Jumat, 21 Juli 2017

Karena Rindu.. Kan?

Menghabiskan Sedetik, bisa jadi terasa berminggu-minggu.  Atau bisa jadi juga berlalu dengan begitu damai. 


Kepada Hati seorang yang cemas, Sunyi, menunggu, atau Jauh dari sesuatu yang berharga.
Kepada Hati seorang yang Tenang, memeluk Manis Waktu, dan memahami Keadaan yang ada.

Menghabiskan Sedetik, bisa jadi terasa berminggu-minggu. Atau bisa jadi juga berlalu dengan begitu damai.

Kepada Hati Seorang Pemuda yang menunggu Cemas teman Hidup di Ruang Tunggu.. Menanti Buah Hati tersenyum menyapa Dunia baru. Melengkapi Lukisan Keluarga yang semakin meramai.

Kepada Hati Seorang Anak Desa yang berlari kesana kemari penuh Tawa. Berjalan mengejar Taqwa di bawah Atap-atap Mushala. Atap Dakwah. Atap yang di bawahnya di Naungi banyak Cinta dari Illahi. Di Saji dengan Cita rasa yang Tinggi. Yang Ujung ke Ujung setiap sudutnya di Jamahi Do’a Para Malaikat. Yang nama-nama mereka menggema di Arasy, di sebut Jutaan Penduduk Langit dan bumi.

Menghabiskan Sedetik, bisa jadi terasa berminggu-minggu. Atau bisa jadi juga berlalu dengan begitu damai.

Kepada Hati Seorang Ayah, yang setia memeluk Semangat, senantiasa Gagah meski Mata dunia menyengat, menjadi sandaran Hati di segala situasi. Seorang yang menghabiskan Hidupnya dengan penuh Cinta.

Kepada Hati seorang Ibu, yang malamnya menjadi Siang, atau siangnya menjadi malam. Yang setiap waktunya adalah perhatian, yang bila di makna begitu banyak Cinta di sana. Semuanya, bagai Mendung yang tak mau lepas dari hujan, atau Pelangi yang tak mau lepas dari setiap warna.

Menghabiskan Sedetik, bisa jadi terasa berminggu-minggu. Atau bisa jadi juga berlalu dengan begitu damai.

Kepada Hatiku, Seorang yang menjadikan Lelaki dalam dirinya Penuh Rasa.
Sehingga sedetik, Bisa jadi waktu yang panjang, penuh Arti, dan memberi Biasan warna yang indah.

Kepada Hatimu, Seorang yang menjadikan dirinya pemerhati setiap Waktu. Tanpa batas, Sehingga sedetik, bisa jadi waktu yang cepat, ingin selalu kau tahan untuk tak beralu, memeluknya erat-erat, menatap Temanmu lekat-lekat.

Menghabiskan Sedetik, bisa jadi terasa berminggu-minggu. Atau bisa jadi juga berlalu dengan begitu damai.

Kepada Hati yang Jauh, menyapa pagi sendiri. Membuat warna nya sendiri, kemudian menyiramnya dengan Cuka untuk menjadikannya malam. Merusak warnanya sendiri, untuk bisa memejamkan Mata, meski sebenarnya Hatinya harus Luka. Tapi begitulah iya menamakannya Cinta, menahan Pedih untuk bisa menyapa pagi lagi.

Kepada Hati yang Dekat, yang orang-orang bilang itu bagian dari Garis Nikmat, dekat dengan sesuatu yang terasa berharga. Sehingga Sedetik terasa begitu cepat dan biasa-biasa saja. Karena setiap perpindahan jamnya, Ia manis duduk menatap keberhargaan itu.

Kamu tau, mengapa menghabiskan Sedetik, bisa jadi terasa berminggu-minggu.?

Semua karena ada Rindu, Sesuatu yang ada  karenamu. Sesuatu yang melingkari Wajah Ibu di mataku. Sesuatu yang membuat aku tidak bisa jauh darimu, dari Ibu, dari Teh hangat milik Ibu, dari tanya-tanya ibu yang datangnya tiada berhenti, tidak cukup sekali. Itu sebabnya kenapa sedetik bisa jadi terasa berminggu-minggu. Sebab bila sudah CINTA, aku jadi terlalu. Bukankah kamu sendiri tau lelaki seperti apa yang ada dalam diriku. Perasa yang ingin selalu di Rasa.

