Selasa, 06 Februari 2018

Sisa waktu



   Tiap kali ku lihat dinding kamar. Ku terka-terka jemariku mengukurnya. Melayang-layang kurasa.
Meletakkan sudut pada ujung jariku, dari jauh. Tapi Dekat di mata. Ku saksi dengan jeli. Dinding menatapku juga. Tak bersuara. Tapi dengan asik memanggilku, candu menjadi bubuk kopi penenang mataku. Mengukurnya. Kurayu dalam diam tengah malam.
Pelan-pelan, tersadari. Aku adalah sepasang dari mata yang memerhatimu dari sini. Kian hari langkahku di bumikan oleh Rindu. Lalu langit menjadi terlukis oleh senyummu.  Tapi, Aku terhijab awan menyaksinya. Belum tepat waktu. Kulanjutkan menelusur hari-hari yang di tuang semangat berjuang. Disana ada do’a Ibu, kemudian ada siapa saja yang menjadikanku berarti. Naruto mengatakan, “Aku ingin di Akui”. Dan begitupun denganku. Aku merasa di Akui.  Kau ada di antara orang-orang pengaku itu. Aku terkuatkan. Beberapa hari karenamu. Tentu Ibu adalah hal yang amat penting disana. Dan aku bertahan sampai detik ini.
            Menjadi tak egois katanya, Ku biarkan rasa terjaga dalam diriku. Pendoa yang selalu setia pada sepertiga malam, fajar, dan sore yang menyenja. Bila bukan karena-Nya, nyaris aku kehilangan cara untuk membawa ini semua. Bukan berat, tapi karena aku terlalu menikmatinya tiap kali ku seduh dalam secawan Teh hangat di teras rumah. Aku menjadi sering lena, kalau terus-terusan ku teguk semua tentangmu. Ini tak baik. Maka Ku jaga ini semua pada-Nya. Dia saja yang memegang kendaliku. Termasuk mengatakan bahwa Aku Mulai Mencintaimu.
Dan menjadi tak berdosa bukan? Ku biarkan kamu tak tau semua ini. Ku biarkan kamu tak menungguku. Ku biarkan kamu terjaga. Terjaga untuk terus membaik pada perjuanganmu. Meski aku pernah tak sehat, sebab rinai hujan melukis senyummu di balik tirai jendela kamarku. Disana ku sapa, tapi derasnya membuatku terlelap. Dan aku pun tak sadarkan diri.
            Sesekali Aku menjelma menjadi kabut pada pagi. Tak ada yang bisa kulihat, selain putih yang pekat menutup mata. Melayang. Lagi-lagi kurasa seperti kosong. Kamu dimana? Ku tanya dinding kamar. Tapi bukan dengan lirih ku eja. Jemariku kusaja yang mengisyarat. Mensibi. Ia menari bagai dua merpati di taman-taman yang pernah ku temui pada alam mimpi. Ku tanya dinding kamar. Tapi bukan jawab yang menggema, hanya diam membelalakku dari sisi mana saja. Ku pejamkan mata. Menyerah sejenak dari tatap tajam mereka. Senyummu berbinar di ujung lelahku. Tapi dengan tega ku tutupi dengan awan. Tak sehat bila ku biarkan. Belum waktunya ku jamah sesuatu atas dirimu. Sekalipun itu senyum yang ringan.
            Di sisa waktu, ku jelaskan tentang dinding dan sepasang mata pemerhati pada diriku. Ketika kamu baca ini, maka di akhirnya adalah ujung dari keluhnya aku mengatakan.
“Aku ingin berdua denganmu lebih lama. Menghalalkanmu.”
Maka aku ingin kamu melangitkan Al-Fatiha untukku. Atas nama Ruh dan jasadku. Namaku jelas tertera kan? Bisa jadi, kamu akan bertanya pada orang-orang terdekatku. Siapa aku. Bertanyalah.

           Disisa waktu, maka ku urai bahwa kamulah dinding yang ku perhati dari kejauhan. Sebuah bentuk dari kekuatan yang Allah saji untuk aku bertahan. Setiap ruas dari jemari yang ku ajak mengukur tentangmu adalah temanku bercerita. Aku senang memerhatimu. Membaca semua kesukaanmu. Kesibukan yang kamu habiskan dari waktu ke waktu. Setiap ruas dari jemari yang ku bawa mengukur semua tentangmu adalah temanku bertanya. Kamu kah temanku berjuang di masa depan. Kamukah sosok dari Cinta yang aku miliki. Kamukah genap dari sendiri yang kuhabiskan menata diri. Kamukah tuan putri seorang kelana sepertiku. Kamukah penenang atas resahku. Kamukah teman penguat kala lemahku. Kamukah ibu dari anak-anakku. Kamukah pembenar tajwid kala ku baca firmannya. Kamukah pengingatku kala lupa bila ku ulang hafalanku. Kamukah penyaji senyum dan sarapan untukku tiap pagi selepas subuh. Dan dari itu semua. Maka layakkah aku menjadi seorang yang berada di sebelahmu. Atau layakkah aku menjadi seorang senantiasa menujumu.
            Maka di sisa waktu, ku sampaikan. Bahwa aku pernah sejauh ini berpikir tentangmu. Meskipun kamu entah sedang apa. Dimana. Dan bahkan aku tak tahu siapa namamu. Tapi jauh hari, detik sebelum sisa waktuku. Aku sudah mempersiapkan yang terbaik untukmu. Aku telah mempersiapkan janji atas diriku. Bahwa aku Akan Mencintaimu karena-Nya. Di sisa waktu. Kamulah penguat atas ku.. Tuan Putri.
  
Maaf. Aku Mencintaimu Di Sisa Waktu..