Menghabiskan Sedetik, bisa jadi terasa berminggu-minggu. Atau bisa jadi juga berlalu dengan begitu
damai.
Kepada Hati seorang yang cemas, Sunyi, menunggu, atau Jauh dari
sesuatu yang berharga.
Kepada Hati seorang yang Tenang, memeluk Manis Waktu, dan memahami
Keadaan yang ada.
Menghabiskan Sedetik, bisa jadi terasa berminggu-minggu. Atau bisa
jadi juga berlalu dengan begitu damai.
Kepada Hati Seorang Pemuda yang menunggu Cemas teman Hidup di Ruang
Tunggu.. Menanti Buah Hati tersenyum menyapa Dunia baru. Melengkapi Lukisan
Keluarga yang semakin meramai.
Kepada Hati Seorang Anak Desa yang berlari kesana kemari penuh
Tawa. Berjalan mengejar Taqwa di bawah Atap-atap Mushala. Atap Dakwah. Atap
yang di bawahnya di Naungi banyak Cinta dari Illahi. Di Saji dengan Cita rasa
yang Tinggi. Yang Ujung ke Ujung setiap sudutnya di Jamahi Do’a Para Malaikat.
Yang nama-nama mereka menggema di Arasy, di sebut Jutaan Penduduk Langit dan
bumi.
Menghabiskan Sedetik, bisa jadi terasa berminggu-minggu. Atau bisa
jadi juga berlalu dengan begitu damai.
Kepada Hati Seorang Ayah, yang setia memeluk Semangat, senantiasa
Gagah meski Mata dunia menyengat, menjadi sandaran Hati di segala situasi.
Seorang yang menghabiskan Hidupnya dengan penuh Cinta.
Kepada Hati seorang Ibu, yang malamnya menjadi Siang, atau siangnya
menjadi malam. Yang setiap waktunya adalah perhatian, yang bila di makna begitu
banyak Cinta di sana. Semuanya, bagai Mendung yang tak mau lepas dari hujan,
atau Pelangi yang tak mau lepas dari setiap warna.
Menghabiskan Sedetik, bisa jadi terasa berminggu-minggu. Atau bisa
jadi juga berlalu dengan begitu damai.
Kepada Hatiku, Seorang yang menjadikan Lelaki dalam
dirinya Penuh Rasa.
Sehingga sedetik, Bisa jadi waktu yang panjang, penuh Arti, dan memberi Biasan warna yang indah.
Sehingga sedetik, Bisa jadi waktu yang panjang, penuh Arti, dan memberi Biasan warna yang indah.
Kepada Hatimu, Seorang yang menjadikan dirinya pemerhati setiap Waktu. Tanpa batas, Sehingga sedetik, bisa jadi waktu yang cepat, ingin selalu kau tahan untuk tak beralu, memeluknya erat-erat, menatap Temanmu lekat-lekat.
Menghabiskan Sedetik, bisa jadi terasa berminggu-minggu. Atau bisa
jadi juga berlalu dengan begitu damai.
Kepada Hati yang Jauh, menyapa pagi sendiri. Membuat warna nya
sendiri, kemudian menyiramnya dengan Cuka untuk menjadikannya malam. Merusak warnanya
sendiri, untuk bisa memejamkan Mata, meski sebenarnya Hatinya harus Luka. Tapi begitulah
iya menamakannya Cinta, menahan Pedih untuk bisa menyapa pagi lagi.
Kepada Hati yang Dekat, yang orang-orang bilang itu bagian dari
Garis Nikmat, dekat dengan sesuatu yang terasa berharga. Sehingga Sedetik
terasa begitu cepat dan biasa-biasa saja. Karena setiap perpindahan jamnya, Ia
manis duduk menatap keberhargaan itu.
Kamu tau, mengapa menghabiskan Sedetik, bisa jadi terasa
berminggu-minggu.?
