh candu atas senyumku, atau bertanya banyak padaku.
Sebab, seperti apapun aku, kau tak akan pernah paham perasaan yang aku sampaikan.

Sudah dari Hati, tapi Detik menyatakan aku hanya untaian basi yang kau kemas dalam setiap obrolanmu.
Dan aku tak perlu memungut itu semua satu persatu, bait yang kau saji tanpa Hati.
Aku lelah, jangan Tanya pribadiku seperti apa.
Puisimu tak cukup layak melukisku, atau tak cukup tajam menebas lalang yang mulai ramai di sekitarku.
Senyumku tak atasmu, Atau kebodohan yang ku buat-buat, juga bukan untuk menyenangkanmu.
Kau tak akan pernah paham siapa au sebenarnya, jadi berhentilah atasku. semua ini sia-sia. Memerhati setiapku yang memang kau tak harus tau.

Sekarang, kau harus banyak paham.
Aku bukan pagimu, yang bisa kau dera sejuk setiap waktu.
Aku buat siangmu, yang debunya bisa kau basuh madu di tengah terik itu.
Aku bukan malammu, yang bisa kau atur gelapnya memarau sendu.

Aku adalah hujan dari segala arah, atas hatimu.
Yang mengeras dari kutub yang jauh dari prasangkamu.

Kau menilai senyum dan kebodohan adalah pemandangan dariku.
Tapi bagian itu semua hanya ku buat, untuk mengemas siapa kau sebenarnya.
 Penikmat Teh hangatku? Atau hanya pemesan, yang pergi setelah pesanan selesai untuk di hidangkan.

Jika kau Tanya warna, aku bisa menjadi apa saja. Tanpa harus kau tau sepenuhnya.
Warna ketegasan, kesejukan, keceriaan, dan Cinta.
Aku ada di antaranya.
Maka jangan memesan secangkir teh hangat lagi padaku.
Sebab aku sudah mendingin, sejak aku harus mengenalmu secara terpaksa.
Kau tidak akan menemui warna yang dulu padaku.
Pada Bias Senja, langit memudarkan warna itu dalam satu titik. Memecah, lalu menyatukan perasaanku dalam satu bait.



Senjamu, bukan lagi aku.