Tentang
Hujan, kita sama-sama tau.. Bahwa ia, adalah sebuah hadiah dari –Dia yang
membawa banyak lapis-lapis keberkahan. Adalah ketika tetesan sejuk dari
celah-celah Langit yang jatuh menghampiri permukaan bumi. Menciptakan Rinai
yang iramanya seolah menjadi sarana meditasi. Pun adalah sebuah waktu, dimana
Jemari selalu tersusun Rapi. Adalah waktu dimana Lisan Mengucap Dzikir Illahi.
Waktu di mana Do’a bermuara pada pengabulan dari-Nya. Waktu mustajab, bagi anak
Adam dan Hawa merepal pinta. Adalah sesuatu yang terbilang Nikmat. Karena dalam
Hujan, ada banyak Hikmah, ada banyak berkah, ada banyak Cinta, Rindu dari-Nya
yang tidak bisa terjelaskan satu persatu pastinya. Mungkin juga Adalah tentang
Aku, sesuatu yang tidak perlu aku jelaskan di sini. Pun sesuatu yang di
jelaskan di luar waktunya, atau tidak pada waktunya, bagiku tidak berarti apa-apa..
hanya sekedar ucapan biasa yang menghiasi telinga saja. Eh’
Tentang
panas terik, kita tidak perlu banyak bercerita tentangnya. Tak perlu
menyerapah, atau mengeluh. Karena bagaimanapun, panas itu juga Nikmat. Kau tau?
Di luar sana ada Buruh kilang padi,yang sedang begitu mesra membalikkan
bulir-bulir padi di tengah panas ini. Yang berharap ia tetap terjaga agar cepat
sempurna hamparan padi di atas jemuran lapang itu, yang di sisi lain panas itu malah kita
serapah. Menganggap ia hanya sesuatu yang membuat kita Gerah. Membuat Hati ikut
panas tak terarah. Maka di sini ku katakan, bahwa bagi yang lain itu adalah
nikmat. Benar bukan? Jika kita mau berbaik sangka atas semua yang ada di Muka
Bumi, dan di bawah Payung-payung Langit. Yang –Dia berikan, bahwa semua tidak
ada yang sia-sia. Untuk itu kita tak perlu membahas terlalu banyak masalah
Nikmat dan permberian dari-Nya. Karena yang ku takutkan kita malah Kufur, bila
menilai-nilai terlalu banyak Semua yang sudah –Dia berikan. Padahal entah baru
seberapa Nilai Ibadah yang hari ini kita lakukan untuk mendapat Ridha-Nya, atau
membalas Nikmat yang –Dia berikan. Yang pastinya tiada Cukup, untuk membayar
setiap Keberkahan, dan Semua yang –Dia berikan. Tentang Nafas yang masih bisa
kita Nikmati percuma, tentang Sehat, dan tentang Lainnya yang lagi-lagi tak
tersebutkanku di sini. Untuk itu, kita wajib malu pada-Nya bukan?
Tentang
Hujan dan Panas Terik, Bagiku adalah Dua keadaan dimana kita mungkin akan
terlihat berbeda. Atau akan selalu sama. Bagiku, itu adalah dua keadaan dimana hanya
Orang-orang tertentu saja yang akan memahami tentang betapa Indahnya mereka. Tentang
betapa manisnya memahami Keduanya. Tentang betapa Rindu-Nya jika mampu
mensyukuri-Nya. Seperti Tuan Putri dalam Hujan, yang Lidahnya tiada Habis
berdzikir, mengimbangi Rinai Air dari celah-celah langit yang mengudara jatuh
ke Bumi. Atau tentang Buruh dalam terik, yang Rasa sengatnya hanya seolah
menggelitik, tempatnya biasa bermain mencari nafkah keluarga. Bahwa Terik,
adalah teman dalam Senyuman di waktu Sang, atau kenangan mata di waktu malam
mendatang. Ah.. Yang pasti Dua keadaan ini istimewa, dimana mungkin saja bisa
ada pada satu waktu.
Karena
di sudut dan belahan Bumi manapun. Dua itu adalah sesuatu yang spesial, sesuatu
yang Manis, Sesuatu yang kau harus tau. Bahwa Dua itu adalah Keindahan tanpa
Judul. Tapi bila boleh menaruh judulnya sendiri, aku ingin Menamainya “Dua karena
Dia”.
Bisa
jadi Dua itu adalah kita, Dua dalam Satu (Dia). Manis bukan.?
Atau
semisal dua yang lainnya..
Mungkin
di waktu yang lain, pernah ku katakan. Tentang Romantisnya Gesekan sepasang
Sendal pria berkoko Cokelat, yang melangkah beriringan menuju Mesjid. Yang
tidak terhalang, meski Kadang ada duri, atau Deras dan tingginya genangan
Hujan. Tapi Yang teryakini bahwa di lain waktu Ia akan menemui sesuatu
yang Indah.
Tentang
Dua Roda yang berjalan, tapi saling kejar-mengejar dalam jarak yang terjaga.
Atau tentang Dua-Dua yang lainnya. Yang lagi-lagi, bagiku tak habis jika ku uraikan panjang lebar di sini. Dua dalam Satu. Yang mungkin bisa jadi, akan ada Dua dalam satu wadah, waktu, atau semacamnya. Atau bisa juga, Dua karena –Dia yang Satu. Tapi, apapun itu. Kau pasti paham yang ku maksudkan Bukan?
Atau tentang Dua-Dua yang lainnya. Yang lagi-lagi, bagiku tak habis jika ku uraikan panjang lebar di sini. Dua dalam Satu. Yang mungkin bisa jadi, akan ada Dua dalam satu wadah, waktu, atau semacamnya. Atau bisa juga, Dua karena –Dia yang Satu. Tapi, apapun itu. Kau pasti paham yang ku maksudkan Bukan?
Karena
Bagaimanapun Keadaannya, Dua itu tetap Sepasang. Sesuatu yang membuat Hati kita
tersenyum Senang. Iyakan?
Seorang yang Rindu,
Di bawah atap Ponsel, Tepi Rel.
Di bawah atap Ponsel, Tepi Rel.
Agung,