Semua karena ada Rindu, Sesuatu yang ada karenamu. Sesuatu yang melingkari Wajah Ibu
di mataku. Sesuatu yang membuat aku tidak bisa jauh darimu, dari Ibu, dari Teh
hangat milik Ibu, dari tanya-tanya ibu yang datangnya tiada berhenti, tidak
cukup sekali. Itu sebabnya kenapa sedetik bisa jadi terasa berminggu-minggu. Sebab
bila sudah CINTA, aku jadi terlalu. Bukankah kamu sendiri tau lelaki seperti
apa yang ada dalam diriku. Perasa yang ingin selalu di Rasa.
Semua karena Rindu, yang malam menjadi hilang gelapnya. Sebab bila
sudah bertemu, keberhargaan memberi Harapan yang terang. Aku, Ibu, dan Kamu.
Juga Teh Hangat Milik Ibu. Adalah Kebenaran dimana aku dilahirkan bersama
semuanya. Di besarkan meski banyak Rintangan, tapi beginilah.. pada akhirnya
aku bisa menulis semuanya. Meski tidak di untuk di baca olehmu.
Sebagai seorang yang memerhati, seorang yang mencari Solusi atasku,
seorang yang menjamah kataku, membalutnya kedegup jantungmu, membawa pagiku
untuk kau miliki sendiri.
Sebagai seorang yang banyak bertanya, cerita dari pagi ke pagi,
Seorang yang menebar senyuman saat berpapasan, seorang yang waktunya selalu ada
Rindu yang di habiskan.
Berhentilah mengikutiku, mencandui setiap yang kau nilai Lucu. Berjalanlah,
buat kisahmu sendiri. karena kita bukan apa-apa, dan aku menjaga agar tak ada
apa-apa. Memerhati memang kau nikmati, tapi menahan Hati bukan perkara mudah. Bila jauh sedetik saja,
aku serasa menghabiskan waktu berminggu-minggu. Jadi jangan memaksaku untuk
memerhatimu juga, Aku punya jalan juga.
Jalan yang ku tutup rapat-rapat. Karena bila berdua, aku belum siap membukanya.
Jalan yang ku tutup rapat-rapat. Karena bila berdua, aku belum siap membukanya.
Buat kisahmu sendiri, atas Rindu Ibu yang menemani kita pada setiap
malam, pada mimpi yang kau anyam menjadi nyata. Atas Rindu ibu, kau suap setiap
waktu, bertubi-tubi. Menjadikan mu tetap tersenyum untuk setiap hari.
Berhentilah, menjadi aku. Atau menjadi pecandu atas Hatiku.
Perasa, tapi bukan berarti aku ngin selalu au Rasa. Menjadi Rasamu
sesuai dengan yang mau.
Buat kisahmu sendiri, karena kita memang punya Cerita sendiri.
Jangan mengeluh lagi padaku, aku juga lelah. Tapi bukan kau yang
jadi Arah.
Sebab ada hal lain yang paling indah untuk Menghabiskan Sedetik. Adalah
aku, menatap Ibu. Setiap waktu. Membersamai Pagi yang sudah-Ku hiasi dengan
malam yang penuh Mimpi.
Akulah Seorang yang lelaki dalam Dirinya Penuh Hati. Karena Memahami memberi Kesan yang berbeda untuk
setiap Rasa.. itu sebabnya kenapa menjadi seorang perasa, membuatku tetap ada. Karena
di antaranya lagi-lagi. Ada Aku, Ibu, dan
Kamu. Juga Teh Hangat Milik Ibu.
Jadi kalau kamu bertanya untuk yang terakhir, Kenapa menghabiskan
sedetik itu bisa terasa berminggu-minggu?
Karena menjadi Seorang Perasa, akan memiliki banyak Cinta, Banyak Cerita.
-Semua karena Rindu, Karena Ibu.
Kamu Rindu kan?
dan Rindu ini Curang, selalu bertambah tanpa tahu bagaimana caranya agar berkurang.
Kamu Rindu kan?
dan Rindu ini Curang, selalu bertambah tanpa tahu bagaimana caranya agar berkurang.

