Tiap
kali ku lihat dinding kamar. Ku terka-terka jemariku mengukurnya.
Melayang-layang kurasa.
Meletakkan
sudut pada ujung jariku, dari jauh. Tapi Dekat di mata. Ku saksi dengan jeli.
Dinding menatapku juga. Tak bersuara. Tapi dengan asik memanggilku, candu
menjadi bubuk kopi penenang mataku. Mengukurnya. Kurayu dalam diam tengah
malam.
Pelan-pelan,
tersadari. Aku adalah sepasang dari mata yang memerhatimu dari sini. Kian hari
langkahku di bumikan oleh Rindu. Lalu langit menjadi terlukis oleh senyummu. Tapi, Aku terhijab awan menyaksinya. Belum
tepat waktu. Kulanjutkan menelusur hari-hari yang di tuang semangat berjuang.
Disana ada do’a Ibu, kemudian ada siapa saja yang menjadikanku berarti. Naruto
mengatakan, “Aku ingin di Akui”. Dan begitupun denganku. Aku merasa di Akui. Kau ada di antara orang-orang pengaku itu.
Aku terkuatkan. Beberapa hari karenamu. Tentu Ibu adalah hal yang amat penting
disana. Dan aku bertahan sampai detik ini.
Menjadi tak egois katanya, Ku biarkan rasa terjaga dalam diriku.
Pendoa yang selalu setia pada sepertiga malam, fajar, dan sore yang menyenja.
Bila bukan karena-Nya, nyaris aku kehilangan cara untuk membawa ini semua.
Bukan berat, tapi karena aku terlalu menikmatinya tiap kali ku seduh dalam
secawan Teh hangat di teras rumah. Aku menjadi sering lena, kalau terus-terusan
ku teguk semua tentangmu. Ini tak baik. Maka Ku jaga ini semua pada-Nya. Dia
saja yang memegang kendaliku. Termasuk mengatakan bahwa Aku Mulai Mencintaimu.
Dan
menjadi tak berdosa bukan? Ku biarkan kamu tak tau semua ini. Ku biarkan kamu
tak menungguku. Ku biarkan kamu terjaga. Terjaga untuk terus membaik pada
perjuanganmu. Meski aku pernah tak sehat, sebab rinai hujan melukis senyummu di
balik tirai jendela kamarku. Disana ku sapa, tapi derasnya membuatku terlelap.
Dan aku pun tak sadarkan diri.
Sesekali Aku menjelma menjadi kabut pada pagi. Tak ada
yang bisa kulihat, selain putih yang pekat menutup mata. Melayang. Lagi-lagi
kurasa seperti kosong. Kamu dimana? Ku tanya dinding kamar. Tapi bukan dengan
lirih ku eja. Jemariku kusaja yang mengisyarat. Mensibi. Ia menari bagai dua
merpati di taman-taman yang pernah ku temui pada alam mimpi. Ku tanya dinding
kamar. Tapi bukan jawab yang menggema, hanya diam membelalakku dari sisi mana
saja. Ku pejamkan mata. Menyerah sejenak dari tatap tajam mereka. Senyummu berbinar
di ujung lelahku. Tapi dengan tega ku tutupi dengan awan. Tak sehat bila ku biarkan.
Belum waktunya ku jamah sesuatu atas dirimu. Sekalipun itu senyum yang ringan.
Di sisa waktu, ku jelaskan tentang dinding dan sepasang
mata pemerhati pada diriku. Ketika kamu baca ini, maka di akhirnya adalah ujung
dari keluhnya aku mengatakan.
“Aku
ingin berdua denganmu lebih lama. Menghalalkanmu.”
Maka aku ingin kamu
melangitkan Al-Fatiha untukku. Atas nama Ruh dan jasadku. Namaku jelas tertera
kan? Bisa jadi, kamu akan bertanya pada orang-orang terdekatku. Siapa aku. Bertanyalah.
Maka di sisa waktu, ku sampaikan. Bahwa aku pernah sejauh
ini berpikir tentangmu. Meskipun kamu entah sedang apa. Dimana. Dan bahkan aku
tak tahu siapa namamu. Tapi jauh hari, detik sebelum sisa waktuku. Aku sudah
mempersiapkan yang terbaik untukmu. Aku telah mempersiapkan janji atas diriku. Bahwa
aku Akan Mencintaimu karena-Nya. Di sisa waktu. Kamulah penguat atas ku.. Tuan
Putri.
Maaf. Aku Mencintaimu Di Sisa Waktu..