Semua karena Rindu, yang malam menjadi hilang gelapnya. Sebab bila sudah bertemu, keberhargaan memberi Harapan yang terang. Aku, Ibu, dan Kamu. Juga Teh Hangat Milik Ibu. Adalah Kebenaran dimana aku dilahirkan bersama semuanya. Di besarkan meski banyak Rintangan, tapi beginilah.. pada akhirnya aku bisa menulis semuanya. Meski tidak di untuk di baca olehmu.

Sebagai seorang yang memerhati, seorang yang mencari Solusi atasku, seorang yang menjamah kataku, membalutnya kedegup jantungmu, membawa pagiku untuk kau miliki sendiri.
Sebagai seorang yang banyak bertanya, cerita dari pagi ke pagi, Seorang yang menebar senyuman saat berpapasan, seorang yang waktunya selalu ada Rindu yang di habiskan.

Berhentilah mengikutiku, mencandui setiap yang kau nilai Lucu. Berjalanlah, buat kisahmu sendiri. karena kita bukan apa-apa, dan aku menjaga agar tak ada apa-apa. Memerhati memang kau nikmati, tapi menahan Hati  bukan perkara mudah. Bila jauh sedetik saja, aku serasa menghabiskan waktu berminggu-minggu. Jadi jangan memaksaku untuk memerhatimu juga, Aku punya jalan juga.
Jalan yang ku tutup rapat-rapat. Karena bila berdua, aku belum siap membukanya.

Buat kisahmu sendiri, atas Rindu Ibu yang menemani kita pada setiap malam, pada mimpi yang kau anyam menjadi nyata. Atas Rindu ibu, kau suap setiap waktu, bertubi-tubi. Menjadikan mu tetap tersenyum untuk setiap hari.

Berhentilah, menjadi aku. Atau menjadi pecandu atas Hatiku.
Perasa, tapi bukan berarti aku ngin selalu au Rasa. Menjadi Rasamu sesuai dengan yang mau.
Buat kisahmu sendiri, karena kita memang punya Cerita sendiri.
Jangan mengeluh lagi padaku, aku juga lelah. Tapi bukan kau yang jadi Arah.
Sebab ada hal lain yang paling indah untuk Menghabiskan Sedetik. Adalah aku, menatap Ibu. Setiap waktu. Membersamai Pagi yang sudah-Ku hiasi dengan malam yang penuh Mimpi.

Akulah Seorang yang lelaki dalam Dirinya Penuh Hati. Karena Memahami memberi Kesan yang berbeda untuk setiap Rasa.. itu sebabnya kenapa menjadi seorang perasa, membuatku tetap ada. Karena di antaranya lagi-lagi.  Ada Aku, Ibu, dan Kamu. Juga Teh Hangat Milik Ibu.
Jadi kalau kamu bertanya untuk yang terakhir, Kenapa menghabiskan sedetik itu bisa terasa berminggu-minggu?

Karena menjadi Seorang Perasa, akan memiliki banyak Cinta, Banyak Cerita.
-Semua karena Rindu, Karena Ibu.
Kamu Rindu kan?
dan Rindu ini Curang, selalu bertambah tanpa tahu bagaimana caranya agar berkurang.

Rabu, 19 Juli 2017

Lima Hari yang kita habiskan bersama Rasa Sakit


Lima Hari yang kita habiskan bersama Rasa Sakit

Matahari membias, di mataku. Atau bisa jadi juga sama denganmu.
memberi cerita baru pada tiap pagi yang kita sambut, semasingnya dengan rasa.
Aku tersenyum di sini, ada hati yang mungkin menangis atas Syukur masih menatap Waktu untuk Menghamba lagi.
Kamu, seorang di sana. Entah juga sama. Maka semoga tak berubah setiap waktunya. Karena syukur bagian dari bagaimana kita berterima kasih kepada-Nya.

Setiap waktu, betapa banyak detik yang kita habiskan bersama. Betapa banyak Suasana yang kita Rasa. Pernah se-Atap membina Taqwa, pun Segelas menikmati seteguk Ukhuwah.
Kamu memberiku banyak arti. Di antaranya tentang indahnya kita berjalan berdua dengan-Nya.
Menguat atas-Nya meski Dunia membenci sekalipun. Tak mengapa bukan, Biarlah di dunia kita lelah, terluka, atau terhina sekalipun. Asal ada –Dia yang membersamai itu sudah Cukup.. Karena pada akhirnya, dunia ini hanya Ujian  yang kita singgahi sebentar. Nikmatnya sesaat, seujung lidah mengecap, atau sekilas mata memandang. Benar Bukan?

Kamu, Seorang di sana yang Menaruh sekeping Rindu dalam Hatiku. Setelah sepersekian waktu kita bersama. Aku banyak bercerita, begitu juga denganmu. Membenarkan apa-apa yang ku katakan. Entah berapa karakter kata yang hadir, kamu memerhatiku setiap baitnya. Begitulah,  aku tertular menjadi seorang yang pemerhati.
Lima hari yang kita habiskan bersama Rasa sakit..
Adalah dimana aku merasa waktu denganmu kian akan habis. Kamu yang bicara hanya lewat senyuman. Meng-Iyakan apa yang aku pertanyakan, membuat aku semakin menaruh penasaran untuk banyak bertanya. Tapi lagi-lagi, jawabanmu hanya senyuman. Berkali-kali ku coba menghidupkan suasana, mengajakmu bicara empat mata, atau membalas senyummu dengan garis yang aku bisa.

Kamu, seorang di sana yang bagiku keberadaannya menjadi bagian dari perjalanan hidup. Terus terang, aku menaruh perasaan yang membuatku banyak berdoa. Seumpama Pengawal yang senantiasa mendampingi Tuan putri.
Duh, kamu mungkin bisa jadi Tuan Putri sekarang ini. Meski keadaannya tak sama, tak bisa di paksakan. Tapi memang kamu bagai Tuan Putri yang aku ingin selalu membersamai.

Lima hari yang kita habiskan bersama Rasa sakit..
Adalah sesuatu yang di dalamnya terdapat detik yang aku merasa setiap geraknya berharga, setiap sudutnya, melihatmu lekat-lekat. Lima hari yang kita habiskan bersama rasa sakit. Itulah perasaanku saudaraku.
Aku suka semua Wajah-wajah yang kau lukis di sana, setiap sudutnya, setiap waktu
Tapi ada isyarat yang tak bisa ku ucap. Hanya Doa, itu saja.
Bulan ini istimewa, aku di dua Puluhkan Bersama-Nya. Itu momentum yang indah bukan?
Seperti menatap Bias senja diatas temaram laut, atau lampu-lampu Kota yang buram karena Efek kamera.
Semua itu Meneduhkanku, untukku.

 
Di Sepuluh malam terakhir ini,
Sempat Ku katakan juga padamu.
Aku ingin kita senantiasa menguat karena-Nya.
Dan Akhirnya, Hujan membersamaiku setelah Senyummu menjawab ucapanku yang kian berganti.
Kehilangan, entahlah..
Judulnya, aku merasa lagi. Kehilangan sesuatu yang sejatinya tidak aku miliki. Tuhan mungkin sudah selesai meng-Amanahkanku untuk mengenal mu.. –Dia sudah cukup menitipkanmu untuk aku bersamamu, menjadi seoramg yang ada bersamamu.
Kamu tau?
Bagiku, bisa jadi kita di pertemukan dengan orang lain, di pertemankan dengannya, adalah amanah dari –Dia bahwa ada sesuatu yang harus kita jaga.
Cukup dalam angka Lima yang menjawab semuanya. Lima tahun mengenalmu, juga lima hari yang kuhabiskan bersamamu dengan Rasa sakit.
sakit yang aku nikmati setiap detiknya, mengkhawatirkanmu, mencemaskanmu, menemanimu lewat doa. Sebab kamu sudah sulit untuk bicara, hanya senyum. Itu saja.

Lima hari yang Kita habiskan bersama Rasa sakit. Sakit yang menghapus dosa-dosamu, semoga juga denganku..
Tuan Putri, Seorang yang membersamai. Gugurnya kamu di jalan dakwah, adalah jawaban bahwa seorang yang berjuang karena-Nya, akan datang kepada-Nya dalam keadaan yang Indah.

Lima hari yang kita habiskan bersama Rasa sakit. Maka aku mengambil Cintamu dari atas langit, dan menyebarkannya di muka bumi.
Lalu ku abadikan semuanya, Mengenalmu untuk mencintainya.
Meski aku bernoda, pahit, tak semanis Kue Raya buatan Ibu. Tapi  aku selalu berusaha menjadi baik untukmu. Meski tak sesempurnamu yang Terjaga saat ini.
Seorang yang bagai Tuan Putriku,